Kimia Tanah , Jenis ,Unsur dan Pencemarannnya

Kimia Tanah , Jenis ,Unsur dan Pencemarannnya
KIMIA TANAH


TERBENTUKNYA TANAH


1.1. PROSES TERBENTUKNYA TANAH
Proses pembentukan tanah diawali dari pelapukan batuan, baik pelapukan fisik maupun pelapukan kimia. Dari proses pelapukan ini, batuan akan menjadi lunak dan berubah komposisinya. Pada tahap ini batuan yang lapuk belum dikatakan sebagai tanah, tetapi sebagai bahan tanah (regolith) karena masih menunjukkan struktur batuan induk. Proses pelapukan terus berlangsung hingga akhirnya bahan induk tanah berubah menjadi tanah. Proses pelapukan ini menjadi awal terbentuknya tanah. Sehingga faktor yang mendorong pelapukan juga berperan dalam pembentukan tanah.
Curah hujan dan sinar matahari berperan penting dalam proses pelapukan fisik, kedua faktor tersebut merupakan komponen iklim. Sehingga dapat disimpulkan bahwa salah satu faktor pembentuk tanah adalah iklim.  Ada beberapa faktor lain yang memengaruhi proses pembentukan tanah, yaitu organisme, bahan induk, topografi, dan waktu. Faktor-faktor tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut.
Tanah = f {c, p, r, o, t}            c : climate/iklim (bersifat aktif)
p : parent material/bahan induk (pasif)
r : relief/bentang lahan (pasif)
o : organism/makhluk hidup (aktif)
t : time/waktu (pasif)
(Rahmawan,2010)


                                               Gambar Susunan Tanah
1.2. FAKTOR PEMBENTUKAN TANAH
Ada beberapa faktor pembentukan tanah, diantaranya :
a.   Iklim
·      Suhu : Jika suhu semakin tinggi maka makin cepat pula reaksi kimia berlangsung
·      Curah Hujan : Makin tinggi curah hujan, makin tinggi pula tingkat keasaman tanah
b.   Bahan Induk
Yang dimaksud bahan induk adalah bahan penyusun tanah itu sendiri yang berupa batuan.
c.    Organik
Bahan organik berpengaruh dalam pembentukan warna dan zat hara dalam tanah.
d.   Makhluk Hidup
Semua makhluk hidup berpengaruh. Baik itu jasad renik, tumbuhan, hewan bahkan manusia.
e.    Topografi
Mempengaruhi proses pembentukan tanah dengan 4 cara :
1. Jumlah air hujan yg dpt meresap atau disimpan oleh massa tanah
2. Kedalaman air tanah
3. Besarnya erosi yang dapat terjadi
4. Arah pergerakan air yg membawa bahan-bahan terlarut dari tempat yang
tinggi ke tempat yang rendah
f. Waktu
Lamanya bahan induk mengalami pelapukan dan perkembangan tanah memainkan peran penting dalam menentukan jenis tanah yang terbentuk.
Fase Awal -> Fase Juvenil -> Fase Viril -> Fase Senil -> FaseAkhir
                                                                                    (Pandu, 2010)

1.3. PEMBENTUKAN PROFIL TANAH
Proses pembentukan tanah menyangkut beberapa hal :
1. Penambahan bahan-bahan dari tempat lain ke tanah misalnya :
a. Penambahan air hujan, embun dan lain-lain
b. Penambahan O2 dan CO2 dari atmosfer
c. Penambahan N, Cl, S dari atmosfer dan curah hujan
d. Penambahan bahan organik dari sisa tanaman dan hewan
e. Bahan endapan
f. Energi sinar matahari

2. Kehilangan bahan-bahan yang ada di tanah
a. Kehilangan air melalui penguapan (evapotranspirasi)
b. Kehilangan N melalui denitrifikasi
c. Kehilangan C (bahan organik) sebagai CO2 karena dekomposisi bahan organik
d. Kehilangan tanah karena erosi
e. Kehilangan energi karena radiasi

3. Perubahan bentuk (transformation)
a. Perubahan bahan organik kasar menjadi humus
b. Penghancuran pasir menjadi debu kemudian menjadi lempung
c. Pembentukan struktur tanah
d. Pelapukan mineral dan pembentukan mineral lempung

4. Pemindahan dalam solum
a. Pemindahan lempung, bahan organik, Fe, Al dari lapisan atas ke lapisan bawah
b. Pemindahan unsur hara dari lapisan bawah ke lapisan atas melalui siklus kegiatan vegetasi
c. Pemindahan tanah dari lapisan bawah ke lapisan atas atau sebaliknya melalui kegiatan hewan seperti tikus rayap, dsb.
d. Pemindahan garam-garam dari lapisan bawah ke lapisan atas melalui air kapiler

1.4. BERBAGAI KONDISI YANG MENGHAMBAT PERKEMBANGAN PROFIL TANAH
1. Curah hujan rendah (pelapukan rendah, material terlarut yang tercuci sedikit)
2. Kelembaban relatif rendah (pertumbuhan mikroorganisme seperti alga, fungi, lichenes rendah)
3. Bahan induk mengandung sodium karbonat atau lime yang tinggi (material tanah rendah mobilitasnya)
4. Bahan induk mengandung kuarsa yang tinggi dengan kandungan debu dan clay    rendah (pelapukan lambat, gerakan koloid rendah)
5. Kandungan clay tinggi (aerasi jelek, pergerakan air lambat)
6. Bahan induk resisten misal quarzite (pelapukan lambat)
7. Kelerengan tinggi (erosi menyebabkan hilangnya lapisan top soil; pengambilan air tanah rendah)
8. Tingginya air tanah (pencucian rendah, laju pelapukan rendah)
9. Suhu dingin (semua proses pelapukan dan aktivitas mikrobia lambat)
10. Akumulasi material secara konstan (material baru menyebabkan perkembangan tanah menjadi baru)
11. Erosi air dan angin yang berat (tereksposnya material baru)
12. Pencampuran oleh binatang dan manusia (pengolahan tanah, penggalian) akan meminimalisir pergerakan koloid ke bagian tanah lebih dalam
13. Adanya substansi racun bagi tanaman, misal garam yang berlebihan, heavy metal, herbisida yang berlebihan


1.5.   CONTOH PROSES PEMBENTUKAN TANAH
No
Proses
Arti
Keterangan

1
Eluviasi
Pemindahan bahan-bahan tanah dari suatu horizon ke horizon lain
Pemindahan dalam solum

Iluviasi
Penimbunan bahan-bahan tanah dalam suatu horizon
Pemindahan dalam solum
2
Leaching
Pencucian basa-basa (unsur hara) dari tanah
Kehilangan bahan dari tanah

Enrichment
Penambahan basa-basa (hara) dari tempat lain
Penambahan bahan ke tanah,
3
Dekalsifikasi
Pemindahan CaCO3 dari tanah atau horizon tanah
Pemindahan dalam solum

Kalsifikasi
Penimbunan CaCO3 dari tanah atau horizon tanah
Pemindahan dalam solum
4
Desalinisasi
Pemindahan garam-garam mudah larut dari tanah atau suatu horizon tanah
Pemindahan dalam solum

Salinisasi
Penimbunan garam-garam mudah larut dari tanah atau suatu horizon tanah
Pemindahan dalam solum
5
Dealkalinasi (Solodisasi)
Pencucian ion-ion Na dari tanah atau horizon tanah


Alkalinisasi
Penimbunan ion-ion Na dari tanah atau horizon tanah

6
Lessivage
Pencucian (pemindahan) lempung dari suatu horizon ke horizon lain dalam bentuk suspensi (secara mekanik|). Dapat terbentuk tanah Ultisol (Podzolik) atau Alfisol
Pemindahan dalam solum

Pedoturbasi
Pencampuran secara fisik atau biologic beberapa horizon tanah sehingga horizon- horizon tanah yang telah terbentuk menjadi hilang. Terjadi pada tanah Vertisol (Grumusol)
Pemindahan dalam solum
7
Podzolisasi
(Silikasi)
Pemindahan Al dan Fe dan atau bahan organic dari suatu horizon ke horizon lainsecara kimia. Si tidak ikut tercuci sehingga pada horizon yang tercuci meningkat konsentrasinya. Dapat terbentuk pada tanah (Spodosol)
Perubahan bentuk,  pemindahan dalam solum

Desilikasi (ferralisasi, laterisasi, latosolisasi)
Pemindahan silica secara kimia keluar dari solum tanah sehingga konsentrasi Fe dan Al meningkat secara relative. Terjadi di daerah tropika di mana curah hujan dan suhu tinggi sehingga Si mudah larut. Dapat terbentuk tanah Oksisol (Laterit, Latosol)
Perub bentuk, pemindahan dalam solum
8
Melanisasi
Pembentukan warna hitam (gelap)  pada tanah karena pencampuran bahan organik dengan bahan mineral. Dapat terbentuk tanah Molissol
Penambahan bahan ke tanah, pemindahan dalam solum

Leusinisasi
Pembentukan horison pucat karena pencucian bahan organik
Pemindahan dalam solum
9
Braunifikasi, Rubifikasi, Feruginasi
Pelepasan besi dari mineral primer dan dispersi partikel-partikel besi oksida yang makin meningkat. Berdasar besarnya oksidasi dan hidrasi dari besi oksida tersebut maka dapat menjadi berwarna coklat (braunifikasi), coklat kemerahan (Rubifikasi) atau merah (feruginasi)
Perub bentuk, pemindahan dalam solum

Gleisasi
Reduksi besi karena keadaan anaerob (tergenang air) sehingga terbentuk warna kebiruan atau kelabu kehijauan
 Perub bentuk, pemindahan dalam solum
10
Littering
Akumulasi bahan organik setebal kurang dari 30 cm di permukaan tanah mineral
Penambahan bahan ke tanah

Humifikasi
Perubahan bahan organik kasar menjadi humus
Perub bentuk
2.      BAHAN PENYUSUN TANAH
2.1. AIR DAN UDARA TANAH (25 % & 25% = 50 %)
- Air dan udara dalam tanah saling silih berganti keberadaanya sehingga bersifat dinamik
- Fungsi air tanah bagi proses pertumbuhan tanaman.:
a. Untuk menegakkan tubuh tanaman, mempertahankan turgfor dalam sel sehingga tidak lemah lunglai
b. Untuk asimilasi zat asam arang (CO2)
c. Melarutkan zat-zat makanan dalam tanah sehingga dapat diserap tanaman
d.   Mengankut hasil asimilasi ke sel bagian tanaman
e.    Mendinginkan tubuh tanaman dan tanah

2.2. BAHAN ORGANIK TANAH (5%)
- Berasal dari jaringan tumbuhan (akar, batang, ranting, daun, hewan, jasad renik, kotoran dsb)
-  Susunan jaringan tumbuhan :
                        - 50 – 75 % air
                        - 10 – 30 % C
                        - 10 % O2 (zat asam)
                        - 2 % H (zat air)
                        - 2 % abu (P, K, Ca, Mg, Fe, Zn, Mn, dsb)
- Fungsi bahan organik :
a.    Sumber hara yang sangat lengkap penting (kimiawi)
b.   Sebagai humus yang adsorbsi unsur-unsur hara sehingga tak mudah terlindi, dan simpan air lebih besar
c.    Perbaiki struktur tanah dan aerasi tanah (fisik)
d.   Perbaiki agregat tanah sehingga lebih mantap dan tahan erosi
e.    Warna lebih kelam sehingga suhu naik
f.    Sebagai makanan mikroba tanah (biologi)

              2.3. BAHAN PADAT ANORGANIK TANAH, batuan, mineral, kerakal dan kerikil, pasir, debu, lempung
                  2.4. BAHAN GAS (UDARA) TANAH, merupakan fase gas di pori makro
3.      KARAKTERISTIK TANAH
Tanah (soil) secara ilmiah didefinisikan sebagai kumpulan benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam horizon-horizon, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organik, air dan udara, dan merupakan media untuk tumbuhnya tanaman. Setiap jenis tanah mempunyai komposisi dan jumlah yang berbeda pada masing-masing bahan mineral, bahan organik serta air dan udara yang dikandungnya.
Tanah non-organik atau tanah mineral terbentuk dari batuan sehingga ia mengandung mineral. Sebaliknya, tanah organik (organosol/humosol) terbentuk dari pemadatan terhadap bahan organik yang terdegradasi. Tanah organik berwarna hitam dan merupakan pembentuk utama lahan gambut dan kelak dapat menjadi batu bara. Tanah organik cenderung memiliki keasaman tinggi karena mengandung beberapa asam organik (substansi humik) hasil dekomposisi berbagai bahan organik. Kelompok tanah ini biasanya miskin mineral, pasokan mineral berasal dari aliran air atau hasil dekomposisi jaringan makhluk hidup. Tanah organik dapat ditanami karena memiliki sifat fisik gembur (sarang) sehingga mampu menyimpan cukup air namun karena memiliki keasaman tinggi sebagian besar tanaman pangan akan memberikan hasil terbatas dan di bawah capaian optimum.
Tekstur tanah non-organik ditentukan oleh komposisi tiga partikel pembentuk tanah: pasir, lanau (debu), dan lempung. Tanah pasiran didominasi oleh pasir, tanah lempungan didominasi oleh lempung. Tanah dengan komposisi pasir, lanau, dan lempung yang seimbang dikenal sebagai geluh (loam).
Warna tanah merupakan ciri utama yang paling mudah diingat orang. Warna tanah sangat bervariasi, mulai dari hitam kelam, coklat, merah bata, jingga, kuning, hingga putih. Selain itu, tanah dapat memiliki lapisan-lapisan dengan perbedaan warna yang kontras sebagai akibat proses kimia (pengasaman) atau pencucian (leaching). Tanah berwarna hitam atau gelap seringkali menandakan kehadiran bahan organik yang tinggi, baik karena pelapukan vegetasi maupun proses pengendapan di rawa-rawa. Warna gelap juga dapat disebabkan oleh kehadiran mangan, belerang, dan nitrogen. Warna tanah kemerahan atau kekuningan biasanya disebabkan kandungan besi teroksidasi yang tinggi; warna yang berbeda terjadi karena pengaruh kondisi proses kimia pembentukannya. Suasana aerobik/oksidatif menghasilkan warna yang seragam atau perubahan warna bertahap, sedangkan suasana anaerobik/reduktif membawa pada pola warna yang bertotol-totol atau warna yang terkonsentrasi (Anonim, 2010).

4.      MACAM-MACAM TANAH DI INDONESIA
4.1  TANAH ORGANOSOL



·      Mengandung paling banyak bahan organik, tidak mengalami perkembangan profil, disebut juga tanah gambut.
·      Bahan organik ini terdiri atas akumulasi sisa-sisa vegetasi yang telah mengalami humifikasi, tetapi belum mengalami mineralisasi.
·      Tanah ini kurang subur.
·      Penyebarannya di Sumatera sepanjang pantai Utara, Kalimantan dan Irian Barat/Papua.

4.2  TANAH HISTOSOL



         ·      Memiliki epipedon histik, yaitu epipedon yang mengandung bahan organik sedemikian             banyaknya, sehingga tidak mengalami perkembangan profil ke arah terbentuknya horison           yang berbeda.

  •      Warna coklat kelam sampai hitam, berkadar air tinggi dan bereaksi asam (pH3-5)

4.3  TANAH LITOSOL



·      Litosol, yaitu tanah yang baru mengalami pelapukan dan sama sekali belum mengalami perkembangan tanah.
·      Berasal dari batuan-batuan konglomerat dan granit, kesuburannya cukup, dan cocok dimanfaatkan untuk jenis tanaman hutan.
·      Penyebarannya di Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Nusa Tenggara, Maluku Selatan dan Sumatera.

4.4  TANAH ALLUVIAL 



·      Aluvial ialah tanah muda yang berasal dari hasil pengendapan.
·      Sifatnya tergantung dari asalnya yang dibawa oleh sungai.
·      Tanah aluvial yang berasal dari gunung api umumnya subur karena banyak mengandung mineral. Tanah ini sangat cocok untuk persawahan.
·      Penyebarannya di lembah-lembah sungai dan dataran pantai, seperti misalnya, di Kerawang, Indramayu, Delta Brantas.

4.5  TANAH REGOSOL




Regosol Aluvial

Regosol Marine
·      Tanah regosol terdiri dari: regosol abu vulkanik, bukit pasir, batuan sedimen, tanah ini cukup subur.
·      Jenis tanah latosol terdiri dari ; latosol merah kuning, cokelat kemerahan, cokelat, cokelat kekuningan.
·      Tanah ini cocok dimanfaatkan untuk pertanian padi, palawija, kelapa, dan tebu.
·      Penyebarannya di sekitar lereng gunung-gunung berapi.
·      Regosol, belum jelas menampakkan pemisahan horisonnya.

4.6  TANAH ANDOSOL



·      Jenis tanah mineral yang telah mengalami perkembangan profil, solum agak tebal, warna agak coklat kekelabuan hingga hitam, kandungan organik tinggi, tekstur geluh berdebu, struktur remah, konsistensi gembur dan bersifat licin berminyak (smeary), kadang-kadang berpadas lunak, agak asam, kejenuhan basa tinggi dan daya absorpsi sedang, kelembaban tinggi, permeabilitas sedang dan peka terhadap erosi.
·      Tanah ini berasal dari batuan induk abu atau tuf vulkanik.

4.7  TANAH LATOSOL



·      Latosolisasi: proses pembentukan tanah latosol (merah); dengan syarat daerah memiliki suhu dan curah hujan yang tinggi
·      Keterdapatan di daerah iklim humid-tropik tanpa bulan kering hingga subhumid dengan musim kemarau agak lama
·      Meluas di daerah iklim tropik hingga iklim basah tropik dengan CH 2.500-7.000 mm/th
·      Bervegetasi hutan basah sampai sabana
·      Bertopografi dataran, bergelombang hingga pegunungan
·      Umumnya bahan induk vulkanik baik tuff maupun batuan beku
·      Meliputi tanah-tanah yang telah mengalami pelapukan intensif
·      Telah mengalami pencucian unsur-unsur basa, bahan organik dan silika
·      Tekstur lempung hingga geluh, struktur remah hingga gumpal lemah, dan konsistensi gembur
·      Tersebar di seluruh pulau di Indonesia, kecuali Nusa Tenggara dan Maluku Selatan
Tanah Latosol Berdasarkan Warna
1.      Latosol merah; terdapat di Pasekaran Pekalongan Jateng
2.      Latosol merah kekuningan; terdapat di Cibinong
3.      Latosol coklat kemerahan; terdapat di Citajam Bogor
4.      Latosol coklat; terdapat di Kanjana Bogor
5.      Latosol coklat kekuningan; terdapat di Sukamahi Bogor
6.      Latosol merah ungu; terdapat di Pleihari Kalsel
Tanah Latosol Berdasarkan Sifat Humus
1.      Low Humic Latosol; dengan horizon A1 sangat lemah, pH 6-7, terdapat di tempat tinggi < 2.000 feet, curah hujan < 40 inci/th, bulan kering nyata, vegetasi rumput pendek, kaktus dan algaroba
2.      Humic Latosol; horizon A1 mengandung banyak bahan organik, pH < 5, terdapat di tempat tinggi hingga 2.500 feet, curah hujan 40-100 inci/th, vegetasi hutan lebat yang pendek
3.      Ferruginous Humic Latosol; di horizon A terkumpul mineral resisten seperti magnetit, ilmenit yang cenderung membentuk kerak dengan pH asam hingga pH 6
4.      Hydrol Humic Latosol; horizon A1 kelabu, terdapat di daerah tinggi, curah hujan 150-350 inci/th tanpa bulan kering, vegetasi hutan lebat

4.8  TANAH ANDOSOL



·         Berwarna hitam
·         Tekstur geluh hingga debu
·         Struktur remah
·         Konsistensi gembur
·         Mengandung bahan organik
·         Daya ikat air dan daya serap air tinggi
·         Permeabilitas tinggi
·         Terdapat di dalam endapan vulkanik, terutama di puncak pegunungan curam yang tetap dilindungi hutan (Jawa, Sumatera)
·         Pemanfaatan untuk perkebunan kina, teh dan kopi, sayuran, kentang, dll



