Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sekolah Online Selama Pandemi, Meningkatkan Rabun Jauh Anak dalam Skala Global

Seperti artikel sebelumnya "Kematian langsung akibat covid-19 hanyalah puncuk gunung es. Ada banyak efek jangka panjang secara langsung terkait covid ataupun dari efek samping tak langsung. 

Dengan kebijakan pemerintah membatasi gerak dan perkumpulan, sekolah di alihkan melewati virtual dari rumah, tampaknya memang itu solusi terbaik, tapi tidak selamanya benar bahwa itu adalah opsi terbaik, selalu ada efek samping yang menanti dalam jangka panjang. Batasan umur wajar anak-anak menggunakan internet, smartphone dan tatapan layar nampaknya sudah hilang, tidak mengherankan jika nomophobia dimasa depan akan semakin tinggi yang dapat berakibat pada antisosial. Studi terbaru yang melporkan efek ini adalah rabun pada anak-anak yang meningkat.

Selama 1 tahun, para peneliti dari Hong Kong university mendeteksi peningkatan pesat kasus rabun jauh, atau miopia, di antara 709 anak-anak antara usia 6 dan 8 tahun.

Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, kasus miopia yang didiagnosis telah meningkat lebih dari 10 persen, memengaruhi hampir seperlima dari sampel yang diteliti. Menghabiskan waktu di luar ruangan diketahui menurunkan risiko anak terkena rabun jauh dan meskipun secara langsung kita tidak bisa menunjuk kesalahan korona tapi faktanya pandemi ini yang telah menambah waktu tatapan layar pada anak yang meningkatkan resiko.

Fakta, penelitian terbaru menunjukkan kurangnya waktu di luar ruangan menjadi indikator miopia yang lebih besar daripada faktor genetika. Oleh karena itu, ada kemungkinan penutupan sekolah dan penguncian yang meluas, yang disebabkan oleh pandemi, menjadi penyebab meningkatnya rabun jauh di kalangan anak-anak.

Apakah setelah pandemi risiko ini dapat berkurang?

Belum tentu, neskipun karantina rumah tangga dan penutupan sekolah terhadap pandemi tidak akan berlangsung selamanya, tapi peningkatan adopsi dan ketergantungan pada perangkat digital, serta perubahan perilaku akibat kurungan rumah yang diperpanjang, mungkin memiliki efek jangka panjang pada perkembangan miopia pada populasi, terutama di antara anak-anak," tulis para peneliti di makalah baru mereka.

Saat ini di Cina miopia dianggap sebagai epidemi (kasus yang melungkupi wilayah tertentu) Lebih dari 90 persen anak muda di sana mengalami rabun jauh, membuat generasi berikutnya rentan terhadap berbagai kondisi mata selama hidup mereka. Dan tidak menutup kemungkinan epedemi rabun pada anak ini akan menyebar ke negara lainnya, jika dilihat dari lamanya anak-anak tetap tinggal dirumah.

Setiap tahun, ratusan ribu siswa sekolah di China menjalani tes mata untuk melacak kondisi yang meluas ini. Mirip dengan hasil terbaru dari Hong Kong, program mata nasional ini juga mengungkapkan peningkatan yang signifikan pada miopia di daratan. Menurut data yang baru-baru ini diterbitkan, prevalensi rabun jauh di antara anak-anak berusia 6 tahun di China tiga kali lebih tinggi selama penguncian tahun 2020.

Penelitian lain mengatakan "Pergeseran rabun yang substansial ini tidak terlihat dalam perbandingan tahun-tahun sebelumnya, sehingga penyebabnya adalah kurungan rumah yang tidak biasa pada tahun 2020," dalam laporan mereka yang diterbitkan awal tahun ini. Hasil di Hong Kong yang melacak miopia selama COVID-19 kini mendukung temuan ini.

"Insiden miopia (13,15% selama 1 tahun) pada kelompok sebelumnya lebih rendah daripada kelompok COVID-19 kami (19,44% selama 8 bulan, p<0,001) meskipun memiliki tindak lanjut yang lebih lama selama 1 tahun dibandingkan dengan 8 bulan tim menyatakan kejadian miopia meningkat selama pandemi COVID-19," tim tersebut menyatakan dalam makalah.

Masih belum jelas apa sebenarnya yang mendorong peningkatan ini, tetapi kuesioner mengungkapkan anak-anak di Hong Kong menghabiskan 68 persen lebih sedikit waktu di luar rumah selama pandemi, dari rata-rata satu seperempat jam di luar ruangan menjadi hanya 24 menit sehari. Waktu yang dihabiskan untuk menatap layar, di sisi lain, meningkat hampir 3 kali lipat, meningkat dari rata-rata 2,5 jam sehari, menjadi 7 jam sehari.

Anak-anak yang tinggal di Hong Kong sudah menghabiskan lebih sedikit waktu di luar rumah dibandingkan dengan tempat lain di dunia. Di kota yang padat ini, tidak banyak udara segar untuk dimainkan, dan pandemi hanya memperburuk masalah itu. Ini bisa jadi refrensi substansial tidal langsung tentang penduduk di belahan dunia manapun yang padat dengan ruang terbuka yang sempit.

Selama COVID-19, tidak hanya sekolah dan taman bermain yang ditutup, kolam renang, taman, perkemahan, dan aktivitas rekreasi dalam ruangan seperti gym dan arena permainan juga ditutup.

Dengan demikian, anak-anak di Hong Kong tidak punya banyak pilihan selain tetap tinggal di dalam rumah. Karena faktor gabungan dari waktu di luar ruangan dan peningkatan pekerjaan dekat, ada kemungkinan bentuk mata mereka telah berubah selama studi delapan bulan, membuang fokus mereka dan menyebabkan objek yang jauh menjadi kabur.

"Meskipun tidak ada hubungan yang jelas ditemukan antara waktu layar dan perkembangan miopia, waktu layar itu sendiri adalah bentuk kerja jarak dekat," para penulis menjelaskan.

Penelitian ini hanya didasarkan pada data pengamatan, dan waktu layar dan waktu di luar ruangan dilaporkan sendiri. Terlepas dari keterbatasan ini, temuan ini bergabung dengan penelitian yang menunjukkan bahwa pandemi global meningkatkan waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan jarak dekat, yang pada gilirannya meningkatkan risiko miopia pada sekala global.

"Terlepas dari semua keterbatasan penelitian yang tidak dapat diatasi ini, hasil awal kami masih menunjukkan perkembangan miopia yang mengkhawatirkan yang memerlukan tindakan perbaikan yang tepat," tulis para penulis.


Diskusi
Apa kebijakan yang tepat untuk ini? Kebijakan orang tua dengan pengetahuan parenting ditantang saat ini, kita paham bawa risiko dari tatapan layar bagi anak-anak, tapi disisi lain bahwa kita harus mengikuti system yang berlaku, anak-anak harus tetap sekolah dan mendapat pelajaran, guru harus menyelseaikan tugasnya untuk mengajar, maka apa mungkin sistem pusat harusnya membuat sistem khusus dimasa pandemi ini yang lebih bijaksana?

Jika kita boleh berkemungkinan kami sainspedia.org pun ingin memberi usulan berdasarkan studi ini, bagaimana jika kurikulum pendidikan dimasa pandemi ini dirubah secara total. Anak-anak yang dirumahkan tidak harus belajar kurikulum sekolah yang membuat mereka harus stay didekat layar, misalnya anak-anak melalui instruksi guru diberikan kesempatan mengembangkan bangkat mereka sendiri dirumah, memasak, menjahit, menghafal atau lainnya. Dan ketika pandemi ini berlalu, kemudian mereka mempersetasikan aktivitas mereka disekolah. Bagaimana opsi atau pendapat anda, silahkan dikomentar!

Jurnal Refrensi:
  • Xiujuan Zhang, Stephanie S L Cheung, Hei-Nga Chan, Yuzhou Zhang, Yu Meng Wang, Benjamin H Yip, Ka Wai Kam, Marco Yu, Ching-Yu Cheng, Alvin L Young, Mike Y W Kwan, Patrick Ip, Kelvin Kam-Lung Chong, Clement C Tham, Jia Chen, Chi-Pui Pang, Jason C S Yam. 2021. Myopia incidence and lifestyle changes among school children during the COVID-19 pandemic: a population-based prospective study. Opthalmology: https://bjo.bmj.com/content/early/2021/07/15/bjophthalmol-2021-319307


Post a Comment for "Sekolah Online Selama Pandemi, Meningkatkan Rabun Jauh Anak dalam Skala Global"