5 Dampak Buruk Terlalu Lama di Luar Angkasa Bagi Tubuh

Perjalanan menuju luar angkasa mungkin menjadi cita-cita sains yang sangat sinematik sekaligus luar biasa layaknya mimpi. Namun, perbedaan lingkungan yang ekstrem dengan bumi memunculkan pertanyaan penting mengenai kondisi tubuh manusia, khususnya terkait kesehatan otak. 5 Dampak Buruk Terlalu Lama di Luar Angkasa Bagi Tubuh

Baca juga: Bagaimana Laba-laba Membuat Jaring di Gravitasi Nol, Luar Angkasa?

Sebuah penelitian baru-baru ini mengungkap bahwa menghabiskan waktu lama di luar angkasa membawa dampak negatif pada otak manusia. Para ahli menemukan fakta mengejutkan ini melalui penelitian terhadap lima kosmonot laki-laki Rusia yang pernah tinggal di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Jurnal ilmiah JAMA Neurology kemudian mempublikasikan studi penting ini secara resmi.

Tim Ilmuwan dan Detail Observasi Kosmonot

Para ilmuwan dari Institut Ilmu Saraf dan Fisiologi di Akademi Sahlgrenska menulis laporan ini bersama rekan-rekan ahli mereka. Para rekan peneliti terkemuka tersebut berasal dari sejumlah lembaga sains yang berada di Moskow dan Munich.

Berikut adalah rincian mengenai observasi spesifik yang para ilmuwan jalankan:

  • Peneliti mempelajari kehidupan lima kosmonot Rusia laki-laki yang bekerja secara aktif di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
  • Stasiun berawak permanen tersebut terus mengorbit pada jarak 400 km dari batas permukaan bumi.
  • Rata-rata usia para peserta kosmonot tangguh tersebut menyentuh angka 49 tahun.
  • Kosmonot rata-rata menghabiskan waktu tinggal di luar angkasa selama 169 hari, atau sekitar lima setengah bulan lamanya.

Dampak Buruk Luar Angkasa Bagi Tubuh Manusia

Para pakar antariksa sebenarnya telah lama mengetahui efek buruk pada tubuh manusia akibat tinggal dalam waktu lama di ruang angkasa.

Berikut adalah rincian akibat buruk yang menyerang tubuh jika terlalu lama berada di luar angkasa:

  • Para kosmonot mengalami perubahan negatif yang merusak kondisi otot atrofi mereka.
  • Tubuh kosmonot mengalami proses penurunan massa tulang secara bertahap.
  • Kondisi penglihatan para kosmonot perlahan memburuk selama mereka bertugas.
  • Sistem pencernaan mereka menunjukkan perubahan mikrobioma usus yang cukup nyata.
  • Para ilmuwan turut mendeteksi adanya kerusakan otak yang sangat mengkhawatirkan.

Langkah Penelitian dan Bukti Kerusakan Otak

Untuk mengumpulkan bukti kerusakan otak, peneliti mengambil sampel darah dari para kosmonot tepat 20 hari sebelum keberangkatan mereka. Setelah kelima kosmonot kembali mendarat ke Bumi, peneliti kembali mengambil sampel darah lanjutan pada tiga kesempatan yang berbeda. Masing-masing pengambilan sampel darah berlangsung tepat satu hari, satu minggu, dan sekitar tiga minggu setelah pesawat mereka mendarat.

Selanjutnya, kelompok ilmuwan menganalisis lima biomarker khusus yang mengindikasikan terjadinya kerusakan otak.

Lima biomarker penguji tersebut meliputi zat-zat spesifik berikut ini:

  • Neurofilament light (NFL).
  • Glial fibrillary acid protein (GFAP).
  • Total tau (T-tau).
  • Dua jenis protein beta amiloid.

