10 Cara Mengurangi Risiko Depresi di Era Digital 

Tips mengurangi risiko depresi

10 Cara Mengurangi Risiko Depresi di Era Digital. Depresi adalah kondisi kesehatan mental umum yang mempengaruhi banyak orang di dunia dan merupakan faktor risiko yang signifikan untuk bunuh diri, penyebab utama kematian pada orang dewasa muda.

Gaya hidup saat ini, dengan alat dan teknologi yang canggih, nampaknya ikut memberi efek samping pada kesehatan mental. Perkiraannya, angka depresi akan semakin tinggi dengan semakin tingginya gaya hidup.

Depresi menimbulkan risiko penyakit kardiovaskular pada pria yang sama besarnya dengan yang ditimbulkan oleh kadar kolesterol tinggi dan obesitas. Ini menurut sebuah laporan yang baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal Atherosclerosis oleh para peneliti dari Helmholtz Zentrum München, bersama dengan rekan-rekan dari Universitas Teknik Munich (TUM) dan Pusat Penyakit Kardiovaskular Jerman (DZHK).

Menurut sebuah studi lainnya. Peneliti menemukan bahwa, pada orang yang terserang stroke, gejala depresi mendahului serangan stroke dan semakin memburuk setelah stroke. penelitian yang diterbitkan pada 13 Juli 2022, edisi online Neurology, jurnal medis Amerika.

Penyebab dan Ciri-ciri Depresi

Menurut blog.dearsenja.com Ada beberapa penyebab Depresi, antara lain, yaitu:

  • Faktor genetik atau faktor turun temurun. Artinya orang tua yang memiliki riwayat depresi lebih mungkin menurunkan kerentanan dan risiko depresi pada anak keturunannya
  • Pengaruh alkohol dan obat-obatan
  • Terkait masalah neuro, Traumatik, ketidak seimbangan Hormon atau fisik lainnya
  • Masalah sosial dan lingkungan

Dearsenja juga berpendapat bahwa depresi adalah tentang perspektif diri. Sehingga ciri-ciri gejalanya tidak hanya pada orang yang menutup dirinya, tapi bisa saja pada orang yang terlihat aktif, namun pada pikirannya, ada perspektif pada dirinya menganggap dirinya sebagai orang yang tidak berharga dan lain-lain.

Berikut ciri-ciri depresi menurut blog.dearsenja.com

  • Perasaan bersalah dan cemas dan pesimis
  • Kesedihan yang mendalam
  • Mudah marah dan kesal
  • Kehilangan minat dan semangat
  • Sulit berkonsentrasi
  • Adanya perubahan pada gaya hidup seperyi nafsu makan, pola tidur, hasrat seksual dan lainnya.
  • Menganggap diri tidak berharga dengan sering mengkritisi diri sendiri
  • Sering melakukan sesuatu secara terpaksa, tampak seperti bekerja terlalu keras atau lainnya.
  • Adanya keinginan untuk bunuh diri

Cara Mengurangi Risiko Depresi di Era Digital

Berikut beberapa cara hidup sederhana mengurangi risiko depresi diri di era digital, menurut penelitian yaitu: 

1. Bersosial 

Masalah utama yang kita hadapi di era digital adalah sedikitnya waktu bersosial, kita merasa cukup dengan alat yang kita punya untuk menemani hari-hari kita, Seakan kita tidak membutuhkan teman untuk tertawa atau berbagi pengalaman. Pengaaman layar sepertnya cukup mngtasi maalah kesendirian. 

Namun, harus kita akui, ada waktu di mana kita merasa jenuh, atau mendapatkan masalah yang tidak kita dapat dari bermain sendiri dan itu menjadi penyebab awal depresi. Menurut penelitian bersosial adalah cara memecah kebuntuan dalam diri seseorang dan menurunkan risiko dipresi. Bahkan bersosial bisa menjadi obat bag penderita Depresi. 

Menurut sebuah studi dari University of Queensland melakukan dua penelitian terhadap pasien yang didiagnosis dengan depresi atau kecemasan. Para pasien bergabung dengan kelompok komunitas dengan kegiatan seperti menjahit, yoga, olahraga dan seni, atau mengikuti terapi kelompok di rumah sakit jiwa.

Dalam kedua kasus, pasien yang menjawab pertanyaan survei yang tidak mengidentifikasi diri secara kuat dengan kelompok sosial memiliki kemungkinan 50 persen untuk melanjutkan depresi sebulan kemudian. Tetapi dari mereka yang mengembangkan hubungan yang lebih kuat dengan grup menurunkan tingkat depresi. Banyak pasien mengatakan kelompok itu membuat mereka merasa didukung karena semua orang “bersama-sama”.

“Kami dapat menemukan bukti yang jelas bahwa bergabung dengan kelompok, dan mengidentifikasi diri dengan mereka, dapat mengurangi depresi,” kata Haslam, anggota program Interaksi Sosial, Identitas & Kesejahteraan (SIIWB) CIFAR.

Para peneliti telah mengidentifikasi serangkaian faktor yang dapat dimodifikasi dari lebih dari 100 bidang yang dapat mewakili target berharga untuk mencegah depresi pada orang dewasa. Tim menyebut hubungan sosial sebagai faktor pelindung terkuat untuk depresi, dan menyarankan bahwa mengurangi aktivitas menetap seperti menonton TV dan tidur siang juga dapat membantu menurunkan risiko depresi.

Kesimpulan studi, Membangun hubungan yang kuat dengan kelompok sosial membantu pasien depresi klinis pulih dan membantu mencegah kekambuhan. 

Studi lain dari Rumah Sakit Umum Massachusetts (MGH) telah mengidentifikasi serangkaian faktor yang dapat dimodifikasi dari lebih dari 100 bidang yang dapat mewakili target berharga untuk mencegah depresi pada orang dewasa. Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam The American Journal of Psychiatry tersebut, tim menyebut hubungan sosial sebagai faktor pelindung terkuat untuk depresi, dan menyarankan bahwa mengurangi aktivitas menetap seperti menonton TV dan tidur siang juga dapat membantu menurunkan risiko depresi.

2. Ber-Moral baik

Depresi bisa amuncul karena sebab akibat dari perbuatan, ada istilah bahwa dihargai adalah hadiah dari menghargai dan dihormati merupakan buah dari mengormati. Sikap hidup yang baik, bersahaja dan melakukan hal baik membuat sesorang merasa lebih bahagia. 

Kata Novelist Hbiburrahman El-sirezy, Level kepuasan tertinggi dari seseorang adalah ketika ia dapat memberi kebaikan kepada orang lain. 

Dalam sebuah studi dari Universitas Chiang Mai, Thailand, yang terbit di jurnal PLOS ONE pada 30 November 2022. Sesorang yang mengamalkan ima sila Budhisme terkait moral yang baik dapat menurunkan risiko depresi. 

Lima sila Buddhis membimbing pengikutnya untuk tidak membunuh, mencuri, terlibat dalam perbuatan asusila, berbohong dengan niat buruk, atau menggunakan minuman keras.

Orang dengan tingkat neurotisme dan stres yang bisa disebabkan dari moral yang buruk berisiko lebih besar mengalami gejala depresi, tetapi hubungan itu dapat disangga oleh orang yang menjalankan lima sila dalam agama Buddha menurut studi tersebut.

Survei penelitian dari tahun 2019 hingga September 2022, terhadap 644 orang dewasa di Thailand, mencakup kuesioner standar untuk mengukur tingkat stres yang dirasakan, neurotisme, dan gejala depresi setiap peserta, serta kepatuhan mereka terhadap lima sila agama Buddha. Analisis statistik dari hasil survei menunjukkan bahwa mengamati lima sila dengan tingkat tinggi tampaknya menahan pengaruh stres yang dirasakan terhadap depresi. 

Hasil ini menunjukkan bahwa orang dengan tingkat neurotisme dan stres yang tinggi mungkin lebih kecil kemungkinannya untuk mengembangkan gejala depresi jika mereka mengikuti lima sila dengan cermat.

Menurut sebuah studi lain dari Ohio state university  yang terbit di  Journal of Positive Psychology. Menemukan, Orang yang menderita gejala depresi atau kecemasan dapat membantu menyembuhkan diri mereka sendiri dengan melakukan perbuatan baik untuk orang lain. Studi tersebut menemukan bahwa melakukan tindakan kebaikan menyebabkan perbaikan yang tidak terlihat pada dua teknik terapi lain yang digunakan untuk mengobati depresi atau kecemasan.

3. Taat Beragama

Beragama tidak hanya menjalin hubungan yang baik dengan tuhan, atau berinvestasi setelah kematian. Namun, beragama juga bisa jadi jalan moral yang baik, proteksi menghindari diri dari perbuatan yang dapat menimbulkan gejala neurotis penyebab gejala depresi. 

Hubungan taat beragama dan kesehatan mental tidak hanya terubung melalui prilaku yang baik, menurut penelitian taat beragama mempengaruhi sistme biologi sesorang. 

Menurut studi dari Ohio State University yang terbit dalam jurnal JAMA Psychiatry. Melibatkan 103 orang dewasa dengan risiko depresi tinggi atau rendah melalui survei dan pemindaian otak MRI. Hasilnya, otak menunjukkan korteks yang lebih tebal pada subjek yang mementingkan agama atau spiritualitas daripada mereka yang tidak. Korteks yang relatif lebih tebal ini ditemukan di daerah otak yang persis sama yang sebelumnya menunjukkan penipisan pada orang yang berisiko tinggi mengalami depresi.

4. Pola Makan Sehat 

Ada istilah yang mengatakan “ Kamu seperti apa yang kamu Makan”, tampaknya kata-kata ini bukanlah omong kosong biasa, tetapi juga memberikan isyarat bahwa tidak hanya penyakit fisik bisa ditimbulkan makanan tapi juga mental. 

Menurut studi dari University of Technology Sydney. Depresi telah mempengaruhi 121 juta orang di seluruh dunia. Angka ini menjadikannya salah satu penyebab masalah global utama tahun kehidupan terkait kecacatan. Lebih jauh lagi, di negara-negara dengan pendapatan rendah dan menengah, itu adalah penyebab utama.

Namun, sedikit yang diketahui tentang peran diet dalam mengembangkan gangguan depresi. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa nutrisi tertentu memiliki peran pencegahan. Ini termasuk vitamin kelompok B, asam lemak omega-3 dan minyak zaitun. Selain itu, diet sehat seperti yang dinikmati di Mediterania telah dikaitkan dengan risiko depresi yang lebih rendah.

Studi yang diterbitkan dalam American Journal of Clinical Nutrition tersebut. Merekomendasikan bahwa dokter medis dan psikolog harus mempertimbangkan untuk merujuk pria muda yang depresi ke ahli gizi atau ahli diet sebagai komponen penting untuk mengobati depresi klinis. 

a. Jangan Makan Makanan Instan/fast food

Sebuah studi jangka panjang baru-baru ini yang dipimpin oleh para ilmuwan dari Universitas Las Palmas de Gran Canaria dan Universitas Granada, makan makanan panggang komersial (kue peri, croissant, donat, dll.) dan makanan cepat saji (hamburger, hotdog, dan pizza) saling terkait dengan gejala depresi.

Studi yang terbit dalam jurnal Gizi Kesehatan Masyarakat ini, mengungkapkan bahwa oang yang makan makanan cepat saji, dibandingkan dengan mereka yang makan sedikit atau tidak sama sekali, 51% lebih mungkin mengalami depresi.Dengan kata lain, semakin banyak makanan cepat saji yang Anda konsumsi, semakin besar risiko depresi.

Studi ini menunjukkan bahwa peserta yang paling banyak makan makanan cepat saji dan makanan panggang komersial cenderung lajang, kurang aktif, dan memiliki kebiasaan makan yang buruk, termasuk makan lebih sedikit buah, kacang-kacangan, ikan, sayuran, dan minyak zaitun. Merokok dan bekerja lebih dari 45 jam per minggu adalah karakteristik umum lainnya dari kelompok ini.

Sampel penelitian milik Proyek SUN (Program Pelacakan Diet dan Gaya Hidup Universitas Navarra). Itu terdiri dari 8.964 peserta yang tidak pernah didiagnosis depresi atau menggunakan antidepresan. Mereka dinilai selama rata-rata enam bulan, dan 493 didiagnosis depresi atau mulai menggunakan antidepresan.

Data baru ini mendukung hasil proyek SUN tahun 2011 yang dipublikasikan di jurnal PLoS One. Proyek tersebut mencatat 657 kasus baru depresi dari 12.059 orang yang dianalisis selama lebih dari enam bulan. Ditemukan 42% peningkatan risiko yang terkait dengan makanan cepat saji, lebih rendah dari yang ditemukan dalam penelitian ini.

b. Banyak Makan Buah

Cara mengurangi makanan cepat saji adalah beralih ke makanan sehat seperti mempebanyak sayur dan buah-buahan. Berbanidng terbalik dengan epek makanan cepat saji, menurut penelitian baru dari College of Health and Life Sciences, Aston University, Peneliri mensurvei 428 orang dewasa dan melihat hubungan antara konsumsi buah, sayuran, makanan ringan manis dan gurih dengan kesehatan psikologis mereka. 

