Penentuan bilangan iod, konsep dan metode (Logika kimia)

Penentuan bilangan iod, konsep dan metode (Logika kimia)

Bilangan iod atau juga diesebut angka iod adalah suatu ukuran untuk mengetahui jumlah ketidak jenuhan asam lemak dalam minyak. Penentuan bilangan iod berfungsi menentukan kualitas minyak, minyak nabati sebagai bahan makanan umumnya memiliki bilangan iod yang besar namun memiliki ketahanan yang lemah terhadap oksidasi. Adanya ikatan rangkap dalam ketidak jenuhan asam lemak adalah faktor yang membuatnya menjadikan sebagai gugus yang dapat menerima electron. 


Bilangan  iod adalah jumlah (gram) iod yang dapat diikat oleh 100 gram minyak atau lemak. Ikatan rangkap yang terdapat dalam asam lemak tidak jenuh akan bereaksi dengan iod atau senyawa- senyawa iod. Trigeliserida dengan tingkat ketidak jenuhan tinggi akan mengikat iod dalam jumlah yang lebih besar (Rahmani, 2008).

Semakin tinggi bilangan iodi artinya semakin banyak ikatan rangkap (C=C) asam lemak tersebut

Penentuan Bilangan iod didasarkan pada perinsip iodometri dengan larutan wijs dimana larutan wijs yang mengandung ICl akan mengadisi ikatan rangkap pada minyak, sisa ICl yang tidak mengadisi ikatan rangkap akan bereaksi dengan KI membentuk iod (Gustiani, 2008). Analisisi bilangan  iodin merupakan contoh iodometri. Reaksi kimia dengan metoe ini menghasilkan pembentukan  diiodo alkana (dua iod dalam rantai kimkia).

Awalnya adalah (RCH=CHR) merupakan contoh ikatan rangkap dalam asam lemak, dan setelah bereaksi dengan iod menghasilkan (RHCI-CHIR).

Metode penentuan biloangan iod

Sebanyak 0,5 g sampel minyak dilarutkan dalam 10 mL kloroform, kemudian ditambahkan 25 mL larutan Wijs (ICl) dan didiamkan selama 30 menit. Selanjunya ditambahkan 10 mL larutan KI 15% dan di kocok. Larutan dititrasi dengan Na2S2O3 0,1 N sampai larutan berwarna kuning muda pucat. Larutan ditambahkan 1 mL larutan kanji (larutan menjadi biru), kemudian dititrasi lagi sampai warna biru hilang. Angka iod adalah selisih antara jumlah titrasi sampel dengan jumlah titrasi blanko. (Mahsun, 2019)

Angka Iod = (B-A) x N x 12,69/ gr Minyak

Keterangan:
A  =jumlah mL tiosulfat yang dibutuhkan untuk titrasi blanko
B  =jumlah mL tiosulfat yang dibutuhkan untuk titrasi sampel
N  =Normalitas larutan tiosulfat Berat ekivalen Iod
12,69 = Berat ekivalen iod/10

         = Mr  dari I2 adalah 127x2 = 253,8

          = Be I adalah 253,8/2 = 127 gr

          = 100 gram iod = 127/10 = 12,7

1/10 adalah factor konversi agar satuan menjadi gram iod/100 gram.

Contoh:

v  Titrasi Blanko

Jumlah titrasi (ml) yang dibutuhkan untuk titrasi blanko adalah 28.6 ml.


v  Tanpa pemurnian 14,3 ml 

Bilangan Io   = (28,6 - 14,3) x 0,1 x 12,691/ 0,5gram

          = 36,296


Penejelasan dari penentuan diatas:

Minyak yang digunakan diketahui memiliki asam lemak tidak jenuh (C=C) bereaksi dengan larutan wijs yang memiliki senyawa iodin bereaksi membentuk (IC-CCl) atau pemutusan ikatan rangkap.

Larutan wijs adalah iod monoklorida yang telarut dalam asam asetat glacial, dalam penentuan bilangan iod mnoklorida akan bereaksi dengan ikatan rangkap asam lemak. sedangkan Larutan hanus adalah iodin monobromida
 

Pembuatan larutan wijs

I2 + ICl2 àß 3ICl

Reaksi larutan wijs  dengan asam lemak tak jenuh (adisi)

C=C + 2ICL àß IC-CCl + ICl





Asumsi kita bahwa larutan wijs masih ada senyawa iodine yang tidak dipakai untuk berekasi dengan asam lemak tidak jenuh, jadi untuk mngetahui berapa banyak larutan iodine yang digunakan untuk bereaksi dengan asam lemak tidak jenuh  kita hanya perlu tau berapa sisa iodine dalam larutan wijs yang tidak digunakan. Untuk mengetahui jumlah sisa dari iodine dalam larutan wijs yang tidak bereaksi dengan asam lemak tidak jenuh maka direaksikan dengan larutan KI reaksi antara KI dan Wijs (iodine yang tersisa) membentuk gas iodine (I2).

Reaksi kimia yang tejadi

ICl + KI à I2 + KCl

Adanya gas iodine ini dihitung sebagai jumlah dari larutan wijs yang tidak dipakai atau sisa. Logikanya kita tau jumlah total dari laurtan wijs kemudian kita ketahui sisanya, otomatis nantinya kita akan ketahui berapa iodine dalam rautan wijs yang dipakai dalam reaksi adisi (pemutusan ikatan rangkap).

Gas iodine (I2) kemudian dititrasi dengan natrium tiosulfat (Na2S2O3) dengan asumsi bahwa jumlah natrium tiosulfat yang dipakai titrasi sebanding dengan gas iodine. Reaksi titrasi gas iodine dengan natrium tiosulfat

I2 + Na2S2O3 à 2NaI + Na2S2O3

Sedangkan larutan amilum bertindak sebagai indicator warna untuk menentukan titik akhir titrasi.

Reaksi indicator

Amilum + 2I2 à Amilum-I2 (Biru) + H2O

Amilum-I2 + 2Na2S2O3 à Amilum-Na +I2

Setelah kita mengetahui sisa dari jumlah sisi Iodin dalam larutan wijs yang dipakai pada reaksi adisi ikatan rangkap asam lemak tidak jenuh. Maka tentukan dengan pasti berapa jumlah larutan wijs total yang digunakan, caranya diseut seaga titrasi belangko. Dengan perlakuan sama hanya tidak menggunakan sampel minyak (hanya memankan bahan).

Contoh:

Standar SNI minyak goring untuk bilangan iod adalah 45-46 g I2/100 gr (SNI, 1995)
Standar SNI Minyak Nabatis ebagai bahan bakar adalah Maks 115 (SNI, 2013)



Wikipedia.org

0 Response to "Penentuan bilangan iod, konsep dan metode (Logika kimia) "

Post a Comment

santun

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel