Tuesday, October 29, 2019

Kandungan Senyawa Daun Kumis Kucing dan Manfaatnya

Di Indonesia terdapat sekitar 207 ha lahan budidaya tumbuhan kumis kucing. Sementara itu terdapat rata-rata 54 ton kumis kucing kering/tahun dipanen dari alam secara liar atau sekitar 60 % dari total produksi bukan hasil budidaya (Aminudin, 2005). Sentra penanaman kumis kucing banyak terdapat di Pulau Jawa (Anonim, 2010).

Nama daerah tanaman kumis kucing di daerah antara lain, kumis kucing (Sunda), remujung (Jawa), se saleyan (Madura) songot koceng (Madura) (Heyne, 1987).
 Klasifikasi tanaman kumis kucing (Orthosiphon stamineus Benth.).
  • Divisio : Spermatophyta
  • Sub divisio : Angiospermae
  • Classis : Dicotyledoneae
  • Sub Classis : Sympetalae
  • Ordo : Tubiflorae / Solanales
  • Famili : Labiatae
  • Genus : Orthosiphon
  • Species : Orthosiphon stamineus Benth (Van Steenis, 1947).
Kandungan Senyawa daun kumis kucing, yaitu: 
  • Daun kumis kucing mengandung beberapa senyawa kimia antara lain minyak atsiri 0,02-0,06%, terdiri dari 60 macam seskuiterpen dan senyawa fenolik (Sudarsono dkk., 1996). 
  • Tanaman ini juga mengandung Benzokhromon, Orthokhromen A, methyl riparikhromen A dan asetovanillochromen. Diterpen, isopimaran–type diterpen (orthosiphones dan orthosiphol), primaran–type diterpen (neoorthosiphol dan staminol A). Flavonoid, sinensetin, tetrametil sculaterin dan tetramethoksiflavon, eupatorin, salvigenin, circimaritrin, piloin, rhamnazin, trimethilapigenin, dan tetrametilluteonin, kadar flavonoid lipofilik pada daun kumis kucing ini antara 0,2-0,3%, kadar flavonoid glikosida juga sekitar itu. Kandungan lain pada tanaman ini antara lain asam kafeat dan turunannya (contoh asam rosmarat) inositol, fitosterol (contoh β-sitosterol) dan garam kalium (Barnes et al., 1996).
Manfaat tanamam kumis kucing, yaitu:
      Tanaman kumis kucing mempunyai banyak manfaatnya untuk pengobatan. Bagian tanaman yang biasa digunakan adalah herba baik segar maupun yang telah dikeringkan. Teh yang dibuat dari daun yang dikeringkan mempunyai reputasi yang baik sebagai obat-obatan terhadap penyakit ginjal (Van Steenis, 1947).
  • Kumis kucing berkhasiat diuretik, di Jawa digunakan untuk pengobatan hipertensi dan diabetes, tanaman ini juga sudah digunakan masyarakat untuk pengobatan pendarahan, ginjal, batu empedu, gout dan rematik (Barnes, 1996).
  • Beberapa penelelitian yang telah dilakukan antara lain: kemampuan infusa daun kumis kucing secara in-vitro untuk melarutkan kalsium batu ginjal pada konsentrasi 5%; 7,5% dan 10% (Cahyono, 1990). 
  • Uji toksisitas terhadap Arthemisia salina dengan ekstrak kloroform daun kumis kucing menunjukkan gabungan fraksi 4-5 fraksi kloroform larut metanol merupakan fraksi yang paling toksik terhadap Arthemisia salina. Senyawa yang terdapat dalam fraksi tersebut adalah senyawa fenol, flavonoid, dan terpenoid (Utami, 2005). 
  • Isolasi dari gabungan fraksi 7 dan 8 ekstrak kloroform larut metanol daun kumis kucing diperoleh 1 isolat yang aktif pada uji sitotoksisitas pada sel HeLa dan sel Raji. Senyawa yang terdapat dalam fraksi tersebut adalah senyawa fenol, flavonoid, dan terpenoid (Thoyibah, 2006). 
  • Penelitian Anindhita (2007) menunjukkan adanya daya antiinflamasi infusa herba kumis kucing dengan konsentrasi 5%, 10%, 20% pada tikus putih jantan galur Wistar.  Penelitian terhadap flavonoid dari beberapa tanaman mempunyai efek farmakologis sebagai antiinflamasi (Narayana et al., 2001). 

  • Air rebusan daun kumis kucing, Orthosiphon aristatus (BL.) MIQ (Lamiaceae) yang telah diresepkan dalam pengobatan tradisional Jawa (jamu) untuk pengobatan hipertensi dll, dipartisi menjadi campuran kloroform dan air. Bagian yang larut dalam kloroform menunjukkan efek penghambatan pada respons kontraktil pada otot polos aorta toraks tikus dirangsang dengan KCl sebelumnya, sedangkan bagian yang larut dalam air tidak menunjukkan efek. Porsi yang larut dalam kloroform dipisahkan untuk menghasilkan benzokromena baru [ortokromena A (7)], dua diterpen tipe isopimarane baru [ortosiponon A (10), ortosiponon B (11)], dan dua novel bermigrasi yang diterpen tipe-pimaran [neoorthosiphol] A (12), neoorthosiphol B (13)], bersama dengan delapan senyawa yang diketahui (1-6, 8, 9). Di antara ketiga belas zat itu, ditemukan bahwa unsur utama dalam rebusan air daun, methylripariochromene A (5), menunjukkan penurunan tekanan darah sistolik yang terus-menerus setelah pemberian subkutan pada tikus hipertensi spontan (SHRSP) yang rentan terhadap stroke secara spontan. (Kazuyoshi, 2000)
  • Orthosiphon stamineus B (Indonesia: Kumis Kucing) merupakan salah satu tumbuhan sangat popular sebagai sumber pengobatan herbal, pada umumnya dikumpulkan dari pulau Jawa. Aktivitas biologis, terutama akivitas antioksidan yang ditunjukkan oleh tanaman ini diduga disebabkan oleh senyawa golongan fenolat, khususnya senyawa flavonoid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan total fenolat dan flavonoid terbesar berada dalam ekstrak etil asetat berturut-turut sebesar 559 mg asam galat ekuivalen/g ekstrak dan 3550 mg kuersetin ekuivalen/g ekstrak. Aktivitas antioksidan tertinggi juga dimiliki oleh ekstrak etil asetat dengan nilai EC50 sebesar 51, 02 μg/mL. Nilai aktivitas antioksidan yang ditunjukkan oleh semua fraksi dalam daun kumis kucing sangat memungkinkan bahan ini dapat digunakan sebagai sumber antioksidan. (Putri, dkk. 2010).
  • Diabetes melitus memiliki prevalensi yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun sehingga dibutuhkan obat yang efektif dan ekonomis untuk menanggulangi sindroma metabolik ini. Ekstrak daun kumis kucing (Orthosiphon aristatus) memiliki kandungan flavonoid dan saponin yang berkemampuan menurunkan kadar glukosa dalam darah, sehingga dapat dijadikan sebagai obat tradisional yang efektif dan ekonomis. (Victoria, dkk. 2012).
  • Salah satu tumbuhan yang mungkin cukup berpotensi sebagai bahan alami pengawet kayu adalah kumis kucing (Orthosiphon sp.). Tumbuhan kumis kucing mengandung bahan bioaktif sepertisaponin dan tanin. Menurut penelitian (Abdul aziz, dkk. 2013) Semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun kumis kucing yang digunakan maka semakin rendah derajat kerusakan yang terjadi akiba serangan rayap.
  • Rebusan tanaman daun kumis kucing mampu menurunkan beberapa kadar logam berat dalam tubuh. Sebuah penelitian dilakukan, untuk mengetahui respon terhadap logam berat dalam hati dan usus sapi. Hasil yang didapat bahwa daun kumis kucing mampu menurunkan kadar logam berat hingga ambang batas pada konsentrasi 5 dan 10%. (Dwiloka, 2006).
  • Tanaman kumis kucing secara empiris digunakan masyarakat untuk pengobatan penyakit gout dan rematik. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk megetahui daya antiinflamasi ekstrak daun kumis kucing (Orthosiphon stamineus Benth.) Sebuah penelitian yang dilakulan pada tikus mengenai efek inflamantasi. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol daun kumis kucing mempunyai efek antiinflamasi pada tikus putih jantan galur Wistar. Ekstrak etanol daun kumis kucing pada dosis 123, 245, dan 490mg/kgBB menghasilkan persen daya antiinflamasi berturut turut 33,11%; 52,64% dan 64,12% (Sigit, 2008).


Refrensi:
  • Kazuyoshi Ohashi, Takako Bohgaki, Hirotaka Shibuya Yakugaku zasshi. 2010. Zat antihipertensi di daun kumis kucing (Orthosiphon aristatus) di Pulau Jawa. Jurnal Masyarakat Farmasi Jepang 120 (5), 474 - 482, 2000.
  • Dwiloka, B., dkk. 2006. Kandungam logam berat pada hati dan usus sapi yang dipelihara di TPA jatibarang semarang setelah direbus dengan daun kumis kucing. Undip
  • Putri Pratiwi, Meiny Suzery, Bambang Cahyono. 2010. Total Fenolat dan Flavonoid dari Ekstrak dan Fraksi Daun Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus B.) Jawa Tengah serta Aktivitas Antioksidannya
  • Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Kumis Kucing (Orthosiphon Aristatus) Victoria Cyntia Yogya Astuti, S Widodo. 2012. Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Tikus Wistar yang Diinduksi Aloksan.
  • Sigit Prayoga. 2008. Efek Antiinflamasi Ekstrak Etanol Daun Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus Benth.) Pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
  • Van Steenis, C. G. G. J, 1947, Flora Untuk Sekolah di Indonesia, diterjemahkan oleh Surjowinoto, M., dkk., Pradnya Paramita, Jakarta.
  • ABDUL AZIS , T.A. PRAYITNO, SUTJIPTO A. HADIKUSUMO2 & MAHDI SANTOSO. 2013. UJI EKSTRAK ETANOL KUMIS KUCING (Orthosiphon sp.) SEBAGAI PENGAWET ALAMI KAYU. Universitas palangkaraya. 
Previous Post
Next Post

0 komentar:

santun