Sunday, September 4, 2016

PEMISAHAN ION Cu2+ DAN Zn2+ DENGAN EKSTRAKSI PELARUT' Laporan Praktik terbaru


ACARA IV


PEMISAHAN ION Cu2+ DAN Zn2+ DENGAN EKSTRAKSI PELARUT

A.  PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1.        Tujuan Praktikum       
a.    Untuk mempelajari cara pemisahan ion logam Cu2+ dan Zn2+ dengan ekstraksi pelarut yang melibatkan pembentukan   kompleks khelat logam.
b.    Untuk mempelajari pengaruh pH awal larutan terhadap persen ekstraksi masing-masing ion logam.
2.        Waktu Praktikum
Rabu, 30 April 2014
3.        Tempat Praktikum
Lantai III, Laboratorium Kimia Dasar, Fakultas MIPA, Universitas  Mataram.

B.  LANDASAN TEORI
Ekstraksi pelarut menyangkut distribusi suatu zat terlarut (solut) di antara dua fasa cair yang tidak saling bercampur. Secara umum, ekstraksi adalah proses penarikan suatu zat terlarut dari larutannya di dalam air oleh suatu pelarut lain yang tidak dapat bercampur. Pelarut yang umum dipakai adalah air dan pelarut organik lain seperti CCl4, eter atau pentana. Garam anorganik, asam-asam dan basa-basa yang dapat larut dalam air bisa dipisahkan dengan baik melalui ekstraksi ke dalam air dari pelarut yang kurang polar. Ekstraksi lebih efisien bila dilakukan berulang kali dengan jumlah pelarut yang lebih kecil daripada jumlah pelarutnya banyak tetapi ekstraksinya hanya sekali (Arsyad, 2001 : 78).Proses ekstraksi pelarut berlangsung tiga tahap, yaitu pembentukan kompleks tidak bermuatan, distribusi dari kompleks yang terekstraksi, dan interaksinya yang mungkin dalam fasa organik. Pada pembentukan kompleks tidak bermuatan merupakan tahap paling penting dalam ekstraksi. Jelaslah bahwa kompleks bermuatan tidak akan terekstraksi sehingga mutlak kompleks diekstraksi harus tanpa muatan. Kompleks tidak bermuatan dapat dibentuk melalui proses pembentukan khelat (yaitu khelat netral), solvasi atau pembentukan pasangan ion. Jadi, jika M adalah ion logam dengan valensi n dan R adalah anion ligan (HR), maka melalui koordinasi kita dapatkan : (Khopkar, 2010 : 93)
                               Mn+ + nR       MRn
Pada umumnya reagen pengkhelat membentuk senyawa kompleks berwarna di dalam pelarut organiknya, dan ini dapat dijadikan dasar untuk penentuan ion logam secara spektrofotometri. Kompleks khelat sering kali tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut-pelarut organik seperti kloroform, karbon tetra klorida, metilena klorida dan lain sebagainya. Pembentukan kompleks khelat merupakan cara yang paling luas penggunaannya dalam ekstraksi ion logam. Anion khelat biasanya digunakan sebagai sequestering agent (agen pengompleks, berperan sebagai ligan) untuk melindungi dari kation-kation pengganggu selama ekstraksi berlangsung. Golongan kompleks yang paling penting adalah Khelat. Ligan pengkhelat mempunyai peranan penting dalam ekstraksi logam sebab banyak logam-logam yang dapat tereksitasi dan sekaligus dipisahkan. Khelat logam merupakan tipe senyawa koordinasi dimana ion logam bergabung dengan basa polifungsional yang mampu menempati dua atau lebih posisi pada lingkaran koordinasi dari ion logam untuk membentuk senyawa siklik. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan khelat yaitu kekuatan basa dari gugus fungsi, elektronegativitas dari atom berkaitan, serta ukuran dan jumlah dari cicin khelat yang terbentuk (Soebagio, 2002 : 86-87).
Salah satu metode pemisahan adalah transpor ion melalui membran cair yaitu metode pemisahan yang selektif, efisien, dan sederhana. Transpor ion ini melalui membran cair memegang peran penting dalam simulasi fungsi membran biologi dan teknologi pemisahan karena efisiensi transpor yang tinggi, selektivitas yang baik dan menguntungkan secara ekonomi. Beberapa penelitian untuk pemisahan logam dengan membran polimer menggunakan reagen ekstraksi pelarut yang tersedia secara komersial sebagai pengemban. Pengemban yang bersifat basa dan netral sering menunjukkan selektivitas yang kurang baik atau rendah untuk ion-ion logam. Selektivitas pengemban asam terhadap ion logam juga relatif rendah dan pada umumnya dikontrol oleh pH. Dalam penelitian ini telah diuji kinerja pengemban asam poli (asam eugenil oksiasetat) hasil sitesis melalui metode transpor membran cair untuk memisahkan ion logam Fe(III), Cr(III), Cu(II), Ni(II), Co(II), dan Pb(II). Kemampuan poli (asam eugenil oksiasetat) untuk memisahkan ion logam Fe(III), Cr(III), Cu(II), Ni(II), Co(II), dan Pb(II) melalui metode transpor membran cair berkaitan dengan kapasitas poli (asam eugenil oksiasetat) menampung ion logam melalui pertukaran proton pada situs aktif asetat yang ada. Dari enam ion logam yang diuji menunjukkan bahwa jumlah ion logam Fe(III) yang tertranspor maksimum pada pH 4, sedangkan ion logam Cr(II), Ni(II), Co(II), Cu(II) dan Pb(II) maksimum pada pH 5. Untuk ion Pb(II) dan Cu(II) pada pH 4 persentase yang tertranspor hampir sama yaitu 33,7 % dan pada pH 5 ion logam Pb(II) dan Cu(II) juga mempunyai kemampuan transpor yang sama yaitu sekitar 36 % (Harimu, 2010).
Logam digunakan   untuk membuat alat perlengkapan rumah tangga seperti sendok, garpu, pisau dam berbagai alat rumah tangga lainnya. Fungsi beberapa logam diantaranya yaitu : kromium (Cr) pewrna cemerlang pada perkakas dari logam, kobalt (Co) sebagai bahan magnet yang kuat pada mikrofon, tembaga (Cu) sebagai kawat listrik, nikel (Ni) sebagai bahan baja tahan karat atau stainless steel, timbal (Pb) sebagai bahan baterai pada mobil, seng (Zn) sebagai bahan pelapis kaleng, dan merkuri (Hg) sebagai bahan pelarut emas. Besarnya pencemaran pada suatu lingkungan habitat dapat diketahui dengan menggunakan biota akuatik sebagai bioindikator. Ikan merupakan biota air yang dapat dijadikan sebagai salah satu bioindikator tingkat pencemaran dalam perairan. Berdasrkan hasil penelitian logam Cu menunjukkan hasil negatif. Penggunaan logam Cu cenderung lebih aman, karena logam jenis ini lebih tahan terhadap berbagai reaksi kimia. sehingga kontaminasi cu sungai Pabelan Kartasura sangat rendah, tidak melewati sandar baku mutu logam Cu yang telah ditentukan yaitu kurang dari 0,02 ppm. Kontaminasi logam Cu terjadi apabila ada pelapukan pada logam yang mengandung cu seperti pipa, konstuksi rumah, berbagai peralatan elektronik dan lain-lain (Saputro, 2013).
Salah satu proses pemekatan yang digunakan untuk pembentukan kompleks yaitu dengan penambahan ligan. Ligan-ligan yang sering digunakan dalam proses kopresipitas antara lain seperti dialkilditiokarbamat, pirolidin ditiokarbamat, ditizon dan masih banyak yang lainnya. Ligan-ligan tersebut dapat membentuk senyawa kompleks dengan logam transisi seperti Cr(VI), Cd(II), Cu(II), Pb(II), Ni(II), Co(II) dan Fe(III). Salah satu ligan pengompleks yang dapat bereaksi dengan ion logam adalah APDC. APDC jika direaksikan dengan Cr(VI) akan membentuk kompleks [Cr(PDC)6], [Cr(PDC)5]+, [Cr(PDC)4]+2, [Cr(PDC)3]+3, [Cr(PDC)2]+4 atau [Cr(PDC)]+5, atau tergantung dari konsentrasi Cu dengan ligannya. Sedangkan jika direaksikan dengan Cu(II) akan membentuk kompleks Cu(PDC)2. Kondisi optimum yang diperoleh dari penentuan kadar Cr(VI) dengan Cu(PDC)2 meliputi pH larutan dicapai pada pH 4, volume ligan APDC 2%. Sebanyak 6 mL dan waktu pengadukan selama 20 menit. Keberadaan logam ini yaitu Cd(II) di dalam analisis Cr(VI) menyebabkan nilai absorbansi semakin naik dan menggangu pengendapan Cr(VI) yang terkopresipitasi dengan Cu(PDC)2 (Pratiwi, 2013).

C.     ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM
1.      Alat-alat Praktikum
a.       Erlenmeyer 100 mL
b.      Erlenmeyer 50 mL
c.       Gelas ukur 50 mL
d.      Gelas kimia 250 mL
e.       Gelas kimia 100 mL
f.       Spatula
g.      Pipet volum 1 mL
h.      Pipet volum 2 mL
i.        Corong kaca 60 mm
j.        Labu alas bulat
k.      Statif
l.        Rubber
m.    Gunting
n.      Spektrofotometer Serapan Atom (ASS)
o.      Botol pail
p.      Pipet tetes
q.      pH stik


2.      Bahan-bahan Praktikum
a.       Cu(NO3)2(aq) 20 ppm
b.      Larutan NaOH 1 M
c.       Larutan HNO3 1 M
d.      Larutan ditizon
e.       Aqaudes (H2O(l))
f.       Larutan Zn(NO3) 40 ppm
g.      Larutan Cu(NO3) 40 ppm
h.      Larutan Zn(NO3)2 20 ppm




D.    SKEMA KERJA
                                  
                         



E.     HASIL PENGAMATAN

No
Prosedur
Hasil pengamatan
1.









2.











3.







3.       
Eksrtaksi ion Cu2+
·     40 mL Cu(NO3)2 diatur pHnya dengan penambahan HNO3 atau NaOH  tetes demi tetes

·     Masing-masing Cu(NO3)2 dengan pH berbeda + 20 mL ditizon 7,5 x 10-4 M dan diekstraksi dalam corong pisah

Ekstraksi ion Zn2+
·         40 mL Zn(NO)3 diatur pHnya dengan penambahan HNO3 atau NaOH tetes demi tetes



·     Masing-masing Zn(NO3)2 dengan pH berbeda + 20 mL ditizon 7,5 x 10-4 M 5 mL dan diekstraksi


Ekstraksi campuran Cu2+  dan Zn2+
-     Cu(NO3)2 + Zn(NO3)2 (40 ppm)
-     Diatur pH 4 dengan menambahkan NaOH atau HNO3
-     Ditambahkan 20 mL ditizon


-          Diekstraksi



-   Untuk pH 1 = 1 tetes HNO3
           pH 2 = 2 teets HNO3
           pH 3 = 3 tetes HNO3
           pH 4 = 4 tetes HNO3
-  Terbentuk dua fase dengan fase air bening diatas, fase organik (ditizon) bari dibawah setelah diekstraksi, diperoleh fase air dengan warna lebih bening dan fase organik biru tua 

-    Untuk pH 6 = 17 tetes NaOH
   pH 7 = 27 tetes NaOH
   pH 8 = 21 tetes NaOH, 1 tetes        HNO3
   pH 9 = 50 tetes NaOH, 40 tetes HNO3
-  Terbentuk dua fase dengan fase air berwarna pink diatas, fase organik (ditizon) merah dibawah setelah diekstraksi, fase air menjadi bening dan fase organik biru tua 

-     Warna larutan tetap bening
-     pH 4 = 16 tetes NaOH, 6 tetes HNO3

-     terbentuk 2 fase, fase air bening diatas fase organik dibawah biru tua

-     seteleh diekstraksi fase organik menjadi biru tua pekat, fase air bening

 2. Tabel Hasil Analisis AAS
a. Untuk Cu2+
pH
Sebelum ekstraksi(A)
Setelah ekstraksi(A)
1
2
3
4
0,492
0,491
0,514
0,542
0,008
0,007
0,007
0,007

 b. untuk  Zn2+
pH
Sebelum ekstraksi(A)
Sesudah ekstraksi(A)
1
2
3
4
1, 706
1,737
0,139
0,101
1,144
1,036
1,833
0,848

 c. untuk campuran Cu2+ dan Zn2+
                       



F.      ANALISIS DATA



              sehingga : 





1.      Kurva hubungan %E dengan pH

a)      Untuk Cu2+
pH
% E (%)
1
2
3
4
98,3739
98,5743
98,6381
98,6328






b. Untuk Zn2+
pH
% E (%)
6
7
8
9
5,1409
40,3569
-60,9306
-739,603





G.    PEMBAHASAN
Spektrofotometri adalah metode analisa kimia berdasarkan spektroskopi. Spektroskopi adalah ilmu yang mempelajari interaksi gelombang elektromagnetik (cahaya) dengan materi. Prinsip spektroskopi adalah penyerapan cahaya oleh materi (atom atau molekul) pada panjang gelombang tertentu. Spektrofotometri Serapan Atom (AAS) ialah metode  analisa yang digunakan untuk menentukan unsur-unsur suatu bahan kepekaan, ketelitian serta selektivitas yang tinggi yang didasarkan pada proses penyerapan energi radiasi oleh atom-atom yang berada pada tingkat energi dasar (ground state). Prinsip analisa pada AAS adalah interaksi antara radiasi elektromagnetik dengan sampel, yaitu serapan cahaya oleh atom. Jika radiasi elektromagnetik dikenakan pada suatu atom, maka akan terjadi eksitasi elektron dari tingkat dasar ke tingkat tereksitasi. Eksitasi terjadi akibat adanya serapan radiasi yang diberikan sumber radiasi yang terbuat dari unsur-unsur yang akan di analisa (Widiastuti, 1996).
Papa praktikum kali ini bertujuan untuk mempelajari cara pemisahan ion logam Cu2+ dan Zn2+ dengan ekstraksi pelarut yang melibatkan kompleks khelat logam serta mempelajari pengaruh pH awal larutan terhadap % ekstraksi masing-masing ion logam. Analisis penentuan suatu ion logam tersebut dari ion logam lainnya yang akan menggangu identifikasi dan penentuan kadarnya. Pada dasarnya, ion-ion logam tidak laru dalam pelarut organik yang non polar dapat dilakukan dengan menggunakan cara ekstraksi karena dapat memisahkan ion logam tersebut dari ion logam lainnya yang akan mengganggu identifikasi dan penentuan kadarnya. Agar ion logam dapat terekstrak ke dalam pelarut organik non polar maka ion logam tersebut harus diubah menjadi bentuk molekul yang tidak  bermuatan dengan pembentukan senyawa kompleks (Rivai, 2001).
Senyawa kompleks adalah senyawa dengan ion logam sebagai atom
pusat bersenyawa dengan ion atau molekul yang memiliki pasangan elektron
bebas sebagai ligan dengan ikatan kovalen koordinasi. 
Kompleks yang tidak bermuatan dapat dibentuk melalui proses pembentukan khelat yaitu khelat netral. Khelat merupakan golongan kompleks yang paling penting dan stabil karena ligannya memiliki banyak molekul air yang mengikat kuat atom pusat. Ligan pengkhelat mempunyai peranan penting dalam ekstraksi logam sebab banyak logam-logam yang dapat terekstraksi dan sekaligus dipisahkan (Khopkar, 2010)
Pada praktikum ini pemisahan ion logam Cu2+ dan Zn2+ dilakukan  dengan menggunakan metode ekstraksi pelarut (solvent extraction) yang dikombinasikan dengan metode spektrofotometri serapan atom. Prinsip ekstraksi pada penentuan ini adalah dengan pembentukan kompleks khelat tujuannya adalah agar ion logam dapat larut dalam pelarut organik (Soebagio, 2002). Ekstraksi yang dilakukan dalam praktikum ini melibatkan pembentukan khelat, dimana fase air (larutan Cu(NO3)2 dan Zn(NO3)2) yang mengandung ion logam Cu2+ dan Zn2+ mengadakan kontak dengan fase organik (ditizon) yang mengandung ligan khelat.
Zat pengkhelat atau reagen pengkhelat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah ditizon. Ditizon mempunyai rumus C13H12N4S (HDZ) berbentuk padatan
berwarna hitam keunguan, tidak larut dalam air tetapi mudah larut dalam
kloroform (CHCl3) dan karbon tetraklorida (CCl4). Ditizon adalah suatu ligan
pengkelat yang dapat bereaksi dengan ion-ion logam tertentu, warna kompleks
logamnya adalah lembayung tua, merah jingga, kuning atau warna lain tergantung ion logamnya (
Daintith, 1997). Sebagai asam lemah, ditizon di dalam air terionisasi dengan konstanta asam (Ka = 2,8x10-5). Adanya warna yang khas untuk setiap senyawa kompleks ditizonat memungkinkan pemakaian ditizon dalam analisis kualitatif dan kuantitatif ion logam tertentu. Sehingga hal ini dapat dijadikan dasar untuk penentuan ion logam secara spektrofotometri. Selektifitas reaksi ditizon dengan logam dipengaruhi oleh pH larutan dan konsentrasi ligan (Soebagio, 2002).
Pada praktikum ini digunakan nilai pH yang berbeda-beda untuk ion logam Cu2+ dan Zn2+. Adapun tujuannya adalah  agar dapat mengetahui pengaruh nilai pH baik yang rendah maupun yang tinggi dalam proses ekstraksi. Pada dasarnya, tingkat keasaman (pH) merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam proses ekstraksi karena perubahan tingkat keasaman larutan logam dapat menyebabkan perubahan muatan dari permukaan ekstraktan maupun perubahan spesies ion logam. Pada tingkat keasaman tinggi (pH rendah) jumlah ion H+ sangat melimpah sehingga dapat menyebabkan sebagian besar pasangan elektron bebas akan berikatan dengan H+. Hal ini dapat menyebabkan tolakan elektrostatik antara ekstraktan dan kation logam yang sama-sama bermuatan positif. Tetapi pada tingkat keasaman yang rendah (pH tinggi) akan menyebabkan persen logam yang terkstraksi akan semakin berkurang karena akan terjadi pengendapan logam (Herlina, 2001).
Pada praktikum ini, larutan Cu(NO3)2 diatur dalam kondisi pH rendah (pH 1,2,3,dan 4) sedangkan larutan Zn(NO3)2 diatur dalam kondisi pH tinggi (pH 6,7,8,dan 9). Larutan Cu(NO3)2 diatur dalam kondisi pH rendah karena sifat ion Cu2+ pada nilai pH yang lebih tinggi akan mengalami hidrolisa (Day, 1981). Perlunya trayek pH pada daerah ekstraksi yang baik dilakukan dengan mempertinggi konsentrasi pereaksi, sehingga ekstraksi dapat juga berlangsung pada pH yang kecil atau rendah (Khopkar, 2010). Pengaturan pH ini juga dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh adsorban terhadap pH yang nantinya akan diketahui dengan pengukuran menggunakan AAS. Pada pengaturan pH, bila larutan ingin di asamkan maka titambahkan setetes demi setetes HNO3 pekat sedangkan untuk memberikan suasana basa dilakukan penambahan larutan NaOH setetes demi setetes pula.
Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode kopleks khelat, yang mana dalam prosesnya untuk dapat diekstraksi, ion logam harus dapat diubah menjadi molekul yang tidak bermuatan dan mirip dengan senyawa organik. Dimana molekul organik / senyawa organik bermuatan cenderung larut dalam pelarut organik yang non polar atau kepolarannya relatif rendah. Sedangkan ion bermuatan termasuk kation logam (bersifat polar) larut dalam pelarut air (bersifat polar). Sehingga dengan menggunakan teknik ekstraksi selanjutnya, maka fase organik dan air dapat dilakukan, untuk mendapatkan ion logam Cu2+ dan Zn2+ dalam fase air yang masih tertinggal dalam proses pemurnian (Soebagio, 2002).
Selanjutnya setelah ekstraksi dilakukan, fase air yang diambil dari masing-masing larutan dengan pH yang beragam tersebut dilakukan pengukuran dangan AAS. Analisis ion logam Cu2+ dan Zn2+ dalam praktikum ini menggunakan spektrofotometri serapan atom (AAS). Pada analisis ini, diukur absorbansi masing-masing ion logam tersebut sebelum dan setelah diekstraksi. Dari hasil absorbansi sebelum dan setelah diekstraksi, dapat ditentukan persen ekstraksinya. Berdasarkan hasil perhitungan, untuk ion logam Cu2+ dengan pH 1,2,3 dan 4 diperoleh % E berturut-turut adalah 98,3736 %, 98,5743 %, 98,638 %, dan 98,6328 %. Sedangkan untuk ion logam Zn2+ diperoleh % E pada pH 6,7,8,dan 9 berturut-turut adalah 5,1409 %, 40,3569 %, -60,9306%, dan -739,603 %. Pada umumnya ekstraksi berlangsung dengan disertai kenaikan pH, dan besarnya kenaikan pH sejalan dengan besarnya peningkatan kapasitas ekstraksinya (Herlina, 2001). Diperolehnya hasil % E pada ion logam Zn2+ yang tidak teratur dan bernilai negatif dikarenakan kurangnya ketelitian praktikan dalam mengatur pH larutan Zn(NO3)2 sehingga nilai pH yang digunakan tidak tepat dan akibatnya berpengaruh terhadap proses ekstraksi ion logam Zn2+ tersebut. Selain itu, dapat pula dikarenakan proses ekstraksi yang dilakukan kurang sempurna pemisahan ion Zn2+ yang dilakukan pun menjadi tidak sempurna. Dari hasil analisis data didapatkan nilai % E untuk Zn2+ yang naik turun. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang ada yang mana seharusnya absorbansi yang dihasilkan berbanding lurus dengan pH larutan yaitu semakin besar pH larutan yang digunakan, maka absorbansinya juga semakin besar. Terjadinya perbedaan hasil dari percobaan yang dilakukan menggunakan pH universal oleh karenanya pH larutan yang dibuat tidak tepat dengan pH yang ingin dibuat, seharusnya dilakukan pengukuran pH dengan menggunakan pH digital atau analitik agar pH yang  diperoleh benar-benar akurat. Sehingga berpengaruh pada saat pengukuran dengan menggunakan AAS dan juga dapat terjadi pada saat proses ekstraksi yang mana pemisahan yang dilakukan masih terdapat fase organik.     

H.    KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
a.    Ekstraksi logam dapat diperoleh dengan metode pembentukan kompleks khelat atau asosiasi ion. Agar ion logam Cu2+ dan Zn2+ dapat terekstrak kedalam pelarut organik, maka ion logam tersebut harus diubah menjadi senyawa kompleks yang tidak bermuatan melalui pembentukan khelat.
b.    Pada umumnya ekstraksi berlangsung disertai dengan kenaikan pH, dan besarnya kenaikan pH sejalan dengan besarnya peningkatan kapasitas ekstraksinya. pH berbanding lurus dengan absorbansi, dimana semakin besar nilai pH maka semakin besar pula absorbansinya. Harga pH suatu ion logam dapat mempengaruhi % E.

Laporan terkait

                   Koifisien Distribusi klik

                   Kromotografi kolom klik
                   
                   Kromotografi kertas klik        
                  

             

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, M. N. 2001. Kamus Kimia Arti dan Penjelasan Istilah. Jakarta : Gramedia.
Daintith, John. 1997. Kamus Lengkap Kimia. Jakarta : Erlangga.
Day, R.A. dan Underwood. 1981. Analisis Kimia Kuantitatif (Edisi ke-enam). Jakarta: Erlangga.
Harimu, La, dkk. 2010. Pemisahan Ion Logam Berat Fe(II), Cr((II), Cu(II), Ni(II), Co(II) dan Pb(II) Menggunakan Pengemban Ion Poli (Asam Eugenil Oksiasetat) dengan Transpor Membran Cair. Yogyakarta : UGM.
Herlina. 2001. Ekstraksi Ion Tembaga dengan Ekstraktan Ditizon, Dietilditiokarbamat dan Ditizon, Dietilditiokarbamat dalam Kloroform. Semarang UNNES.
Khopkar, S. M. 2010. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI Press.
Pratiwi, Devi Tataning, dkk. 2013. Penentuan Kadar Kromium dalam Limbah Industri dengan Metode Kopresipitasi Menggunakan Cu-Pirolidin Ditiokarbamat. Semarang : UNNES.
Rivai, Harizui. 2001. Asas Pemeriksaan Kimia. Jakarta: UI Press.
Soebagio, dkk. 2002. Kimia Analitik II. Malang: Universitas Negeri Malang.
Sudjadi. 1988. Metode Pemisahan. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.
Widiastuti, Sri. 1996. Kamus Lengkap Kimia. Jakarta : Gramedia.




        
Previous Post
Next Post

0 komentar:

santun