4.9  TANAH GRUMUSOL/VERTISOL



                      ·        
Tekstur lempung
             ·         Warna tua/kelam
·         Struktur atas granuler, struktur bawah gumpal atau pejal
·         Konsistensi liat tinggi
·         Koefisien kembang kerut tinggi
    • Bahan induk adalah batu kapur, batu napal, tuff, endapan aluvial, dan abu vulkanik
·         Topografi agak bergelombang hingga berbukit dengan CH < 2.500 mm/th
·         Solum tanah dalam (+ 75 cm)
·         Peka terhadap erosi dan bahaya longsor
Macam Tanah Grumusol
1.      Grumusol pada batu kapur dan batu kapur bernapal: perkembangan dipengaruhi struktur batu kapur dan kadar lempung
2.      Grumusol pada marls, calcareous shales dan batu loam: terdapat di Madura
3.      Grumusol pada sedimen tuff tertier: terdapat di Gunungkidul
4.      Grumusol pada lahar: terdapat di lembah dan kaki pegunungan
5.      Grumusol endapan aluvial: terdapat di dataran aluvial dengan iklim sesuai untuk endapan vulkan dan napal halus
6.      Grumusol bergaram: terdapat di Jawa Timur dengan iklim sangat kering; Nusa Tenggara                              
4.10        TANAH PASIR




               Tanah pasir adalah tanah yang bersifat kurang baik bagi pertanian yang terbentuk dari batuan beku serta batuan sedimen yang memiliki butir kasar dan berkerikil

4.11        TANAH VULKANIK / TANAH GUNUNG BERAPI


               Tanah vulkanis adalah tanah yang terbentuk dari lapukan materi letusan gunung berapi yang subur mengandung zat hara yang tinggi. Jenis tanah vulkanik dapat dijumpai di sekitar lereng gunung berapi.

4.12  TANAH LATERIT


                Tanah laterit adalah tanah tidak subur yang tadinya subur dan kaya akan unsur hara, namun unsur hara tersebut hilang karena larut dibawa oleh air hujan yang tinggi. Contoh : Kalimantan Barat dan Lampung

4.13  TANAH HUMUS


                Tanah humus adalah tanah yang sangat subur terbentuk dari lapukan daun dan batang pohon di hutan hujan tropis yang lebat

4.14 MEDITERAN MERAH – KUNING
Tanah mempunyai perkembangan profil, solum sedang hingga dangkal, warna coklat hingga merah, mempunyai horizon B argilik, tekstur geluh hingga lempung, struktur gumpal bersudut, konsistensi teguh dan lekat bila basah, pH netral hingga agak basa, kejenuhan basa tinggi, daya absorpsi sedang, permeabilitas sedang dan peka erosi, berasal dari batuan kapur keras (limestone) dan tuf vulkanis bersifat basa. Penyebaran di daerah beriklim sub humid, bulan kering nyata. Curah hujan kurang dari 2500 mm/tahun, di daerah pegunungan lipatan, topografi Karst dan lereng vulkan ketinggian di bawah 400 m. Khusus tanah mediteran merah-kuning di daerah topografi Karst disebut terra rossa.
4.15 HODMORF KELABU (GLEISOL)
Jenis tanah ini perkembangannya lebih dipengaruhi oleh faktor lokal, yaitu topografi merupakan dataran rendah atau cekungan, hampir selalu tergenang air, solum tanah sedang, warna kelabu hingga kekuningan, tekstur geluh hingga lempung, struktur berlumpur hingga masif, konsistensi lekat, bersifat asam (pH 4.5-6.0), kandungan bahan organik. Ciri khas tanah ini adanya lapisan glei kontinu yang berwarna kelabu pucat pada kedalaman kurang dari 0.5 meter akibat dari profil tanah selalu jenuh air. Penyebaran di daerah beriklim humid hingga sub humid, curah hujan lebih dari 2000 mm/tahun.
4.16 TANAH SAWAH (PADDY SOIL)
Tanah sawah ini diartikan tanah yang karena sudah lama (ratusan tahun) dipersawahkan memperlihatkan perkembangan profil khas, yang menyimpang dari tanah aslinya. Penyimpangan antara lain berupa terbentuknya lapisan bajak yang hampir kedap air disebut padas olah, sedalam 10-15 cm dari muka tanah dan setebal 2-5 cm. Di bawah lapisan bajak tersebut umumnya terdapat lapisan mangan dan besi, tebalnya bervariasi antara lain tergantung dari permeabilitas tanah. Lapisan tersebut dapat merupakan lapisan padas yang tak tembus perakaran, terutama bagi tanaman semusim. Lapisan bajak tersebut nampak jelas pada tanah latosol, mediteran dan regosol, samara-samar pada tanah aluvial dan grumosol.

5.      STRUKTUR TANAH
Struktur tanah adalah susunan agregat-agregat primer tanah secara alami menjadi bentuk tertentu yang dibatasi oleh bidang-bidang.
*         Bentuk struktur tanah yang membulat (granuler, remah, gumpal membulat) menghasilkan tanah dengan daya serap tinggi sehingga air mudah meresap ke dalam tanah.
*         Struktur tanah remah (tidak mantap), sangat mudah oleh pukulan air hujan, menjadi butir-butir halus sehingga menutup pori-pori tanah. Akibatnya air infiltrasi terhambat dan aliran permukaan meningkat (Hanna, 2006).

6.      SIFAT TANAH
Perbedaan sifat-sifat tanah yang hanya disebabkan oleh satu faktor pembentuk tanah, yaitu :
1. Klimatosekuen : Perbedaan sifat tanah yang disebabkan hanya pengaruh iklim.
2. Biosekuen : Perbedaan sifat tanah yang disebabkan hanya pengaruh organisme.
3. Toposekuen : Perbedaan sifat tanah yang disebabkan hanya oleh perbedaan topografi
4. Lithosekuen : Perbedaan yang disebabkan hanya oleh perbedaan jenis bahan induk.
5. Khronosekuen : Perbedaan sifat tanah yang disebabkan hanya oleh perbedaan faktor umur
(Majid, 2008)
6.1. SIFAT KIMIA TANAH
Beberapa Sifat Kimia Tanah antara lain :
a.   Derajat Kemasaman Tanah (pH)
Reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen (H+) di dalam tanah. Makin tinggi kadar ion H+ di dalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Di dalam tanah selain H+ dan ion-ion lain ditemukan pula ion OH-, yang jumlahnya berbanding terbalik dengan banyaknya H+. pada tanah-tanah masam jumlah ion H+ lebih tinggi daripada OH-, sedang pada tanah alkalis kandungan OH- lebih banyak daripada H+. Bila kandungan H+ sama dengan OH- , maka tanah bereaksi netral yaitu mempunyai pH = 7 (Anonim 1991).
Nilai pH berkisar dari 0-14 dengan pH 7 disebut netral sedangkan pH kurang dari 7 disebut masam dan pH lebih dari 7 disebut alkalis. Walaupun dcmikian pH tanah umumnya berkisar dari 3,0-9,0. Di Indonesia unumnya tanahnya bereaksi masam dengan 4,0 – 5,5 sehingga tanah dengan pH 6,0 – 6,5 sering telah dikatakan cukup netral meskipun sebenarnya masih agak masam. Di daerah rawa-rawa sering ditemukan tanah-tanah sangat masam dengan pH kurang dari 3,0 yang disebut tanah sangat masam karena banyak mengandung asam sulfat. Di daerah yang sangat kering kadang-kadang pH tanah sangat tinggi (pH lebih dari 9,0) karena banyak mengandung garam Na (Anonim 1991).
Sumber Kemasaman Tanah
*      Bahan induk
-    Bahan induk masam akan berkembang menjadi tanah masam
-    Bahan induk basa akan berkembang menjadi tanah basa/alkalin
*      Iklim
-    tanah yang berkembang di daerah iklim lembab/basah akan bersifat asam
-    Curah hujan dan suhu sangat berpengaruh aktif terhadap asam – basanya tanah.
*      Bahan Organik
-    Bahan organik menghasilkan asam-asam organik hasil proses humifikasi.
-    Asam organik memiliki pH nisbi yang rendah
-    Asam anorganik (H2CO3, H2SO4, HNO3) hasil dekomposisi
*      Pengaruh manusia
-    Pemupukan dengan pupuk fisiologis masam akan menyebabkan tanah bersifat masam
-    Pengapuran akan menyebabkan pH akan naik
*      Jenis lempung
-    Lempung silikat merupakan sumber muatan negatif yang bersifat tetap.

Klasifikasi pH tanah berdasar bahan pengekstrak
*      PH tanah aktual (pH H2O)
-       Menunjukkan konsentrasi H+ dalam larutan tanah, sesuai dengan kondisi alam sebenarnya.
-       Larutan pengekstrak adalah air suling (H2O) dengan perbandingan tanah dan H2O adalah 1:2,5
*      pH tanah Potensial (pH Kcl atau pH CaCl2)
-       Menunjukkan nilai pH tanah setelah H+ dalam kompleks jerapan/didesak keluar dan masuk ke dalam larutan tanah oleh kation lain.
-       Merupakan pH tanah yang mungkin potensial dapat terjadi karena pengaruh lain.
*      PH tanah Oksidatif (pH H2O2)
-       Menunjukkan nilai pH tanah setelah tanah mengalami oksidasi
-       Larutan pengekstrak adalah H2O2 30% atau karena proses`pengeringan pada udara terbuka.
-       Pentung untuk daerah tergenang atau rawa untuk melihat potensi bahaya zat clay (lempung belang) karena dilakukan pengatusan.
-       Jika  setelah oksidasi (pengatusan) nilai pH <= 3,5 maka mengandung pirit yang menghasilkan sulfat yang meracun.


Re
     Pirit dlm tanah  oksidator               Fase padat       Dlm lrtn tanah

Pengaruh kemasaman terhadap beberapa reaksi-reaksi kimia yang terpenting di dalam tanah
Group dipengaruhi
Reaksi umum yang Terjadi
Hidroxides and Oxides
xAl 3+  +  3xOH-             AlxOHy+ (3x-y) + y OH-                X Al (OH)3 + Fe 3+ + 3x OH-         
Fex OH y+ + yOH-           x Fe (OH)3  ½ x Fe2 O3 + 3x H2O

Carbonates
CaCO3 + 2H+          Ca2+ + CO2 + H2O


Complexes *
CuCh + 2 H+          Cu2+ +H2Ch


Phosphates (Similar principles for Mo O34 and Mo 2-4 bonded to Fe and Al
Fe(OH)2 H2PO4 + OH          Fe(OH)3 + H2PO4
Al (OH)2 H2PO4+OH-        Al(OH)3 + H2PO4-
Ca10(PO4)6 (OH)2 + 14H+       10 Ca2+ + 6H2PO4- + 2H2O


Silicates
Effect is variable depending on composition Mg2SiO4 + 4H+      2Mg2+ +Si (OH)4 SiO2 +H2O + OH-           OSi (OH)2-


CEC (pH-dependent)+
M+X- + H+         M+ + HX





Edge Charge on Silicates +
      
   
      Al                                            Al

      Al-OH1/2-  + H+                    Al-OH1/2+


Redox Systems
Mn2+ + H2O + O2          2H+ + MnO2
2 Fe2+ + 5 H2O + O2        4H+ + 2Fe(OH)3
H2S + 2O2        2H+ + SO4
NH4+ + 2O2         2H+ + NO3 + H2O


Ion-Ion Dalam Larutan tanah
HPO43-  +  H+        H2PO4-
H2CO3         HCO3-  +  H+       CO32-  + 2H+
Cu2+  + OH-      Cu OH+


Mikroorganisme
Pengaruhnya beragam, tergantung spesies

Proses yang menghasilkan keasaman tanah
*      Karbon dioksida hasil dari dekomposisi seresah akan terlarut dalam air akan bereaksi dengan molekul air menghasilkan asam karbonat
                                                CO2 (gas)   CO2 (aq)             K1 = 10-1,41
                                                CO2 (aq) + H2O     H2CO3    K2 = 10-2,62

*      Asam-asam organik hasil dekomposisi
*      H+ yang dilepas oleh akar tanaman dan organisme yang lain pada waktu pengambilan hara. Prinsip electroneutrality adalah pengambilan kation oleh akar harus diimbangi dengan pengambilan anion atau dengan pelepasan ion hidrogen atau kation lain
*      Oksidasi dari substansi tereduksi seperti mineral sulfida, bahan organik, fertilizer yang mengandung ammonium.

b.   Kapasitas Tukar Kation (KTK)
Kapasitas tukar kation (KTK) merupakan sifat kimia yang sangat erat hubungannya dengan kesuburan tanah. Tanah-tanah dengan kandungan bahan organik atau kadar liat tinggi mempunyai KTK lebih tinggi daripada tanah-tanah dengan kandungan bahan organik rendah atau tanah-tanah berpasir. Nilai KTK tanah sangat beragam dan tergantung pada sifat dan ciri tanah itu sendiri. Besar kecilnya KTK tanah dipengaruhi oleh :
1.      Reaksi tanah
2.      Tekstur atau jumlah liat
3.      Jenis mineral liat
4.      Bahan organik dan,
5.      Pengapuran serta pemupukan.

kapasitas tukar kation tanah sangat beragam, karena jumlah humus dan liat serta macam liat yang dijumpai dalam tanah berbeda-beda pula. Ion bermuatan positif dinetralisir oleh ion bermuatan negatif disebut dengan electric double layer. Kation yang tertukar disebut : exchangeable cations, sedang proses pertukaran disebut cation exchange. Partikel tanah yang bertanggung jawab terhadap penyerapan dan pertukaran kation disebut exchange complex
Contoh :
Soil-Ca      + 2 H+                  Soil-2H + Ca2+
Adsorbed Ca                                 Adsorbed H+
c.    KPA (Kapasitas Pertukaran Anion)
KPA adalah kapasitas lempung untuk menyerap dan menukar anion. Lempung akan bermuatan positif hanya terjadi dalam kondisi asam. Jenis Anion : SiO44-, H2PO4-, SO42-, NO3- dan Cl-

d.   Kejenuhan Basa (KB)
Kejenuhan basa adalah perbandingan dari jumlah kation basa yang ditukarkan dengan kapasitas tukar kation yang dinyatakan dalam persen. Kejenuhan basa rendah berarti tanah kemasaman tinggi dan kejenuhan basa mendekati 100% tanah bersifal alkalis. Tampaknya terdapat hubungan yang positif antara kejenuhan basa dan pH. Akan tetapi hubungan tersebut dapat dipengaruhi oleh sifat koloid dalam tanah dan kation-kation yang diserap. Tanah dengan kejenuhan basa sama dan komposisi koloid berlainan, akan memberikan nilai pH tanah yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh perbedaan derajat disosiasi ion H+ yang diserap pada permukaan koloid.

Kejenuhan basa selalu dihubungkan sebagai petunjuk mengenai kesuburan sesuatu tanah. Kemudahan dalam melepaskan ion yang dijerat untuk tanaman tergantung pada derajat kejenuhan basa. Tanah sangat subur bila kejenuhan basa > 80%, berkesuburan sedang jika kejenuhan basa antara 50-80% dan tidak subur jika kejenuhan basa < 50 %. Hal ini didasarkan pada sifat tanah dengan kejenuhan basa 80% akan membebaskan kation basa dapat dipertukarkan lebih mudah dari tanah dengan kejenuhan basa 50% (Andre, 2009).
Proses yang menghasilkan kebasaan tanah
*      Reduksi dari Ferri, mangan, dan oxidized substances membutuhkan H+ atau melepas OH- dan meningkatkan pH (terjadi pada tanah yang aerasinya jelek) Misal : Fe (OH)3 (amorf) + e-             Fe(OH)2(amorf)+ OH
*      Pengambilan kation oleh akar tanaman, kemudian setelah tanaman mati maka akan terdeposisi di permukaan tanah.

6.2.    SIFAT FISIKA TANAH
Sifat fisik tanah antara lain adalah tekstur, permeabilitas, infiltrasi, struktur, kepadatan tanah, porositas, konsistensi, warna, air tanah, temperatur, aerasi. Setiap jenis tanah memiliki sifat fisik tanah yang berbeda. Perbaikan keadaan fisik tanah dapat dilakukan dengan pengolahan tanah, perbaikan struktur tanah dan meningkatkan kandungan bahan organik tanah. Selain itu sifat fisik tanah sangat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman. Kondisi fisik tanah menentukan penetrasi akar dalam tanah, retensi air, drainase, aerasi dan nutrisi tanaman. Sifat fisik tanah juga mempengaruhi sifat kimia dan biologi tanah.

a.   Warna Tanah
Warna adalah petunjuk untuk beberapa sifat tanah. Biasanya perbedaan warna permukaan tanah disebabkan oleh perbedaan kandungan bahan organik. Semakin gelap warna tanah semakin tinggi kandungan bahan organiknya. Warna tanah di lapisan bawah yang kandungan bahan organiknya rendah lebih banyak dipengaruhi oleh jumlah kandungan dan bentuk senyawa besi (Fe). Di daerah yang mempunyai sistem drainase (serapan air) buruk, warnah tanahnya abu-abu karena ion besi yang terdapat di dalam tanah berbentuk Fe2+.

b.      Tekstur Tanah
Tanah disusun dari butir-butir tanah dengan berbagai ukuran. Bagian butir tanah yang berukuran lebih dari 2 mm disebut bahan kasar tanah seperti kerikil, koral sampai batu. Bagian butir tanah yang berukuran kurang dari 2 mm disebut bahan halus tanah. Bahan halus tanah dibedakan menjadi:
a.    Pasir : butir tanah yang berukuran antara 0,050 mm sampai dengan 2 mm.
b.   Debu : butir tanah yang berukuran antara 0,002 mm sampai dengan 0,050 mm.
c.    Liat : butir tanah yang berukuran kurang dari 0,002 mm.

Tekstur tanah sangat berpengaruh pada proses pemupukan, terutama jika pupuk diberikan lewat tanah. Pemupukan pada tanah bertekstur pasir tentunya berbeda dengan tanah bertekstur lempung atau liat. Tanah bertekstur pasir memerlukan pupuk lebih besar karena unsur hara yang tersedia pada tanah berpasir lebih rendah. Disamping itu aplikasi pemupukannya juga berbeda karena pada tanah berpasir pupuk tidak bisa diberikan sekaligus karena akan segera hilang terbawa air atau menguap.

Hubungan Tekstur Tanah dengan Daya Menahan Air dan Ketersediaan Hara
Tanah bertekstur liat mempunyai luas permukaan yang lebih besar sehingga kemampuan menahan air dan menyediakan unsur hara tinggi. Tanah bertekstur halus lebih aktif dalam reaksi kimia daripada tanah bertekstur kasar. Tanah bertekstur pasir mempunyai luas permukaan yang lebih kecil sehingga sulit menyerap (menahan) air dan unsur hara.

7.      UNSUR HARA DALAM TANAH
7.1. C-Organik
Kandungan bahan organik dalam tanah merupakan salah satu faktor yang berperan dalam menentukan keberhasilan suatu budidaya pertanian. Hal ini dikarenakan bahan organik dapat meningkatkan kesuburan kimia, fisika maupun biologi tanah. Penetapan kandungan bahan organik dilakukan berdasarkan jumlah C-Organik.
Bahan organik tanah sangat menentukan interaksi antara komponen abiotik dan biotik dalam ekosistem tanah. Bahan organik dalam bentuk C-organik di tanah harus dipertahankan tidak kurang dari 2 persen, Agar kandungan bahan organik dalam tanah tidak menurun dengan waktu akibat proses dekomposisi mineralisasi maka sewaktu pengolahan tanah penambahan bahan organik mutlak harus diberikan setiap tahun. Kandungan bahan organik antara lain sangat erat berkaitan dengan KTK (Kapasitas Tukar Kation) dan dapat meningkatkan KTK tanah. Tanpa pemberian bahan organik dapat mengakibatkan degradasi kimia, fisik, dan biologi tanah yang dapat merusak agregat tanah dan menyebabkan terjadinya pemadatan tanah.