Semakin sering orang makan buah, semakin rendah skor depresi mereka dan semakin tinggi kesejahteraan mental.Orang yang sering makan buah lebih cenderung melaporkan kesejahteraan mental positif yang lebih besar dan cenderung melaporkan gejala depresi daripada mereka yang tidak. Studi ini terbit di British Journal of Nutrition.

Catatan penting dari studi, bahwa seberapa sering kita makan buah lebih penting untuk kesehatan psikologis kita daripada jumlah total yang kita konsumsi selama seminggu. Tim juga menemukan bahwa orang yang makan makanan ringan gurih seperti keripik, yang rendah nutrisi, cenderung melaporkan tingkat kecemasan yang lebih tinggi.

c. Makan banyak ikan

Makan banyak ikan dapat membantu mengekang risiko depresi – setidaknya di Eropa – menyarankan analisis gabungan dari bukti yang tersedia, diterbitkan secara online di Journal of Epidemiology & Community Health.

Hubungan antara pola makan amis dan kesehatan mental tampaknya sama pentingnya di antara pria dan wanita, menurut analisis pertama dari jenisnya.

5. Mengurang Media Sosial

Media sosialmungkin adalah hal wajib dimiliki oleh setiap orang dengan smartphone, manfaatnya memungkinkan setiap orang mendapat update berita terkini dengan cepat. Namun, menggunakan sosial media terlalu berlebihan juga meninggalkan jejak negatif bagi penggunnanya, salah satunya yaitu risiko depresi. 

Menurut studi yang baru-baru dai Univeristiy of Arkansas yang terbit di jurnal Journal of Affective Disorders Reports. Para peneliti menemukan bahwa orang dewasa muda yang menggunakan lebih banyak media sosial secara signifikan lebih mungkin mengalami depresi dalam waktu enam bulan, terlepas dari tipe kepribadiannya.

Studi lain dari University of Pittsburgh School of Medicine yang terbit di Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking.Semakin banyak orang dewasa muda menggunakan media sosial, semakin besar kemungkinan mereka mengalami depresi, menurut penelitian baru. Temuan ini dapat memandu intervensi klinis dan kesehatan masyarakat untuk mengatasi depresi, yang diperkirakan akan menjadi penyebab utama kecacatan di negara-negara berpenghasilan tinggi pada tahun 2030.

Ms. Lin peneliti utama studi, menjelaskan bahwa paparan media sosial juga dapat menyebabkan depresi, melalui beberapa cara seperti:

Paparan representasi teman sebaya yang sangat ideal di media sosial menimbulkan perasaan iri dan keyakinan yang menyimpang bahwa orang lain menjalani kehidupan yang lebih bahagia dan lebih sukses.

Terlibat dalam aktivitas yang tidak berarti di media sosial dapat memberikan perasaan “waktu terbuang” yang memengaruhi suasana hati secara negatif.

Penggunaan media sosial dapat memicu “kecanduan internet”, kondisi kejiwaan yang diusulkan terkait erat dengan depresi.

Menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial dapat meningkatkan risiko terkena cyber-bullying atau interaksi negatif serupa lainnya, yang dapat menyebabkan perasaan depresi.

Membandingkan diri Anda dengan orang lain di Facebook lebih cenderung mengarah pada perasaan depresi daripada membuat perbandingan sosial secara offline, lapor peneliti.

Studi lainnya di Journal JAMA, Bahwa paparan lebih banyak televisi dan media elektronik lainnya selama masa remaja tampaknya terkait dengan gejala depresi yang berkembang di masa dewasa muda, terutama di kalangan pria. 

6. Tidak Ketergantungan smartphone

Tidak hanya ketergantungan sosial media, ketergantungan pada gedget juga dapat menjadi indikasi depresi. 

Penelitian baru dari University of Arizona. Menunjukkan ketergantungan seseorang pada ponsel cerdasnya memprediksi kesepian dan gejala depresi yang lebih besar, dibandingkan dengan sebaliknya.

Anak muda yang kecanduan smartphone mereka mungkin berisiko lebih tinggi mengalami depresi dan kesepian, menurut sebuah studi baru dari.

Baca juga: Cara membuet anak berhenti bermain handpone

7. Hindari ketergantungan Obat-obatan 

Obat-obat yang berbasis neurotik banyak digunakan baik secara legal ataupun ilegal. Dokter juga memberikan resp kepada beberapa pasies yang perlu diberikan. 

Namun keterantungan obat-obatan ini seringkali memberi efek samping salah satunya adalah gejala Depresi. 

Dalam sebuah studi dari Universitas Saint Louis,  Analgesik opioid, atau pembunuh rasa sakit narkotik berbasis resep, telah lama diketahui dapat mengurangi rasa sakit diketahui memberi efek samping dan kecanduan. Peneliti menemukan hubungan antara penggunaan kronis obat penghilang rasa sakit dan peningkatan risiko pengembangan depresi berat.

Studi yang diterbitkan dalam Journal of General Internal Medicine pada 31 Oktober menganalisis data rekam medis sekitar 50.000 veteran yang tidak memiliki riwayat penggunaan opioid atau depresi, dan kemudian diberi resep pereda nyeri opioid.

Menurut temuan, pasien yang memulai dan tetap menggunakan opioid selama 180 hari atau lebih berisiko 53 persen lebih tinggi mengalami episode depresi baru, dan mereka yang menggunakan opioid selama 90-180 hari berisiko 25 persen lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang tidak pernah menggunakan opioid selama lebih dari 1-89 hari.

8. Tidur dan bangun lebih awal 

Tidur awal nampapknya menjadi praktik kuno di zaman digital ini, di mana banyak orang disibukkan dengan aktivitas layar mereka. Padahal tidur cukup merupakan salah satu indikator kesehatan sesorang. 

Menurut Sebuah studi dari University of Colorado Boulder dan Broad Institute of MIT dan Harvard, yang terbit 26 Mei 2022 di jurnal JAMA Psychiatry. Melibatkan 840.000 orang, Peneliti, menemukan bahwa mengubah waktu tidur lebih awal dan Bangun hanya satu jam lebih awal dapat mengurangi risiko depresi berat seseorang sebesar 23%, saran sebuah studi genetik baru yang diterbitkan 26 Mei di jurnal JAMA Psychiatry.

Studi sebelumnya dari Universitas Federal Mato Grosso di Brasil, yang ang terbit di Annals of Human Biolog. Menemukan bahwa 55% siswa mengalami kantuk disiang hari, artinya bahwa mereka rata-rata tidak cukup tidur. 

Studi yang dilakukan pada 1.113 pelajar menemukan bahwa siswa atau pelajat yang kurang tidur mudah mengalami stress dan depresi

9. Nikmati Hidup

Hidup memang tentang berjuang, namun yang tidak kalah penting adalah menikmati hidup, atau yakinkan diri kita bahwa kita bis amenikmati hidup dengan baik. Stress dan atau depresi paling sring muncul dari bangku sekolah ataupun kerja, sehingga jangan sampai sesuatu yang kita cari dengaan tujuan melengkapi kebahagian malah merenggut kebahagiaan itu sendiri.

Menurut studidari University of Michigan, Bekerja 90 jam atau lebih dalam seminggu dikaitkan dengan perubahan skor gejala depresi tiga kali lebih besar daripada perubahan gejala depresi di antara mereka yang bekerja 40 hingga 45 jam seminggu. Persentase yang lebih tinggi dari mereka yang bekerja berjam-jam memiliki skor yang cukup tinggi untuk memenuhi syarat diagnosis depresi sedang hingga berat.

10. Jangan duduk terlalu banyak

Menurut studi dari Lowa state university yang terbit di Frontiers in Psychiatry. Terlalu banyak duduk berarti bahwa tingkat gerak fisik sesorang berkurang, dna menurut studi dapat meningkatkan risiko depresi. 

11. Bersihkan rumah

Kebersihan lingkungan juga penting, kebersihan biasanya akan mempengaruhi perasaaan tenang dan nyaman. 

Sebuah studi dari Universitas Brown Edmond Shenassa yang terbit di American Journal of Public Health. Peneliti  menemukan hubungan antara rumah yang lembap dan berjamur dengan depresi. Para ilmuwan mengatakan temuan itu benar-benar mengejutkan. Ini adalah studi besar, menganalisis data dari 5.882 orang dewasa di 2.982 rumah tangga. Jamur adalah racun, dan beberapa penelitian menunjukkan bahwa racun ini dapat memengaruhi sistem saraf atau sistem kekebalan tubuh atau menghambat fungsi korteks frontal, bagian otak yang berperan dalam kontrol impuls, memori, pemecahan masalah, perilaku seksual, sosialisasi dan spontanitas.

Apakah Anda Merasa Depresi?

Nah, bagi Anda yang merasa memiliki banyak masalah, tekanan dan beban hidup sehingga memiliki gejala psikis depresi. Anda bisa bergabung dalam komunitas dearsenja.com. Buka link tersebut, Anda bis amelihat submenu, dapat mengikuti tes psikis ADHD secara langsung atau melalui tanya jawab dalam gerup telegram.

Demikian artikel tentang Cara Mengurangi Depresi di Era Digital. Semoga bermanfaat!

Jurnal Referensi:

  1. Jeffrey F. Scherrer, Dragan M. Svrakic, Kenneth E. Freedland, Timothy Chrusciel, Sumitra Balasubramanian, Kathleen K. Bucholz, Elizabeth V. Lawler, Patrick J. Lustman. Prescription Opioid Analgesics Increase the Risk of Depression. Journal of General Internal Medicine, 2013; DOI: 10.1007/s11606-013-2648-1
  1. Lisa Miller, Ravi Bansal, Priya Wickramaratne, Xuejun Hao, Craig E. Tenke, Myrna M. Weissman, Bradley S. Peterson. Neuroanatomical Correlates of Religiosity and Spirituality. JAMA Psychiatry, 2013; 1 DOI: 10.1001/jamapsychiatry.2013.3067
  2. Nahathai Wongpakaran, Phurich Pooriwarangkakul, Nadnipa Suwannachot, Zsuzsanna Mirnics, Zsuzsanna Kövi, Tinakon Wongpakaran. Moderating role of observing the five precepts of Buddhism on neuroticism, perceived stress, and depressive symptoms. PLOS ONE, 2022; 17 (11): e0277351 DOI: 10.1371/journal.pone.027735
  3. Almudena Sánchez-Villegas, Estefania Toledo, Jokin de Irala, Miguel Ruiz-Canela, Jorge Pla-Vidal, Miguel A Martínez-González. Fast-food and commercial baked goods consumption and the risk of depression. Public Health Nutrition, 2011; 15 (03): 424 DOI: 10.1017/S1368980011001856
  4. Liu Yang, Yue-Ting Deng, Yue Leng, Ya-Nan Ou, Yu-Zhu Li, Shi-Dong Chen, Xiao-Yu He, Bang-Sheng Wu, Shu-Yi Huang, Ya-Ru Zhang, Kevin Kuo, Wei Feng, Qiang Dong, Jian-Feng Feng, John Suckling, A David Smith, Fei Li, Wei Cheng, Jin-Tai Yu. Depression, Depression Treatments, and Risk of Incident Dementia: A Prospective Cohort Study of 354,313 Participants. Biological Psychiatry, 2022; DOI: 10.1016/j.biopsych.2022.08.026
  5. Jessica Bayes, Janet Schloss, David Sibbritt. The effect of a Mediterranean diet on the symptoms of depression in young males (the “AMMEND” study): A Randomized Control Trial. The American Journal of Clinical Nutrition, 2022; DOI: 10.1093/ajcn/nqac106
  6. Karl-Heinz Ladwig, Jens Baumert, Birgitt Marten-Mittag, Karoline Lukaschek, Hamimatunnisa Johar, Xioayan Fang, Joram Ronel, Christa Meisinger, Annette Peters. Room for depressed and exhausted mood as a risk predictor for all-cause and cardiovascular mortality beyond the contribution of the classical somatic risk factors in men. Atherosclerosis, 2016; DOI: 10.1016/j.atherosclerosis.2016.12.003
  7. Renae A. Merrill, Chunhua Cao, Brian A. Primack. Associations between social media use, personality structure, and development of depression. Journal of Affective Disorders Reports, 2022; 10: 100385 DOI: 10.1016/j.jadr.2022.100385
  8. Nicola-Jayne Tuck, Claire V. Farrow, Jason Michael Thomas. Frequency of fruit consumption and savoury snacking predict psychological health; selective mediation via cognitive failures. British Journal of Nutrition, 2022; 1 DOI: 10.1017/S0007114522001660
  9. Maria Blöchl, Steffen Nestler. Long-term Changes in Depressive Symptoms Before and After Stroke. Neurology, 2022; 10.1212/WNL.0000000000200756 DOI: 10.1212/WNL.0000000000200756
  10. Jacob D. Meyer, John O’Connor, Cillian P. McDowell, Jeni E. Lansing, Cassandra S. Brower, Matthew P. Herring. High Sitting Time Is a Behavioral Risk Factor for Blunted Improvement in Depression Across 8 Weeks of the COVID-19 Pandemic in April–May 2020. Frontiers in Psychiatry, 2021; 12 DOI: 10.3389/fpsyt.2021.741433
  11. Yu Fang, Sara Lodi, Tasha M. Hughes, Elena Frank, Srijan Sen, Amy S.B. Bohnert. Work Hours and Depression in U.S. First-Year Physicians. New England Journal of Medicine, 2022; 387 (16): 1522 DOI: 10.1056/NEJMc2210365
  12. Matthew A. Lapierre, Pengfei Zhao, Benjamin E. Custer. Short-Term Longitudinal Relationships Between Smartphone Use/Dependency and Psychological Well-Being Among Late Adolescents. Journal of Adolescent Health, 2019; DOI: 10.1016/j.jadohealth.2019.06.001
  13. Liu yi Lin, Jaime E. Sidani, Ariel Shensa, Ana Radovic, Elizabeth Miller, Jason B. Colditz, Beth L. Hoffman, Leila M. Giles, Brian A. Primack. ASSOCIATION BETWEEN SOCIAL MEDIA USE AND DEPRESSION AMONG U.S. YOUNG ADULTS. Depression and Anxiety, 2016; DOI: 10.1002/da.22466
  14. Mirko Wegner, Ingo Helmich, Sergio Machado, Antonio Nardi, Oscar Arias-Carrion, Henning Budde. Effects of Exercise on Anxiety and Depression Disorders: Review of Meta- Analyses and Neurobiological Mechanisms. CNS & Neurological Disorders – Drug Targets, 2014; 13 (6): 1002 DOI: 10.2174/1871527313666140612102841
  15. Gabriella Gobbi et al. Association of cannabis use in adolescence and risk of depression, anxiety and suicidality in young adulthood: A systematic review and meta-analysis. JAMA Psychiatry, 2019 DOI: 10.1001/jamapsychiatry.2018.4500
  16. Fang Li, Xiaoqin Liu, Dongfeng Zhang. Fish consumption and risk of depression: a meta-analysis. Journal of Epidemiology and Community Health, 2015; jech-2015-206278 DOI: 10.1136/jech-2015-206278
  17. Karmel W. Choi, Murray B. Stein, Kristen M. Nishimi, Tian Ge, Jonathan R.I. Coleman, Chia-Yen Chen, Andrew Ratanatharathorn, Amanda B. Zheutlin, Erin C. Dunn, Gerome Breen, Karestan C. Koenen, Jordan W. Smoller. An Exposure-Wide and Mendelian Randomization Approach to Identifying Modifiable Factors for the Prevention of Depression. American Journal of Psychiatry, 2020; appi.ajp.2020.1 DOI: 10.1176/appi.ajp.2020.19111158
  18. David R. Cregg, Jennifer S. Cheavens. Healing through helping: an experimental investigation of kindness, social activities, and reappraisal as well-being interventions. The Journal of Positive Psychology, 2022; 1 DOI: 10.1080/17439760.2022.2154695
  19. David A. Baker, Guillermo Perez Algorta. The Relationship Between Online Social Networking and Depression: A Systematic Review of Quantitative Studies. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 2016; 19 (11): 638 DOI: 10.1089/cyber.2016.0206
  20. Brian A. Primack; Brandi Swanier; Anna M. Georgiopoulos; Stephanie R. Land; Michael J. Fine. Association Between Media Use in Adolescence and Depression in Young Adulthood. Arch Gen Psychiatry, 2009; 66 (2): 181-188
  21. https://cifar.ca/
  22. https://www.brown.edu/Administration/News_Bureau/2007-08/07-023.html

#DearSenjaBlogCompetition

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *