Wednesday, September 14, 2016

IDENTIFIKASI RHODAMIN B , laporan praktik terbaru




IDENTIFIKASI RHODAMIN B
 
                                                                 


A.    PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1.      Tujuan Praktikum
Untuk mengidentifikasi adanya Rhodamin B pada sampel makanan dan minuman dengan menggunakan metode kromatografi sederhana.
2.      Waktu Praktikum
dd/mm/yy
3.      Tempat Praktikum
 Laboratorium .
B.     LANDASAN TEORI
Zat pewarna adalah bahan tambahan makanan yang dapat memperbaiki atau memberi warna pada makanan. Penambahan pewarna pada makanan dimaksud untuk memperbaiki warna makanan yang berubah atau memucat selama proses pengolahan atau memberi warna pada makanan yang tidak berwarna agar kelihatan lebih menarik. Zat pewarna sintesis yang sering ditambahkan pada jajanan adalah  Rhodamin B  dan Methanyl Yellow, yaitu merupakan zat warna sintetik yang umum digunakan sebagai pewarna tekstil. Kedua zat ini merupakan zat warna tambahan yang dilarang penggunaannya dalam produk-produk pangan. Keduanya bersifat karsinogenik sehingga dalam penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan kanker (Pertiwi, 2013).
Rhodamin B merupakan zat warna sintetik yang umum digunakan sebagai pewarna tekstil yang dilarang penggunaannya pada makanan dan dinyatakan sebagai bahan yang berbahaya menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 722/Menkes/Per/IX/1988 tentang zat warna yang dinyatakan berbahaya dan dilarang di Indonesia (Depkes RI, 1992). Rhodamin B dilarang digunakan dalam produk makanan karena penggunaan rhodamin B dalam waktu lama dan jumlah yang banyak pada manusia dapat menyebabkan gangguan fungsi hati atau kanker hati dengan cara menumpuk dilemak yang lama kelamaan jumlahnya terus bertambah didalam tubuh. Bila mengkonsumsi makanan berwarna yang mengandung rhodamin B, urine akan berwarna merah atau merah muda (Dianti, 2012).
Terasi merupakan bahan utama sambal atau penyedap makanan yang berwarna hitam atau kemerahan dan berbau khas. Terasi banyak dicari oleh para ibu rumah tangga dan dikonsumsi dalam bentuk olahan sambal. Terasi banyak digunakan sebagai bumbu penyedap masakan yang mampu membangkitkan selera makan karena rasa dan aromanya yang khas. Dalam pembuatan terasi, umumnya selalu menambahkan bahan pewarna baik pewarna alam maupun sintetik untuk memperoleh warna terasi yang cerah juga sebagai penambah daya pikat tanpa mengubah rasa terasi. Hasil penelitian Retno Juli Siswantari (2006) menunjukkan sebanyak 50 % terasi bermerek dan 50% terasi tidak bermerek yang beredar di Kabupaten Rembang mengandung Rodamin B. Hasil penelitian lain dilakukan oleh Reny Kurniati (2005) menunjukkan sebanyak 27 % terasi  yang beredar di Bandar Lampung mengandung Rodamin B (Ujiani, 2012).
Rhodamin B adalah pewarna terlarang yang sering ditemukan pada makanan, terutama makanan jajanan.  Rhodamin B, yaitu zat pewarna berupa serbuk kristal berwarna hijau atau ungu kemerahan, tidak berbau, serta mudah larut dalam larutan warna merah terang berfluoresan sebagai bahan pewarna tekstil atau pakaian.  Jenis jajanan yang banyak dijumpai dan dicampuri dengan Rhodamin B, antara lain bubur delima, cendol, kolang-kaling, cincau dan kue-kue lainnya. Setelah dicampuri bahan ini makanan tersebut menjadi berwarna merah muda terang (Paulina, 2011).
Bila mengonsumsi makanan yang mengandung Rhodamin B, dalam tubuh akan terjadi penumpukan lemak, sehingga lama-kelamaan jumlahnya akan terus bertambah. Dampaknya baru akan kelihatan setelah puluhan tahun kemudian. Zat ini tidak layak untuk dikonsumsi, jika sudah masuk dalam tubuh, maka akan mengendap pada jaringan hati dan lemak, tidak dapat dikeluarkan, dalam jangka waktu lama bisa bersifat karsinogenik. Oleh karena itu dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.722/MenKes/Per/IX/88, Rhodamin B merupakan salah satu bahan yang dilarang sebagai bahan tambahan pangan (Astuti, 2010).

C.    ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM
-          Alat-alat Praktikm
a.       Chamber
b.      Erlenmeyer 100 ml
c.       Erlenmeyer 250 ml
d.      Gelas beaker 250 mL
e.       Gelas ukur 10 ml
f.       Gelas ukur 100 ml
g.      Hot plate
h.      Labu takar 100 ml
i.        Mortal + penggerus
j.        Neraca analitik
k.      Pengaduk
l.        Penggaris
m.    Pensil
n.      Pipa kapiler
o.      Pipet tetes
-          Bahan-bahan Praktikum
a.       Aquades
b.      Asam asetat glacial encer
c.       Ethanol 50%
d.      Kertas kromatografi
e.       NaCl
f.       Rhodamin B (bubuk)
g.      Sampel yang akan diuji yakni: pewarna tekstil (wantek), terasi yang berwarna merah.

D.    SKEMA KERJA


E.     HASIL PENGAMATAN

Pembuatan larutan Rhodamin B (sebagai standar)
No
Percobaan
Hasil pengamatan
1
1 gram Rhodamin B ditimbang dan dimasukkan dalam gelas beaker 250 mL
Rhodamin B yang ditimbang berbentuk bubuk halus (serbuk kristal) dengan warna merah keunguan pekat.
2
Rhodamin B dilarutkan dengan penambahan sedikit aquades dan diencerkan dalam labu takar 100 mL.
Bubuk Rhodamin B yang berwarna merah keunguan ini setelah ditambahkan dengan sedikit aquades (± 10mL), serbuk merah keunguan tersebut mulai larut membantuk larutan merah terang yang pekat. Larutan yang dibuat ini sebesar 1% (%w/V)
Persiapan sampel uji
No
Percobaan
Hasil pengamatan
1
Sampel uji dimasukkan dalam gelas beaker 250 mL dan dilarutkan dalam aquades sampai seluruh zat warna larut dalam air
Sampel wantek berbentuk bubuk dengan warna merah tua. Sementara terasi berbentuk padatan dengan warna kecoklatan.
Semua sampel dengan sangat mudah larut dalam air, dimana warna air berubah sesuai dengan warna bahan uji yang akan diuji seperti:
Wantek          : berwarna merah agak  keunguan
Terasi             : berwarna coklat
Pembuatan eluen
No
Percobaan
Hasil pengamatan
1
1 gram NaCl dilarutkan dalam etanol 50%. Dimasukkan chamber dan Dijenuhkan selama ± 30menit
Warna larutan: bening
Proses penjenuhan berlangsung selama 30 menit
Pengujian Rhodamin B dalam smpel uji
No
Percobaan
Hasil pengamatan
1
Larutan Rhodamin B (standar) dan sampel uji ditotolkan pada kertas kromatografi kemudian dimasukkan dalam chamber yang berisi eluen. Kemudian dielusi sampai pelarut merambat sampai tanda batas
-          Sampel terasi tidak mengalami pergerakan ke atas/tidak ada muncul spot. Sedangkan untuk standarnya, muncul spot pada jarak 8,4 cm dari titik awal.
-          Pada Sampel wantex muncul spot pada jarak 8,8 cm dari titik awal. Sedangkan untuk standarnya, muncul spot pada jarak 8,5 cm dari titik awal.







Gambar hasil elusidasi dengan Kromatografi Kertas





F.     ANALISIS DATA



Hasil pengujian rhodamin B

No
Sampel
Hasil uji
1
Terasi
-
2
Wantex
+


G.    PEMBAHASAN
Zat  pewarna  yang digunakan dalam produksi  pangan  dapat berupa zat pewarna alami maupun sintetis/buatan. Zat pewarna alami dapat diperoleh dari pigmen tanaman, misalnya warna hijau yang didapat dari  klorofil  dedaunan hijau dan  warna oranye-merah yang berasal dari karotenoid wortel. Sedangkan zat pewarna sintetis  merupakan zat pewarna yang sengaja dibuat melalui pengolahan industri.  Zat pewarna sintetis biasanya  digunakan karena komposisinya lebih stabil, seperti  Sunset yellow FCF yang memberi warna oranye, Carmoisine  untuk  warna merah, serta Tartrazine untuk  warna kuning.  Pada produk pangan yang perlu dihindari  adalah  penggunaan zat pewarna yang berlebihan, tidak tepat,  dan  penggunaan zat pewarna  berbahaya  yang  tidak diperuntukkan untuk pangan  karena dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan. Salah satu pewarna sintetis yang dilarang  digunakan sebagai bahan tambahan pangan  adalah Rhodamin B.  Rhodamin B merupakan pewarna sintetis berbentuk serbuk kristal, berwarna hijau atau ungu kemerahan, tidak berbau,  dan  dalam larutan akan berwarna merah terang berpendar/berfluorosensi. Rhodamin B merupakan zat warna golongan  xanthenes dyes  yang  digunakan pada industri tekstil dan kertas, sebagai pewarna kain, kosmetika, produk pembersih mulut,  dan sabun.  Nama lain rhodamin B adalah D and C Red no 19. Food Red 15, ADC Rhodamine B, Aizen Rhodamine, dan Brilliant Pink (Maryadele, 2006).
Zat yang sangat dilarang penggunaannya dalam makanan ini berbentuk kristal hijau atau serbuk ungu-kemerah – merahan, sangat larut dalam air yang akan menghasilkan warna merah kebiru-biruan dan berfluorensi kuat. Rhodamin B juga merupakan zat yang larut dalam alkohol, HCl, dan NaOH, selain dalam air. Di dalam laboratorium, zat tersebut digunakan sebagai pereaksi untuk identifikasi Pb, Bi, Co, Au, Mg, dan Th dan titik leburnya pada suhu 165oC. Dalam analisis dengan metode destruksi dan metode spektrofometri, didapat informasi bahwa sifat racun yang terdapat dalam Rhodamin B tidak hanya saja disebabkan oleh senyawa organiknya saja tetapi juga oleh senyawa anorganik yang terdapat dalam Rhodamin B itu sendiri, bahkan jika Rhodamin B terkontaminasi oleh senyawa anorganik lain seperti timbaledan arsen. Dengan terkontaminasinya Rhodamin B dengan kedua unsur tersebut, menjadikan pewarna ini berbahaya jika digunakan dalam makanan (Hamdani, 2013).


                 Struktur Rhodamin B
Pada praktikum ini dilakukan identifikasi Rhodamin B pada wantek atau pewarna tekstil dan terasi dengan menggunakan kromatografi kertas. Kromatografi adalah suatu cara pemisahan dimana komponen-komponen yang akan dipisahkan didistribusikan antara 2 fase, salah satunya yang merupakan fase stasioner (fase diam) dan yang lainnya berupa fase mobil (fase gerak). Fase gerak dialirkan menembus atau sepanjang fase stasioner. Fase diam cenderung menahan komponen campuran, sedangkan fase gerak cenderung menghanyutkannya. Berdasarkan terikatnya suatu komponen pada fase diam dan perbedaan kelarutannya dalam fase gerak, komponen-komponen suatu campuran dapat dipisahkan. komponen yang kurang larut dalam fase gerak atau yang lebih kuat terserap atau terabsorpsi pada fase diam akan tertinggal, sedangkan komponen yang lebih larut atau kurang terserap akan bergerak lebih cepat. Kromatografi kertas biasa di pakai dalam menganalisa senyawa-senyawa kimia yang terkandung dalam simplisia ataupun bahan lainnya. Keuntungan utama kromatografi kertas ialah dari proses kemudahannya dan kesederhanaannya dalam pelaksanaan pemisahan yaitu hanya pada lembaran kertas saring yang berlaku sebagai medium pemisahan dan juga sebagai penyangga. Selain itu keuntungan menggunakan kromatografi kertas ialah keterulangan bilangan Rf yang besar pada kertas sehingga pengukuran Rf dapat menjadi parameter yang berharga dalam memaparkan senyawa tumbuhan baru. Hasil pemisahan dianalisis berdasarkan harga atau nilai faktor retardasi (Rf) pada masing-masing noda, bercak atau spot yang dihasilkan pada pelarut yang sama. Apabila diperoleh jarak noda yang sama dengan sampel standar, berarti sampel yang dianalisis sama dengan sampel standar. Perhitungan niali Rf dilakukan dengan cara membagi jarak yang ditempuh zat terlarut dengan jarak yang ditempuh pelarut.
Percobaan pertama yaitu membuat larutan standar rhodamin B sebagaim pembanding dengan sampel. Selanjutnya sampel terasi dan wantek masing-masing dilarutkan dengan asam asetat glasial encer dengan tujuan untuk mendestruksi senyawa-senyawa yang ada di dalam sampe dan menstabilkan rhodamin B agar tidak berubah dari bentuk terionisasi menjadi bentuk netral. Selanjutnya dilakukan penyiapan eluen sebagai pelarut atau fase gerak. Digunakan NaCl yang dilarutkan dalam etanol. Eluent yang digunakan bersifat lebih polar dari fase diamnya agar sampel yang polar tidak terikat kuat pada fase diamnya. Penggunaan eluent ini disesuaikan dengan sifar polar Rhodami B karena memiliki gugus karboksil dengan pasangan elektron bebas dan gugus amina pada struktur molekulnya. Gugus karboksil dan amina ini akan membentuk ikatan hidrogen intermolekular dengan pelarut polar sehingga mudah larut dalam pelarut polar seperti alkohol Oleh karena itu, digunakan campuran eluen polar agar dapat mengeluasi Rhodamin b dengan baik. Setelah dibuat eluent, maka larutan eluent tersebut dijenuhkan terlebih dahulu. Tujuan penjenuhan adalah untuk memastikan partikel fasa gerak terdistribusi merata pada seluruh bagian chamber sehingga proses pergerakan spot di atas fasa diam oleh fasa gerak berlangsung optimal, dengan kata lain penjenuhan digunakan untuk mengotimalkan naiknya eluent.
Kertas yang sebagai fase gerak sekaligus sebagai media pendukung diberi batas atas dan bawah masing-masing 1 cm. Fungsinya sebagai penanda jarak tempuh eluent. Batas bawah kertas dibuat sedemikian rupa sehingga tidak terendam oleh eluent. Setelah itu, dilakukan penotolan larutan baku dan sampel menggunakan pipa kapiler. Tujuannya yaitu supaya penotolan kecil karena dalam kromatografi kertas, penotolan yang baik diusahakan sekecil mungkin untuk menghindari pelebaran spot dan jika sampel yang digunakan terlalu banyak akan menurunkan resolusi. Pelebaran spot dapat mengganggu nilai Rf karena memungkinkan terjadinya himpitan puncak. Penotolan dilakukan pada garis bawah yang telah dibuat.  Kemudian dibiarkan beberapa saat hingga mengering. Penotolan kertas juga tidak boleh terlalu berdekatan untuk menghindari bergabungnya spot masing-masing larutan dan tidak boleh terlalu pekat untuk menghindari adanya tailing saat spot naik bersama fasa gerak. Selanjutnya, kertas dimasukkan dengan hati-hati ke dalam chamber tertutup yang berisi fasa gerak dengan posisi fasa gerak berada di bawah garis. Kromatografi kertas ini menggunakan metode ascending (naik). Kemudian fase gerak dibairkan naik sampai hampir mendekati batas atas kertas. Fase gerak perlahan-lahan bergerak naik. Meskipun melawan gravitasi, namun eluent bisa naik karena adanya afinitas. Dalam proses naiknya fase gerak, komponen-komponen yang berbeda dari campuran berjalan pada tingkat yang berbeda sesuai dengan kepolarannya. Setelah mencapai jarak tempuh, kertas diangkat dan dibiarkan kering diudara. Tujuannya untuk menguapkan sisa pelarut yang masih terdapat pada plat untuk menjamin penguapan telah sempurna dan agar spot jelas terlihat.
Dari hasil pengamatan terlihat sampel wantek terlihat adanya spot dengan jarak tempuh 8,8 cm, sedangkan pada sampel terasi tidak adanya spot yang terbentuk. Hal ini menunjukkan adanya rhodamin B pada sampel wantek atau pewarna tekstil, namun sangat sedikit karena kemunculan spot yang rendah, sedangkan pada terasi tidak terdapat rhodamin B karena tidak terbentuknya spot. Hal ini mungkin dikrenakan sampel terlalu pekat sehingga mempengaruhi kemampuan pergerekan sampel oleh eluen. Karena sebenarnya kandungan rhodamin B pada wantek tinggi. Kemudian pada sampel terasi tidak terlihatnya noda atau perjalanan rhodamin B di sepanjang lintasan sehingga di dapat nilai Rf yaitu 0. Hal ini berarti terasi itu tidak menggunakan pewarna sintetik rhodamin B. Rf yang didapatkan pada standar untuk wantek sebesar 0.9444 dan Rf pada sampel wantek sebesar 0.9778. Sedangkan Rf pada standar untuk terasi sebesar 0.9333 dan Rf pada sampel terasi 0.
H. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum dan analisa data  yang dilakukan diperoleh hasil yang positif mengandung rhodamin B pada sampel wantek dengan nilai Rf sebesar 0.9778 dan pada sampel terasi diperoleh hasil negatif mengandung rhodamin B yang ditandai dengan tidak munculnya spot, dengan Rf sebesar 0.


DAFTAR PUSTAKA

Astuti, Rahayu, dkk. 2010. Penggunaan Zat Warna “Rhodamin B” pada Terasi berdasarkan Pengetahuan & Sikap Produsen Terasi di Desa Bonang Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang. Semarang: UMS.
Dianti, Ni Wayan, dkk. 2012. Analisis Keberadaan Rhodamin B pada Ikan Cakalang Fufu yang Beredar di Pasaran Kota Manado. Manado: UNSRAT.
Hamdani. 2013. Available online at http://catatankimia.com/catatan/rhodamin-b.html [Diakses tanggal 17-11-14].
O'Neil, Maryadele J. et al, 2006,  The Merck Index,  Merck Sharp & Dohme Corp., a subsidiary of Merck & Co., Inc.
Paulina, V. Y. Yamlean. 2011. Identifikasi dan Penetapan Kadar Rhodamin B pada Jajanan Kue Berwarna Merah Muda yang Beredar di Kota Manado. Manado: UNSRAT.
Pertiwi, Dian, dkk. 2013. Analisis Kandungan Zat Pewarna Sintetik Rhodamin B dan Methanyl Yellow pada Jajanan Anak di SDN Kompleks Mangkura Kota Makassar. Makassar: UNHAS.
Ujiani, Sri dan Pudji Rahayu. 2012. Analisis Risiko Rodamin B dalam Terasi terhadap Kesehatan Masyarakat. Lampung: Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang.





Previous Post
Next Post

0 komentar:

santun