7.2. N-Total
Nitrogen merupakan unsur hara makro esensial, menyusun sekitar 1,5 % bobot tanaman dan berfungsi terutama dalam pembentukan protein. Menurut Hardjowigeno (2003) Nitrogen dalam tanah berasal dari :
a.    Bahan Organik Tanah : Bahan organik halus dan bahan organik kasar
b.   Pengikatan oleh mikroorganisme dari N udara
c.    Pupuk
d.   Air Hujan
Sumber N berasal dari atmosfer sebagai sumber primer, dan lainnya berasal dari aktifitas di dalam tanah sebagai sumber sekunder. Fiksasi N secara simbiotik khususnya terdapat pada tanaman jenis leguminoseae sebagai bakteri tertentu. Bahan organik juga membebaskan N dan senyawa lainnya setelah mengalami proses dekomposisi oleh aktifitas jasad renik tanah.
Hilangnya N dari tanah disebabkan karena digunakan oleh tanaman atau mikroorganisme. Kandungan N total umumnya berkisar antara 2000 – 4000 kg/ha pada lapisan 0 – 20 cm tetapi tersedia bagi tanaman hanya kurang 3 % dari jumlah tersebut (Hardjowigeno, 2003). Manfaat dari Nitrogen adalah untuk memacu pertumbuhan tanaman pada fase vegetatif, serta berperan dalam pembentukan klorofil, asam amino, lemak, enzim, dan persenyawaan lain. Nitrogen terdapat di dalam tanah dalam bentuk organik dan anorganik. Bentuk-bentuk organik meliputi NH4, NO3, NO2, N2O dan unsur N. Tanaman menyerap unsur ini terutama dalam bentuk NO3, namun bentuk lain yang juga dapat menyerap adalah NH4, dan urea (CO(N2))2 dalam bentuk NO3. Selanjutnya, dalam siklusnya, nitrogen organik di dalam tanah mengalami mineralisasi sedangkan bahan mineral mengalami imobilisasi. Sebagian N terangkut, sebagian kembali scbagai residu tanaman, hilang ke atmosfer dan kembali lagi, hilang melalui pencucian dan bertambah lagi melalui pemupukan. Ada yang hilang atau bertambah karena pengendapan.
7.3. P-Bray
Unsur Fosfor (P) dalam tanah berasal dari bahan organik, pupuk buatan dan mineral-mineral di dalam tanah. Fosfor paling mudah diserap oleh tanaman pada pH sekitar 6-7 (Hardjowigeno 2003). Di dalam tanah terdapat dua jenis fosfor yaitu fosfor organik dan fosfor anorganik. Bentuk fosfor organik biasanya terdapat banyak di lapisan atas yang lebih kaya akan bahan organik. Kadar P organik dalam bahan organik kurang lebih sama kadarnya dalam tanaman yaitu 0,2 – 0,5 %. Tanah-tanah tua di Indonesia (podsolik dan litosol) umumnya berkadar alami P rendah dan berdaya fiksasi tinggi, sehingga penanaman tanpa memperhatikan suplai P kemungkinan besar akan gagal akibat defisiensi P. Jika kekurangan fosfor, pembelahan sel pada tanaman terhambat dan pertumbuhannya kerdil.

7.4. Kalium (K)
Kalium merupakan unsur hara ketiga setelah nitrogen dan fosfor yang diserap oleh tanaman dalam bentuk ion K+. Muatan positif dari kalium akan membantu menetralisir muatan listrik yang disebabkan oleh muatan negatif nitrat, fosfat, atau unsur lainnya. Ketersediaan kalium dapat dipertukarkan dan dapat diserap tanaman yang tergantung penambahan dari luar, fiksasi oleh tanahnya sendiri dan adanya penambahan dari kaliumnya sendiri. Kalium tanah terbentuk dari pelapukan batuan dan mineral-mineral yang mengandung kalium. Melalui proses dekomposisi bahan tanaman dan jasad renik maka kalium akan larut dan kembali ke tanah. Selanjutnya sebagian besar kalium tanah yang larut akan tercuci atau tererosi dan proses kehilangan ini akan dipercepat lagi oleh serapan tanaman dan jasad renik. Beberapa tipe tanah mempunyai kandungan kalium yang melimpah. Kalium dalam tanah ditemukan dalam mineral-mineral yang terlapuk dan melepaskan ion-ion kalium. Ion-ion adsorpsi pada kation tertukar dan cepat tersedia untuk diserap tanaman. Tanah-tanah organik mengandung sedikit kalium.


7.5. Natrium (Na)
Natrium merupakan unsur penyusun lithosfer ke enam setelah Ca yaitu 2,75% yang berperan penting dalam menentukan karakteristik tanah dan pertumbuhan tanaman terutama di daerah kering dan agak kering yang berdekatan dengan pantai, karena tingginya kadar Na di laut, suatu tanah disebut tanah alkali jika KTK atau muatan negatif koloid-koloidnya dijenuhi oleh ≥ 15% Na, yang mencerminkan unsur ini merupakan komponen dominan dari garam-garam larut yang ada. Pada tanah-tanah ini, mineral sumber utamanya adalah halit (NaCl). Kelompok tanah alkalin ini disebut tanah halomorfik, yang umumnya terbentuk di daerah pesisir pantai iklim kering dan berdrainase buruk. Sebagaimana unsur mikro, Na juga bersifat toksik bagi tanaman jika terdapat dalam tanah dalam jumlah yang sedikit berlebihan.

7.6. Kalsium (Ca)
Kalsium tergolong dalam unsur-unsur mineral essensial sekunder seperti magnesium dan belerang. Ca2+ dalam larutan dapat habis karena diserap tanaman, diambil jasad renik, terikat oleh kompleks adsorpsi tanah, mengendap kembali sebagai endapan-endapan sekunder dan tercuci. Adapun manfaat dari kalsium adalah mengaktifkan pembentukan bulu-bulu akar dan biji serta menguatkan batang dan membantu keberhasilan penyerbukan, membantu pemecahan sel, membantu aktivitas beberapa enzim.

7.7. Magnesium (Mg)
Magnesium merupakan unsur pembentuk klorofil. Seperti halnya dengan beberapa hara lainnya, kekurangan magnesium mengakibatkan perubahan warna yang khas pada daun. Kadang-kadang pengguguran daun sebelum waktunya merupakan akibat dari kekurangan magnesium.

8.      FUNGSI UTAMA TANAH
Terdapat 6 Fungsi utama tanah dalam tata guna lahan, 3 diantaranya adalah merupakan fungsi ekologis, dan 3 yang lain terutama berhubungan dengan aktivitas manusia, seperti teknik, industri dan sosial ekonomi.
Tiga fungsi ekologis tersebut adalah :
1.      Produksi biomassa
2.      Penyaringan, penyangga dan pengubah antara atmosfer, air tanah dan akar tanaman
3.      Habitat biologi dan konservasi gen
Disamping itu, tanah juga mempunyai 3 fungsi lain yaitu :
1.      Sebagai ruang infra-struktur untuk teknik, industri dan sosial ekonomi serta pembangunannnya
2.      Sebagai sumber daya energi, material dasar, pertambangan dan air
3.      Sebagai sumber keindahan dan warisan budaya
9.      PENCEMARAN TANAH
9.1. PENYEBAB PENCEMARAN TANAH
Pencemaran tanah dapat terjadi karena hal-hal di bawah ini, yaitu :
1. Pencemaran tanah secara langsung
Misalnya karena penggunaan pupuk secara berlebihan, pemberian pestisida, dan pembuangan limbah yang tidak dapat diuraikan seperti plastik, kaleng, botol, dan lain-lainnya.
2. Pencemaran tanah melalui air
Air yang mengandung bahan pencemar (polutan) akan mengubah susunan kimia tanah sehingga mengganggu jasad yang hidup di dalam atau di permukaan tanah.
3. Pencemaran tanah melalui udara
Udara yang tercemar akan menurunkan hujan yang mengandung bahan pencemar yang mengakibatkan tanah tercemar juga.
9.2. DAMPAK PENCEMARAN TANAH

9..3. Cara Pencegahan dan Penanggulangan Bahan Pencemar Tanah

Pencegahan dan penanggulangan merupakan dua tindakan yang tidak dapat dipisah-pisahkan dalam arti biasanya kedua tindakan ini dilakukan untuk saling menunjang, apabila tindakan pencegahan sudah tidak dapat dilakukan, maka dilakukan langkah tindakan. Tindakan pencegahan dan tindakan penanggulangan terhadap terjadinya pencemaran dapat dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan macam bahan pencemar yang perlu ditanggulangi.

Langkah pencegahan
Umumnya pencegahan ini pada prinsipnya adalah berusaha untuk tidak menyebabkan terjadinya pencemaran, misalnya mencegah/mengurangi terjadinya bahan pencemar, antara lain:
1)      Sampah organik yang dapat membusuk/diuraikan oleh mikroorganisme antara lain dapat dilakukan dengan mengubur sampah-sampah dalam tanah secara tertutup dan terbuka, kemudian dapat diolah sebagai kompos/pupuk. Untuk mengurangi terciumnya bau busuk dari gas-gas yang timbul pada proses pembusukan, maka penguburan sampah dilakukan secara berlapis-lapis dengan tanah.
2)       Sampah senyawa organik atau senyawa anorganik yang tidak dapat dimusnahkan oleh mikroorganisme dapat dilakukan dengan cara membakar sampah-sampah yang dapat terbakar seperti plastik dan serat baik secara individual maupun dikumpulkan pada suatu tempat yang jauh dari pemukiman, sehingga tidak mencemari udara daerah pemukiman. Sampah yang tidak dapat dibakar dapat digiling/dipotong-potong menjadi partikel-partikel kecil, kemudian dikubur.
3)      Pengolahan terhadap limbah industri yang mengandung logam berat yang akan mencemari tanah, sebelum dibuang ke sungai atau ke tempat pembuangan agar dilakukan proses pemurnian.
4)      Sampah zat radioaktif sebelum dibuang, disimpan dahulu pada sumur­ atau tangki dalam jangka waktu yang cukup lama sampai tidak berbahaya, baru dibuang ke tempat yang jauh dari pemukiman
5)      Penggunaan pupuk, pestisida tidak digunakan secara sembarangan namun sesuai dengan aturan dan tidak sampai berlebihan.
6)      Usahakan membuang dan memakai detergen berupa senyawa organik yang dapat dimusnahkan/diuraikan oleh mikroorganisme.
Langkah penanggulangan
Apabila pencemaran telah terjadi, maka perlu dilakukan penanggulangan terhadap pencemaran tersebut. Tindakan penanggulangan pada prinsipnya mengurangi bahan pencemar tanah atau mengolah bahan pencemar atau mendaur ulang menjadi bahan yang bermanfaat. Langkah tindakan penanggulangan yang dapat dilakukan antara lain dengan cara:
1)      Sampah-sampah organik yang tidak dapat dimusnahkan (berada dalam jumlah cukup banyak) dan mengganggu kesejahteraan hidup serta mencemari tanah, agar diolah atau dilakukan daur ulang menjadi barang­barang lain yang bermanfaat, misal dijadikan bahan bangunan, plastik dan serat dijadikan kesed atau kertas karton didaur ulang menjadi tissu, kaca-kaca di daur ulang menjadi vas kembang, plastik di daur ulang menjadi ember dan masih banyak lagi cara-cara pendaur ulang sampah.
2)      Bekas bahan bangunan (seperti  keramik, batu-batu, pasir, kerikil, batu bata, berangkal) yang dapat menyebabkan tanah menjadi tidak/kurang subur, dikubur dalam sumur secara berlapis-lapis yang dapat berfungsi sebagai resapan dan penyaringan air, sehingga tidak menyebabkan banjir, melainkan tetap berada di tempat sekitar rumah dan tersaring. Resapan air tersebut bahkan bisa masuk ke dalam sumur dan dapat digunakan kembali sebagai air bersih.
3)      Hujan asam yang menyebabkan pH tanah menjadi tidak sesuai lagi untuk tanaman, maka tanah perlu ditambah dengan kapur agar pH asam berkurang.



kimia lingkungan terkait;

         Kimia Air dan Pencemarannya klik




DAFTAR PUSTAKA

Amin. 2009. Macam-macam Tanah. Didownload pada :
               http://x3100.wordpress.com/info/macam-macam-tanah/
Andre. 2009. Sifat Kimia Tanah. Didownload pada :
               http://dasar2ilmutanah.blogspot.com/2007/11/sifat-kimia-tanah.html
Anonym, 2009. Pencemaran Tanah. Didownload pada :
               http://lasonearth.wordpress.com/makalah/makalah-pencemaran-tanah/
Anonym, 2010. Karakteristik Tanah. Didownload pada :
http://yayasanpalung.blogspot.com/2010/09/karakteristik-tanah.html
Anonym, 2010. Sifat Fisika Tanah. Didownload pada :
               http://www.membuatblog.web.id/2010/02/sifat-fisika-tanah.html
Giacinta, Hanna. 2006. Info Tanaman Hias IndonesiaDidownload pada :
               http://www.kebonkembang.com/serba-serbi-rubrik-44/168.html
Hardjowigeno,  S.  2003. Mengevaluasi Status Kesuburan Tanah. Didownload pada : http://acehpedia.org/ mengevaluasi-status-kesuburan-tanah
Hermawati, Henhe. 2009. Pencemaran Tanah. Didownload pada :
               http://st282358.sitekno.com/article/12500/pencemaran-tanah.html
Madjid, Abdul. 2008. Factor-faktor Pembentukan TanahDidownload pada : http://dasar2ilmutanah.blogspot.com/2008/02/faktor-faktor-pembentuk-tanah.html
Pando. 2010. Proses Pembentukan, Faktor, dan Jenis-jenis Tanah. Didownload pada :
http://aditya-pandhu.blogspot.com/2010/03/proses-pembentukan-faktor-dan-jenis.html
Rahmawan, Ardian. 2010. Jenis-jenis Tanah dan Proses Pembentukan Tanah. Didownload pada : http://www.ardianrisqi.com/2010/01/jenis-jenis-tanah-dan-proses.html
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-lingkungan/pencemaran-tanah/cara-pencegahan-dan-penanggulangan-bahan-pencemar-tanah/








0 Response to "Kimia Tanah , Jenis ,Unsur dan Pencemarannnya"

Post a Comment

santun

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel