Manfaat Renang Musim Dingin Ala Budaya Skandinavia: Cara Alami Bakar Lemak dan Kalori
Masyarakat Skandinavia memiliki budaya renang musim dingin yang menggabungkan kegiatan berenang singkat dalam air dingin dengan sesi ruang sauna panas. Saat ini, sebuah penelitian terhadap pria muda menyoroti dampak positif dari rutinitas ekstrem tersebut. Para peneliti menemukan bahwa berenang pada musim dingin membantu tubuh manusia beradaptasi dengan suhu ekstrem secara jauh lebih baik. Manfaat Renang Musim Dingin Ala Budaya Skandinavia: Cara Alami Bakar Lemak dan Kalori
Baca juga: 4 Manfaat Bayi Berenang Bagi tumbuh-kembang
Peran Jaringan Lemak Coklat pada Suhu Ekstrem
Penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi renang air dingin dan sesi sauna memengaruhi kinerja vital lemak coklat. Para ilmuwan juga sering menyebut lemak coklat ini sebagai jaringan adiposa coklat atau Brown Adipose Tissue (BAT). Jaringan spesifik ini memiliki fungsi penting untuk membakar energi secara cepat dan menghasilkan panas bagi tubuh manusia.
Camilla Scheele, seorang penulis studi senior dari University of Copenhagen, memberikan penjelasannya mengenai penemuan ilmiah ini.
- “Data kami menggarisbawahi bahwa BAT pada manusia dewasa beroperasi sebagai bagian dari sistem pengaturan suhu tubuh kolektif.”
- “Sistem biologis ini senantiasa bekerja sama secara harmonis dengan otot rangka serta aliran darah manusia.”
- “Hasil sampingan dari temuan ini menghadirkan sebuah strategi baru guna meningkatkan tingkat pengeluaran energi.”
- “Peningkatan pengeluaran energi tersebut pada akhirnya berpotensi mengakibatkan proses penurunan berat badan yang efektif.”
Langkah Penelitian Terstruktur di Negara Denmark
Scheele beserta para kolaboratornya menjalankan studi khusus ini dengan mengambil lokasi penelitian langsung di negara Denmark. Mereka secara rinci meneliti apakah praktik renang musim dingin Skandinavia memiliki kaitan dengan perubahan suhu tubuh. Eksplorasi ini bertujuan untuk melihat proses aklimatisasi tubuh saat menghadapi tantangan paparan suhu dingin dan panas.
Selain itu, mereka juga mencari perbedaan tingkat aktivitas dalam jaringan lemak coklat para peserta. Para ilmuwan sangat mengingat peran penting jaringan tersebut dalam menghasilkan panas saat merespons paparan lingkungan yang dingin.
Untuk mengeksplorasi seluruh ide ini, penulis pertama Susanna Søberg dari Universitas Kopenhagen segera merekrut peserta penelitian.
Berikut adalah rincian peserta serta metodologi yang peneliti terapkan:
- Susanna merekrut delapan perenang musim dingin laki-laki muda sebagai kelompok subjek penelitian utama.
- Para perenang muda ini rutin berenang dalam air dingin bersama sesi sauna panas setiap minggu selama minimal dua tahun.
- Peneliti secara longgar mendefinisikan kegiatan renang musim dingin sebagai aktivitas berenang atau duduk dalam perairan terbuka.
- Peserta melaksanakan aktivitas tersebut dengan hanya mengenakan celana renang atau bahkan tidak mengenakan pakaian sama sekali.
- Sebaliknya, peneliti juga merekrut delapan peserta kontrol yang tidak pernah menggunakan terapi dingin atau panas sebelumnya.
- Kedua kelompok subjek ini mengikuti uji pendahuluan dengan merendam satu tangan ke dalam air dingin selama tiga menit.
Hasil Pengujian dan Bukti Adaptasi Suhu Tubuh
Søberg menguraikan ekspektasi awal timnya sebelum mereka melihat hasil pengujian yang sebenarnya dari laboratorium. “Kami mengharapkan perenang musim dingin memiliki lebih banyak lemak coklat daripada subjek kontrol, tetapi ternyata mereka memiliki termoregulasi yang lebih baik,” ungkap Søberg.
Sementara kedua kelompok merespons paparan dingin secara nyata, para perenang justru menunjukkan tanda-tanda toleransi dingin yang luar biasa.
Berikut adalah ciri-ciri toleransi tubuh yang para perenang tersebut tampilkan selama penelitian:
- Para perenang mencatat tingkat peningkatan denyut nadi yang lebih stabil.
- Mereka juga memiliki tingkat tekanan darah yang cenderung jauh lebih rendah.
- Mereka turut memiliki suhu kulit yang lebih tinggi selama proses pengujian tersebut berlangsung.
- Kondisi ini menunjukkan kehilangan panas tubuh yang lebih besar sebagai adaptasi potensial terhadap paparan sauna yang sering.
Dalam tahapan tes pendahuluan lainnya, para peneliti menggunakan sebuah sistem canggih yang dapat mereka sesuaikan. Sistem pengujian ini terdiri dari dua selimut perfusi air guna mengontrol sekaligus menurunkan suhu tubuh seluruh peserta. Di sini, kelompok perenang kembali menunjukkan peningkatan suhu kulit yang jauh lebih tinggi sebagai respons adaptasi terhadap pendinginan.
Aktivitas Lemak Coklat Saat Suhu Nyaman
Selanjutnya, para peneliti memanfaatkan teknologi tomografi emisi positron untuk mengukur tingkat aktivasi jaringan lemak coklat. Mereka mengukur organ peserta saat mereka sedang terpapar suhu lingkungan yang nyaman.
Berbeda dengan kelompok perenang, subjek kontrol justru menunjukkan tanda-tanda jaringan lemak coklat yang teraktivasi secara aktif. Para peneliti melihat indikasi tersebut dari tingkat penyerapan glukosa yang organ peserta alami.
“Temuan ini mendukung gagasan bahwa jaringan lemak coklat menyesuaikan suhu tubuh dengan keadaan yang nyaman pada orang dewasa muda,” kata Scheele. Namun, ia juga menambahkan, “Itu adalah temuan yang mengejutkan bahwa perenang musim dingin tidak memiliki aktivitas sama sekali saat terkena suhu yang nyaman.”
Perbandingan Tingkat Produksi Panas dan Pengeluaran Energi
Pada tahapan uji paparan dingin, aktivitas jaringan lemak coklat meningkat sangat pesat pada kedua kelompok peserta. Tetapi, kelompok perenang sukses menunjukkan angka produksi panas atau pengeluaran energi yang jauh lebih tinggi saat merespons suhu dingin.
“Perenang musim dingin membakar lebih banyak kalori daripada subjek kontrol selama masa pendinginan, mungkin sebagian karena produksi panas yang lebih tinggi,” jelas Scheele.
Para peneliti juga memantau ritme termoregulasi untuk kedua kelompok peserta selama sehari penuh pada suhu yang nyaman.
Berikut adalah temuan krusial dari pengamatan 24 jam tersebut:
- Para perenang secara konsisten mencapai titik suhu tubuh inti yang jauh lebih rendah.
- Kondisi tersebut berpotensi menjadi tanda aklimatisasi panas yang terjadi akibat kunjungan sauna secara teratur.
- Suhu kulit para perenang pada daerah yang dekat dengan BAT menunjukkan puncak yang berbeda antara pukul 4:30 dan 5:30.
- Hal ini menunjukkan tanda-tanda ritme 24 jam dalam aktivitas jaringan lemak coklat serta produksi panas tubuh.
“Perbedaan antara kelompok mungkin dapat kita jelaskan oleh peningkatan pematangan dan adaptasi dingin BAT pada kelompok perenang musim dingin,” terang Scheele.
Implikasi Kesehatan Metabolik dan Rencana Masa Depan
Meskipun ukuran sampel penelitian ini tergolong kecil, temuan sains ini mungkin memiliki implikasi kesehatan yang amat penting. Terlebih lagi, ilmuwan mengingat bahwa aktivitas jaringan lemak coklat memiliki kaitan erat dengan risiko penyakit metabolik yang lebih rendah.
Dalam studi masa depan, para peneliti berencana untuk menilai efek potensial dari renang musim dingin pada aspek kesehatan metabolisme. Mereka kelak memfokuskan penelitian pada subjek peserta yang mengalami masalah kelebihan berat badan. Tim peneliti juga ingin memeriksa mekanisme molekuler yang mendasari proses aktivasi lemak coklat. Mereka ingin meneliti secara akurat bagaimana lemak coklat berkomunikasi dengan otak manusia untuk mengatur perilaku makan.
“Hasil kami menunjukkan aktivitas berenang musim dingin sebagai kegiatan yang dapat meningkatkan pengeluaran energi secara nyata,” pungkas Scheele. “Oleh karena itu, kami mengusulkan aktivitas ini sebagai gaya hidup baru yang mungkin berkontribusi langsung pada penurunan berat badan atau pengendalian berat badan.”
Jurnal Referensi Ilmiah
Sebagai tambahan kelengkapan data administratif, berikut adalah rincian literatur jurnal ilmiah yang menjadi landasan artikel sains ini: Manfaat Renang Musim Dingin Ala Budaya Skandinavia: Cara Alami Bakar Lemak dan Kalori
- Penulis Utama: Susanna Søberg et al.
- Tahun Publikasi: 2021.
- Judul Studi: Altered brown fat thermoregulation and enhanced cold-induced thermogenesis in young, healthy, winter-swimming men.
- Penerbit Jurnal: Cell Reports Medicine, 2021.
- Nomor Referensi DOI: 10.1016/j.xcrm.2021.100408.