Peningkatan Konsentrasi Biomarker Pasca Penerbangan

Untuk tiga biomarker spesifik, yaitu NFL, GFAP, dan protein beta amiloid Aβ40, peneliti melihat konsentrasinya meningkat secara signifikan pasca kunjungan luar angkasa. Pembacaan puncak molekul tersebut memang tidak terjadi secara bersamaan sesaat setelah manusia kembali ke Bumi. Meskipun begitu, tren biomarker mereka tetap secara luas meningkat tajam ketika peneliti menghitungnya dari waktu ke waktu.

Pernyataan Ahli Mengenai Penyebab dan Evaluasi

Henrik Zetterberg, profesor ilmu saraf sekaligus salah satu penulis senior studi tersebut, memberikan penjelasan yang sangat mendalam. Ia menyatakan bahwa ini adalah pertama kalinya tes darah mendokumentasikan bukti nyata kerusakan sel otak setelah manusia melangsungkan penerbangan luar angkasa.

Beliau juga menegaskan perlunya langkah lanjutan dari penemuan ini.

  • Ilmuwan harus mengeksplorasi masalah ini secara lebih jauh demi mencegahnya jika perjalanan ruang angkasa menjadi semakin umum pada masa depan.
  • Zetterberg menambahkan bahwa umat manusia harus saling membantu untuk mencari tahu alasan mengapa kerusakan tersebut muncul.
  • Peneliti wajib memastikan apakah penyebab utamanya akibat kondisi tidak berbobot, perubahan cairan otak, atau tekanan stresor peluncuran dan pendaratan pesawat.
  • Mereka juga perlu mencari tahu kemungkinan adanya faktor-faktor eksternal lain yang merusak sel otak.
  • Oleh karena itu, para ilmuwan bisa melaksanakan banyak eksperimen menarik melalui studi langsung pada manusia di Bumi.

Dukungan Pencitraan Resonansi Magnetik (MRI)

Gagasan bahwa seluruh perubahan tersebut mungkin memengaruhi fungsi otak mendapat dukungan kuat dari berbagai perubahan biologis lainnya. Perubahan fisik ini terlihat sangat jelas pada hasil pencitraan resonansi magnetik (MRI) otak para kosmonot setelah menyelesaikan perjalanan ruang angkasa mereka.

Dukungan lebih lanjut juga datang dari hasil uji klinis fungsi otak pria yang konsisten menunjukkan penyimpangan terkait tugas luar angkasa mereka. Namun, skala penelitian ini terlalu kecil bagi para ilmuwan untuk menyelidiki secara merinci seluruh korelasi klinis tersebut.

Rencana Diskusi dan Studi Lanjutan

Zetterberg dan para rekan penulisnya di Universitas, yaitu ilmuwan Nicholas Ashton dan Profesor Kaj Blennow, segera merencanakan inisiatif lanjutan. Saat ini, mereka aktif mendiskusikan studi tambahan bersama peneliti lain yang sebelumnya terlibat di dalam proyek studi sains tersebut. Selain itu, tim ahli juga menjalin komunikasi intensif dengan berbagai lembaga penelitian antariksa, baik tingkat nasional maupun internasional.

“Jika kami dapat memilah apa yang menyebabkan kerusakan, biomarker yang kami kembangkan dapat membantu menemukan cara terbaik mengatasi masalah tersebut,” ungkap Zetterberg menutup penjelasannya.

Jurnal Referensi Ilmiah

Sebagai kelengkapan data literatur, berikut adalah rincian jurnal ilmiah yang memuat landasan studi penelitian luar angkasa ini: 5 Dampak Buruk Terlalu Lama di Luar Angkasa Bagi Tubuh

  • Peneliti: Peter zu Eulenburg, Judith-Irina Buchheim, Galina Vassilieva, Kaj Blennow, Henrik Zetterberg, Nicholas J. Ashton, dan Alexander Choukér.
  • Tahun: 2021.
  • Judul: Changes in Blood Biomarkers of Brain Injury and Degeneration Following Long-Duration Spaceflight.
  • Penerbit: JAMA Neurology, 2021.
  • Nomor DOI: 10.1001/jamaneurol.2021.3589.