Problema Nilai instrinsik uang

Problema Nilai instrinsik uang


Ketika nilai instrinsik lebih mahal dari nilai nominalnya Para penambang kering , dapat menambang uang dari uang .


Mungkin sudah terlambat untuk dibahas , tapi untuk dijadikan alasan karena mungkin 5 atau 10 tahun kedepan kita tak akan menemukan uang logam lagi . sejarah dibuatnya mata uang tak lepas dari sejarah perjalanan manusia yang dimulai dari masa berburu –nomadik – menetap- bercocok tanam hingga barter .
Sejak kemerdekaan kita, Indonesia telah mengeluarkan berbagai bentuk pecahan uang logam, ada yang terbuat dari nickel, kuningan, alumunium bahkan yang terbaru berbahan bimetal. Secara keseluruhan Indonesia memiliki 16 jenis pecahan dari yang terkecil yaitu 1 sen s/d yang terbesar 2000 rupiah.
Pecahan-pecahan tersebut adalah:
1. 1 sen
2. 5 sen
3. 10 sen
4. 25 sen
5. 50 sen (2 jenis)
6. 1 rupiah
7. 2 rupiah
8. 5 rupiah (3 jenis)
9. 10 rupiah (3 jenis)
10. 25 rupiah (2 jenis)
11. 50 rupiah (3 jenis)
12. 100 rupiah (4 jenis)
13. 200 rupiah
14. 500 rupiah (2 jenis)
15. 1000 rupiah (2 jenis)
16. 2000 rupiah


       Tembaga ,Seng .Nikel ,Alumunium ,Mangan—jarang digunakan karena penampakan koin tidak bagus dan mudah aus
Ø  Logam tahan lama—diharapkan mampu beredar selama 30 tahun
Ø  memiliki ketahanan aus sangat baik dan
Ø  anti-korosi
       Untuk memenuhi sifat2 tersebut maka dibuatlah Alloy atau paduan logam

Namun resiko dari penggunaan uang logam , yaitu :
Nilai nominal kadang lebih rendah dari nilai intrinsik atau sebaliknya:
                Contoh beberapa kasus:
       Di USA—keping  1 sen dollar terdiri dari 2.5% tembaga dan 97.5% seng, dengan berat keseluruhan 2.5 gram. Sedangkan keping nikel (5 sen) terdiri dari 25% nikel dan 75% tembaga, dengan berat keseluruhan 5 gram.
                Menurut Bursa Logam London harga tunai ketiga bahan dasar tersebut (jika masih menggunakan patokan harga tahun sebelum-seblumnya) masing-masing adalah:
      Tembaga: US$ 6673,18/ton
      Nikel: US$ 34559/ton
      Seng: US$ 4404,51/ton
                Dengan data tersebut, dapat diketahui bahwa harga bahan dasar ketiga jenis keping koin tersebut adalah:
      1 sen: 1,1115 sen
      5 sen: 6,822 sen
Artinya ; bahwa melebur uang 1 sen/5 sen lebih menguntungkan . Sehingga di USA ada peraturan untuk  melarang peleburan logam mata uang

                Hal sebaliknya terjadi diindonesia

       Uang logam Rp 100 keluaran 1999 terbuat dari aluminium seberat 1.79 gram.
      Harga 1 ton aluminium di Pasar Logam London adalah US$ 2813,14 atau kurang lebih Rp 25.526.910.
      1 gram aluminium berharga kurang lebih Rp 25.5, atau 1.79 gram berharga kurang lebih Rp 45.7.
      Nilai tukar Rp 100 keluaran 1999 adalah Rp 100, tetapi nilai logam pembentuknya adalah Rp 45.7.
        
Artinya : melebur uang Rp 100 keluaran 1999 tidak menguntungkan Tetapi memalsukan uang Rp 100 menjadi hal yang menguntungkan.

Sejarah  uang kartal 


Uang logam pertama kali dibuat oleh Bangsa Lydia pada Abad ke-6 sebelum masehi. Uang logam yang mereka ciptakan terbuat dari elektrum, suatu bahan yang merupakan campuran emas dan perak dengan komposisi emas 75% dan perak 25%. Uang logam itu disebut “stater” atau “standard” dengan bentuk bulat pejal seperti kacang polong. Kemudian, Bangsa Yunani melihat uang logam tersebut dan membuat uang logam versi mereka sendiri sekitar 560 – 546 SM yang diciptakan oleh Croesus. Selanjutnya Bangsa Yunani lebih dikenal sebagai bangsa pembuat uang logam karena mereka membuat uang logam dengan berbagai gambar yang menarik. Zaman dulu, uang dihargai sesuai dengan nilai bahan penyusunnya.
Bersamaan dengan itu, medium uang yang berfungsi sebagai intrumen alat bayar, mulai dikembangkan dan dibuat dari berbagai benda padat lainnya seperti tembikar, keramik atau perunggu. Desa Jachymod di Ceko, Eropa Timur, dianggap sebagai wilayah pertama yang menggunakan mata uang yang diberi nama dollar, yang merupakan mata uang yang paling populer di abad modern dan muncul di akhir abad 19. Mulanya disebut Taler, kemudian orang Italia mengejanya Tallero, lidah Belanda menuturkan daler, Hawai dala, dan dalam dialek Inggris diungkapkan sebagai dollar. Embrio dollar dibuat dari bahan baku perak dan emas dalam bentuk koin, yang penggunaannya berkembang di banyak negeri atau negara. Sejatinya Taler sendiri adalah sebutan mata uang yang berkembang di daratan benua Eropa sejak abad 16, yang jenisnya lebih dari 1500, namun dalam peradaban modern, masing – masing bangsa atau Negara menciptakan sebutan tersendiri bagi mata uangnya untuk menunjukkan statusnya yang independen.
 Munculnya uang kertas
Sejalan dengan perkembangan perekonomian, timbul kesulitan ketika perkembangan tukar-menukar yang harus dilayani dengan uang logam bertambah sementara jumlah logam mulia (emas dan perak) sangat terbatas. Penggunaan uang logam juga sulit dilakukan untuk transaksi dalam jumlah besar sehingga diciptakanlah uang kertas.  Dalam sejarah pemakaian kertas sebagai bahan uang, Cina dianggap sebagai bangsa yang pertama menemukannya, yaitu sekitar abad pertama Masehi pada masa Dinasti T’ang. Penemunya Ts’ai Lun yang hidup di negeri kuno sekitar abad kedua Masehi. Lun konon membuat kertas pertama dari kulit kayu pohon murbei yang daunnya sebagai pakan ulat untuk industri sutra Cina. Sejarah yang lain mengatakan, jauh sebelum Lun, orang Mesopotamia juga sudah pernah membuat uang kertas. Namun berulangkali gagal karena bahan baku yang dipakai tidak sekuat bahan yang digunakan Lun. Di Cina pada zaman Kaisar Tsing 300 tahun sebelum Lun, juga pernah dicoba oleh pegawai kerajaan. Namun kandas sebab bahan bakunya mudah sobek. Baru setelah tahu bahwa Lun menemukan kulit kayu murbei sebagai bahan yang kuat, dan Lun sendiri berhasil membuktikan bahan itu layak menjadi bahanbaku mata uang, akhirnya para birokrat kerajaan Cina memproduksi mata uang kertas pertama di dunia.

           Uang kertas cukup lama beredar di Cina dan di negeri lain tetap memakai uang koin. Baru setelah Marcopolo singgah ke Cina pada abad ke-13, bangsa lain mengenal uang kertas dan meniru kreasi bangsa Cina itu.
Di abad modern, Benjamin Franklin (Amerika) ditetapkan sebagai Bapak Uang Kertas karena ia yang pertama kali mencetak dollar dari bahan kertas, yang semula digunakan untuk membiayai perang kemerdekaan Amerika Serikat. Sebagai penghormatan pemerintah terhadap Benjamin Franklin, potretnya diabadikan di lembaran mata uang dollar pecahan terbesar (USD100).
Saat ini uang koin maupun uang kertas tetap digunakan sebagai alat transaksi pada berbagai mata uang di seluruh penjuru dunia. Keduanya masuk kategori uang tradisional, sebab kini sudah ada uang dalam bentuk baru, yakni uang elektronik. Uang elektronik banyak bentuknya ketimbang uang koin maupun uang kertas. Kita mengenal istilah uang ini dalam beberapa jenis, seperti e-cash, e-money, cyber cash, DigiCash, cyberbuck, dan entah berapa banyak lagi. Dengan semakin berkembangnya uang, semakin memudahkan kita dalam bertransaksi karena tidak harus membawa uang dalam bentuk fisik. Jack Weatherford mengatakan, “uang elektronik” menyerupai bentuk-bentuk uang primitif yang beraneka ragam – kulit kerang cowrie, gigi binatang, dan manik-manik.


0 Response to "Problema Nilai instrinsik uang "

Post a Comment

santun

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel