Wednesday, October 10, 2018

Kegagalan Sel Pembunuh Alami (Sel NK) Menanggapi Infeksi Malaria

Sebuah study yang didanai oleh National Research Foundation of Singapore melalui SMART Interdisciplinary Reseach Group dalam program penelitian penyakit infeksi .



Para peneliti Berusaha memecahkan misteri tentang Kegagalan sel pembunuh alami atau yang disebut sel NK  dalam menangapi infeksi penyakit menjelaskan mengapa penyakit tersebut berefek berat pada beberapa pasien.  sedikitnya ada 250 juta orang terinfeksi malaria setiap tahun dan setengah juta meninggal . studi yang dilakukan di MIT singapore memberikan penjelasan tentang mengapa sebagain orang mengalami infeksi lebih berat dan berpotensi fatal? . Para peneliti menjelaskan  bahwa pada beberapa pasien dengan sel kekebalan yang disebut sel pembunuh alami (sel NK)  gagal mengaktifkan gen yang diperlukan untuk secara efektif menghancurkan sel darah merah yang terinfeksi malaria .

 Para peneliti juga mengatakan menemukan cara untuk merangsang sel NK agar dapat  melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam membunuh sel darah merah yang terinfeksi  yang dapat membantu pasien dalam mengurangi tingkat keparahan infeksi . Fakta yang ditemukan , sebagian besar pasien malaria yang meninggal adalah pasien anak –anak dibawah umur 5 tahun dengan alasan system kekebalan mereka belum terbentuk.

Alur penelitian 

          Pada tahun 2010 , Jianzhu chan dan rekannya merakayasa strain tikus yang menghasilkan beberapa jenis sel kekebalan manusia dan sel darah merah . tikus manusiawi ini dapat digunakan untuk mempelajari respon kekebalan tubuh manusia terhadap pathogen yang biasanya tidak menginfeksi tikus , seperti plasmodium falciparum , penyakit yang menyebabkan malaria . Beberapa tahun kemudia , para peneliti menggunakan tikus tersebut untuk menyelidiki peran sel NK dan makrofag dalam infeksi malaria . kedua tipe sal tersebut adalah pemain kunci dalam system tubuh bawaan , respon nonsfesifik yang bertindak sebagai garis pertahanan pertama melawan banyak mikroba.

Hasilnya

Peneliti menemukan bahwa ketika mereka mengeluarkan sel NK manusia dari tikus dan menginfeksi mereka dengan malaria , kuantitas parasit dalam darah jauh lebih banyak dari pada tikus dengan sel NK . ini tidak terjadi ketika mereka mengeluarkan makrofag manusia , menunjukan bahwa sel NK adalah pembela garis depan yang paling penting terhadap malaria . sel pembunuh alami (NK) mengikuti sel darah merah yang terinfeksi dan menghancurkannya .

Point


  • weijen ye , salah satu peneliti dalam penelitian itu menemukan bahwa sekitar 25% sampel darah merah yang mereka gunakan sel- sek NK tidak menanggapi sel malaria sama sekali . kemudian peneliti mencari tau mengapa hal itu terjadi , mereka mengurutkan sel RNA NK sebelum dan sesudah mereka menemukan sel darah merah yang terinfeksi malaria . hal ini memungkinkan para peneliti mengidentifikasi sejumalh kecil gen yang berubah pada sel NK yang responsive terhadap malaria tetapi tidak dalam sel yang tida responsive . diantara gen- gen tersbebut ada gen yang mengkode protein yang disebut MDA5 yang sudah diketahui terlibat dalam dalam membantu sel- sel kekabalan tubuh seperti sel NK dan makrofag menganali RNA asing .
  •  penelitian lebih lanjut mengungkapkan bahwa sel darah merah yang terinfeksi malaria mengeluarkan gelembung kecil yang disebut mikrovesik yang membawa potongan RNA dari parasit malaria . studi juga menyebutkan bahwa sel-sel NK menyerap mikrovesik ini . jika MDA5 hadir , sel NK diaktifkan untuk membunuh sel darah yang terinfeksi . sel NK nonresponsive yang memiliki tingkat MDA5 lebih rendah gagal mengenali dan membunuh sel yang terinfeksi . Sel NK juga bertanggung jawab untuk mensekresi sitokin yang memanggil sel T dan sel kekebalan lainnya . sehingga kegagalan mereka untuk mengaktifkan juga menghambat elemen lain dari respon imun .


Solusi

Peneliti mengatakan bahwa mereka dapat mengaktifkan sel NK non responsive dengan bantuan senyawa atau molekul sintesis yang disebut poli I: C , yang strukturnya mirip dengan RNA ganda . molekul atau senyawa sintesis tersebut dibuat menjadi bola- bola kecil yang disebut liposom  sehingga dapat memasuki sel-sel seperti mikro-magnetik RNA. Dan hal itu berhasil dilakukan dalam piring lab ,  selanjutnya peneliti akan mengujinya pada tikus untuk mengetahui adanya korelasi dengan pemberian poli I: C  sampai akhirnya ini dapat digunakan pada pasien

Sumber:

Scientific . today

Previous Post
Next Post

0 komentar:

santun