Saturday, December 15, 2018

Makanan Organik memiliki dampak Iklim lebih buruk dibanding Makanan non Organik

Ini adalah tentang Iklim yang artinya menyangkut banyak kehidupan didalamnya , jika bicara masalah kesehatan dari makanan organik maka tentu hanya manusia dalam lngkungan tertentu yang diuntungkan .



Sebuah Studi Internasional yang melibatkan Universitas Tekhnologi Chalmers , yang diterbitkan dalam jurnal Nature dengan judul “ Menilai  efisiensi perubahan penggunaan lahan untuk mitigasi perubahan iklim”. Para peneliti mengembangkan metode baru dalam menilai dampak Iklim dari penggunaan lahan yaitu dengan membandingkan produksi Pangan Organik dan Non organk (Konvensional) .

Produksi pangan Organik adalah produksi yang hanya melibatkan unsur – unsur alam tanpa bahan kimia , sehingga makanan yang diperoleh merupakan hasil dari proses panjang secara alami sedangkan , Pproduksi pangan non orgnik (Konvensional) adalah produk yang menggunakan pendekatan atau teknologi modern , menggunakan bahan-bahan kimia untuk mempercepat proses dan meningkatkan hasil produksi .

Hasil dari penelitian tersebut adalah bahwa Produksi makanan Organik menghasilkan Emisi lebih besar dari produksi konvensional .

Alasan mengapa makanan organik jauh lebih buruk untuk iklim dari bahan makanan produksi konvensional adalah hasil produksi per-hektar lebih rendah , karena pupuk tidak digunakan . untuk menghasilkan jumlah makanan organik yang sama dengan hasil produksi non Organk (konvensional) yang menggunakan pupuk dan sebagainya , maka dibutuhkan lahan yang jauh lebih besar . sehingga dampak iklimnya menjadi lebih besar.

Kesimpulan pada penlitian ini adalah pebedaan dalam menggunakan lahan untuk menghasilkan makanan organik menyebabkan dampak iklim yang lebih besar .

Produksi pangan dunia diatur oleh perdagangan internasional , jadi permintaan yang besar akan mempengarui deforestasi didaerah tropis . pada prduksi makanan organik , untuk mendapatkan jumlah makanan yang sama dengan produksi konvensional maka akan dibutuhkan lahan yang lebih besar dan secara tidak langsung terlibat dalam deporestasi . “Penggunaan lahan yang lebih besar dalam pertanian organik secara tidak langsung mengarah pada emisi karbon dioksida yang lebih tinggi , berkat deforestasi “ Stefan Wirsenius.

Bahkan daging organik dan produk susu dalam sudut pandang iklim lebih buruk daripada ekivalen yang diproduksi secara konvensioanal. Stefen wirsenius , salah satu penanggung jawab dalam penelitian tersebut .

Metode perhitungan baru yang digunakan para peneliti  disebut “biaya peluang karbon” . untuk mengevaluasi efek penggunaan lahan yang lebih besar yangberkontribusi terhadap emisi karbondioksia yang lebih tinggi darpada deforestasi . metric ini memperhitungkan jumlah karbon yang disimpan dihutan , sehingga di catat sebagai karbondioksida sebagai efek dari deforestasi .

Menurut para peneliti , jika masyarakat ingin berkontribusi pada asfek positif dari produksi makanan organik tanpa meningkatkan dampak iklim . cara yang efektif adalah dengan berfokus pada jenis makanan , daging atau sayur berbeda yang tidak mempengaruhi perubahan iklim . misalnya dengan mengganti daging sapi atau domba  , keju keras , protein nabati sperti kacang , yang memiliki efek besar.

Hal terpenting pada penelitian ini  menjelaskan dan menambah wawasan kita tentang pilihan dalam kehidupan , pada bebrapa aspek makanan organik adalah yang terbaik dan terpenting untuk kesehatan dan kesejahtraan ternak . penggunaan Pestisida alami atau menggunakan unsure nutrisi tanah secara alami dapat menjaga kesimbangan keanekaragaman hayati antara hewan dan lingkungan . yang sering menjadi masalah serius akibat dari pestidida berbahan kimia .

Sehingga pada penelitian ini menunjukkan letak masalah yang sebenarnya yatu penggunaan lahan yang terlalu berlebihan untuk hasil yang sama dilahan yang lebih kecil, sehingga terjadi deforesasi akibat pertanian komersil organik menyebabkan hal buruk pada iklim.  terlibih pada budidaya tanaman sustainable oil atau untuk minyak nabati berkelanjutan yang luas msalnya untuk  Bio-fuel , menurut para peneliti menyumbang emis karbon yang sangat tnggi dan tidak ada program yang disebut program pintar untuk masalah tersebut .


Journal Reference :
1. Timothy D. Searchinger, Stefan Wirsenius, Tim Beringer, Patrice Dumas. Assessing the efficiency of changes in land use for mitigating climate change .
Nature, 2018; 564 (7735): 249 DOI: 10.1038/s41586-018-0757-z

Source : dailyscience
Previous Post
Next Post

0 komentar:

santun