Kenapa Babi Haram? Ini Alasan Ilmiah dan Sejarahnya

Banyak pertanyaan sering muncul mengenai larangan memakan daging babi yang kemudian sangat rentan menjadi sebuah perdebatan rasisme. Bagi seseorang yang beragama, perintah dan larangan Tuhan tentu sudah cukup menjadi alasan utama mengapa sesuatu dilarang. Namun, penjelasan spiritual tersebut kadang tidak cukup melegakan rasa ingin tahu dan malah memunculkan pertanyaan kritis lainnya. Menurut seorang penulis bernama Hendy Wijaya, larangan ini juga memiliki rasionalisasi materialistik berdasarkan catatan sejarah dan antropologi. Artikel yang diedit oleh Mahsun Saleh pada 28 Oktober 2021 ini memberikan sudut pandang sains yang menarik. Kenapa Babi Haram? Ini Alasan Ilmiah dan Sejarahnya

Baca juga: Perasaan Orang Mati Menurut Sains

Aspek Kebutuhan Pangan Manusia

Manusia sebagai makhluk hidup tentu akan merasakan lapar karena adanya tuntutan nutrisi penting seperti kebutuhan akan protein. Protein bukan hanya sekadar zat pembangun tubuh, tetapi kekurangannya juga dapat menekan rasa lapar secara sangat signifikan.

  • Tubuh manusia membutuhkan asam amino esensial dari luar yang harus dipenuhi secara kontinyu untuk menjaga fungsi vital.
  • Untuk mencukupi kebutuhan tersebut, peradaban manusia perlu melakukan intensifikasi pangan melalui kegiatan bercocok tanam dan beternak hewan.
  • Bercocok tanam jauh lebih efisien, karena tanaman mampu menyerap 4% energi matahari melalui proses fotosintesis yang alami.
  • Sementara itu, hewan hanya mengambil sekitar 5% energi dari tanaman, atau setara 0.2% konversi energi berupa daging.
  • Artinya, tanaman pakan ternak untuk suplai daging satu orang sebenarnya cukup untuk memberi makan sebanyak dua puluh orang.

Alasan Fisiologi dan Konsumsi Pakan

Pemilihan jenis hewan ternak sangat berperan penting dalam menentukan titik keseimbangan antara produksi kalori dan juga protein.

  • Untuk setiap 100 kg pakan, babi secara efisien mampu mengkonversinya menjadi 20 kg daging yang berkalori sangat tinggi.
  • Sedangkan sapi hanya mampu menghasilkan 7 kg daging dari jumlah 100 kg pakan yang sama persis pengeluarannya.
  • Meskipun babi lebih efisien dan dagingnya mengandung banyak kalori, babi merupakan hewan omnivora pemakan segala jenis bahan.
  • Babi memerlukan serealia dan biji-bijian agar tumbuh normal, yang mana makanan tersebut berpotensi memicu konflik pangan manusia.
  • Sebaliknya, sapi murni mengkonversi rumput yang tidak dimakan manusia menjadi daging, sehingga tidak ada konflik perebutan pangan.

Nilai Ekonomis dan Konsumsi Air

Selain masalah pakan, hewan ternak biasanya memiliki nilai ekonomis tambahan yang sangat bermanfaat bagi peradaban masyarakat manusia.

  • Sapi bisa diperah susunya, menarik gerobak barang, dan juga digunakan tenaganya untuk membajak area lahan persawahan pertanian.
  • Ayam memakan serealia yang sama seperti babi, tetapi hewan ini masih bisa memberikan tambahan telur bagi peternaknya.
  • Sayangnya, nilai ekonomi babi murni hanya dinilai dari dagingnya saja tanpa ada manfaat tambahan tenaga atau telur.
  • Babi juga tidak memiliki kelenjar keringat, sehingga butuh berguling di lumpur atau fesesnya sendiri untuk mendinginkan tubuh.
  • Produksi 1 kilogram daging ayam memerlukan 3500 liter air, sementara babi sangat boros karena memerlukan 6000 liter air.

Aspek Sejarah dan Lingkungan Timur Tengah

Beternak babi di lingkungan Timur Tengah yang panas dan kering membawa dampak negatif besar bagi kehidupan masyarakat. Jika sumber daya alam diberikan kepada babi, hanya kelompok elit yang makan daging, sementara rakyat akan kelaparan.

  • Sekitar 10.000 tahun lalu, peradaban Mesopotamia di wilayah Timur Tengah adalah yang pertama kali mendomestikasi hewan babi.
  • Bangsa Sumeria dan Babilonia kemudian memandang rendah para peternak babi dan jarang menggunakannya sebagai hewan kurban kuil.
  • Orang Assyria menggunakan babi sebagai medium yang disukai setan dalam sebuah ritual pengusiran setan di masa lampau.
  • Orang Mesir yang menjadi musuh bebuyutan Israel memandang babi sebagai jelmaan dewa Seth, yakni dewa kekacauan dan perang.
  • Masyarakat Yahudi di Yudea dan Samaria bahkan mengharamkan konsumsi daging hewan babi ini secara total dan permanen.

Rasionalisasi Hukum Agama Terhadap Larangan

Larangan memakan babi bukan berawal dari alasan kotor, karena masyarakat Timur Tengah awalnya sudah rajin memakan dagingnya. Penurunan konsumsi ini mulai terjadi ketika hasil bumi mereka merosot drastis akibat terjadinya masalah salinasi tanah pertanian.

  • Kitab Taurat juga melarang konsumsi hewan berkuku tajam seperti karnivora, karena menambah panjang rantai makanan yang merugikan.
  • Manusia mudah tergoda kenikmatan daging babi, sehingga agama datang memberikan hukum pasti untuk mencegah kehancuran ketahanan pangan.
  • Di peradaban lampau, agama adalah sumber hukum utama, di mana pelanggaran akan mendatangkan hukuman konkrit di dunia.
  • Ancaman hukuman spiritual berfungsi kuat untuk mencegah orang melanggar aturan pangan di sudut-sudut ruang yang sangat tersembunyi.
  • Tuhan Maha Tahu apa yang manusia tidak ketahui, sehingga pelarangan memakan babi ini menjadi sebuah aturan yang adil.

Pandangan ini bisa jadi kontribusi menambah refrensi dari sisi lain keHaraman babi. Kenapa Babi Haram? Ini Alasan Ilmiah dan Sejarahnya

Penulis: Hendy Wijaya
Editor: Mahsun Saleh