Wednesday, September 14, 2016

IDENTIFIKASI BORAKS laporan praktik terbaru




IDENTIFIKASI BORAKS


A.    PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1.      Tujuan Praktikum
Untuk mempelajari cara mengidentfikasi Boraks pada bahan makanan.
2.      Waktu Praktikum
dd/mm/yy
3.      Tempat Praktikum
 Laboratorium

B.     LANDASAN TEORI
Makanan adalah salah satu dari tiga kebutuhan dasar (basic needs) bagi manusia selain kebutuhan sandang dan papan. Dengan mengonsumsi makanan tubuh manusia akan menghasilkan tenaga atau energi. Energi tersebut diperlukan untuk kelangsungan hidup dan aktivitas manusia. Makanan mengandung senyawa dan unsure tertentu yang diperlukan untuk memberi makanan kepada masing-masing sel tubuh yang tak terhingga banyaknya seperti sel darah, sel syaraf, sel otot yang bersama-sama membentuk tubuh manusia (Astuti, 2009: 1).

         Makanan yang dijajakan sekarang ini tidak terlepas dari zat atau bahan yang mengandung unsur berbahaya dan pengawet yang dalam jumlah banyak menyebabkan kerusakan pada jaringan tubuh. Jika suatu bahan makanan mengandung bahan yang sifatnya berbahaya bagi kesehatan, maka makanan tersebut dikategorikan sebagai bahan makanan yang tidak layak dikonsumsi. Makanan yang tidak layak dikonsumsi misalnya, makanan yang mengandung logam berat (Pb, Cd, Hg, Ra, dsb), mengandung mikroorganisme yang berbahaya bagi tubuh, mengandung bahan pengawet (Boraks, formalin, alkohol, dsb), serta makanan yang mengandung zat pewarna berbahaya (Rhodamin B, Methanyl yellow atau Amaranth) (Effendy, 2004:13).

       Bahan tambahan pangan (BTP) secara umum adalah bahan yang biasanya tidak digunakan sebagai bahan makanan dan biasanya bukan merupakan komponen khas makanan, mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi, yang dengan sengaja ditambahkan ke dalam makanan untuk maksud teknologi pada pembuatan, pengolahan, penyiapan, perlakuan, pengepakan, pengemasan dan penyimpanan. Tujuan penambahan zat tambahan makanan adalah untuk meningkatkan atau mempertahankan nilai gizi dan kualitas daya simpan, membuat bahan pangan lebih mudah dihidangkan serta mempermudah dalam penyiapan bahan pangan(Wisnu, 2006).

       Boraks dilarang digunakan di dalam makanan, karena sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh diantaranya mengakibatkan demam, kerusakan ginjal, kanker, kerusakan hati, bahkan dapat mengakibatkan kematian apabila dikonsumsi dalam jangka panjang. Tetapi masih banyak digunakan dalam beberapa produk makanan seperti mie kuning basah, bakso dan lontong. Pada penelitian ini dilakukan analisis boraks didalam bakso daging sapi A dan B yang dijual di daerah Kenjeran Surabaya. Hasil analisis dengan menggunakan spektrofotometri visibel pada λ 550 nm menunjukkan bahwa kedua bakso tersebut tidak mengandung boraks dan memenuhi Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 722/Menkes/Per/IX/1988. Hasil validasi metode diperoleh LLOD dan LLOQ = 0,009 bpj dan 0,03 bpj, Vx0=2,61%, persen akurasi bakso daging sapi A = 83,14% - 84,17%, KV bakso daging sapi A = 0,24% - 0,57% (Junianto, 2013).

       Keracunan Boraks dapat terjadi melalui makanan, salah satunya adalah bakso sebagai jajanan anak-anak sekolah dasar. Ketertarikan anak-anak sekolah dasar membeli bakso dikarenakan harganya yang murah dan rasanya yang enak, sehingga anak-anak sekolah dasar menyukai makanan ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan boraks pada makanan jajanan bakso di SDN Kompleks Mangkura Makassar. Jenis penelitian yang digunakan adalah Deskriptif Laboratorik dengan pemeriksaan laboratorium secara kualitatif dengan metode nyala api dan kuantitatif dengan metode titrasi asam basa. Populasi adalah Semua Jajanan Bakso yang dijual disekitar SDN Kompleks Mangkura. Sampel diambil secara purposive sampling dari setiap penjual bakso yang ada disekitar SDN Kompleks Mangkura. Hasil percobaan identifikasi senyawa boraks pada sampel bakso dengan metode nyala api, diketahui bahwa sampel bakso A, B dan C yang diuji tidak menghasilkan nyala hijau yang berarti tidak terdeteksi adanya kandungan boraks pada sampel. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa bakso yang dianalisis dengan metode nyala api membuktikan bahwa sampel A, B, dan C yang beredar di SDN Kompleks Mangkura tidak teridentifikasi adanya boraks dan bebas dari kandungan boraks. Tidak dapat dilakukan penelitian kuantitatif untuk mengetahui kadar boraks dari jajanan bakso karena pada penelitian secara kualitatif menghasilkan nilai yang negatif (tidak mengandung boraks) (Sultan,dkk.,2014).

       Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi dan menentukan kadar boraks pada bakso jajanan yang dijual di Kota Manado. Lokasi pengambilan sampel Bunaken, Malalayang, Mapanget, Sario, Singkil, Tikala, Tuminting, Wanea dan Wenang. Setiap lokasi masing-masing ditentukan 2 penjual bakso jajanan. Pengambilan dilakukan sebanyak 3 kali di tiap penjual bakso jajanan sebanyak 20 biji bakso, sehingga total sampel 60 biji bakso dalam sebulan untuk setiap penjual. Sampel diidentifikasi mengunakan metode Uji nyala dan metode Uji warna dengan kertas turmerik. Hasil penelitian percobaan identifikasi boraks dalam sampel bakso dengan reaksi Uji nyala dan Uji warna diketahui bahwa semua sampel bakso yang diuji tidak mengandung bahan pengawet berbahaya, yaitu boraks. Sehingga tidak diadakan penelitian lanjutan dengan Spektrofotometri UV-Vis (Tubagus,dkk.,2013).

          Tahu adalah makanan yang dibuat dari kacang kedelai yang difermentasikan dan diambil sarinya. Penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) dalam proses produksi pangan perlu diwaspadai. Boraks dilarang digunakan dalam BTP karena dapat menyebabkan gangguan otak, hati, dan ginjal, penggunaan dalam jangka waktu panjang dapat menyebabkan kematian. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan ada tidaknya kandungan boraks dalam tahu diproduksi di berbagai tempat di Kota Manado. Sampel tahu yang diteliti adalah sampel A (Bahu), sampel B (Batukota I), sampel C (Batukota II), sampel D (Kleak), sampel E (Pakowa), kemudian kandungan boraks diamati menggunakan metode uji nyala, metode kertas kurkuma, metode kunyit, dan metode Spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelima sampel tahu tidak teridentifikasi adanya boraks baik dengan menggunakan secara uji nyala, kertas kurkuma, kunyit dan Spektrofotometri UV-Vis. Dengan tidak teridentifikasinya boraks pada tahu maka dipastikan kelima sampel tahu produksi lokal ini bebas dari kandungan boraks (Triastuti, dkk, 2013).

      Sifat tahan api urea formaldehyde (UF) papan terbuat dari serat  debu yang  diteliti. Bahan kimia tahan api yang dievaluasi meliputi asam borat (BA) dan boraks (BX) yang digabungkan dengan serat serbuk gergaji untuk memproduksi panel eksperimental. Tiga tingkat konsentrasi, (0,5, 1, dan 5%) dari retardants api dan 10% resin urea formaldehid berdasarkan berat serat kering oven yang digunakan untuk memproduksi panel eksperimental. Sifat fisik dan mekanik termasuk penyerapan air, modulus rupture (MOR), dan modulus elastisitas (MOE) ditentukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyerapan air dan kekuatan lentur menurun sebagai tahan api meningkat. Konsentrasi tertinggi (BA + BX) meningkatkan tahan api lebih dari yang lebih rendah. Pemindaian mikroskop elektron dan FTIR dari panel komposit dipelajari (Nagleb, dkk, 2011).

           Efek dari properti panas-mentransfer nanopartikel perak dievaluasi pada dua kayu padat poplar dan cemara dan dalam kombinasi dengan Borax. Nanosilver dan Borax diterapkan di bejana tekan menggunakan metode Menggosok. Kisaran ukuran nanopartikel perak 20-80 nm. Spesimen dari 150 × 130 × 9 mm disiapkan dan lima api-perlambatan properti diukur menggunakan alat uji api geser yang baru dirancang. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa sebagian besar api penghambat sifat Borax ditingkatkan dalam kombinasi dengan suspensi nanosilver. Beberapa perbaikan, meskipun tidak signifikan dalam kebanyakan kasus, juga diamati pada spesimen yang hanya diresapi dengan nanosilver. Perbedaan signifikan diamati dalam dua species.Fire-perlambatan properti yang terbaik ditingkatkan dengan nanosilver + Borax pembuahan di poplar; Namun, spesimen Borax-diresapi tampaknya memiliki sifat yang optimal di cemara (Rangavar, dkk, 2012).

          Pengaruh zat pengikat silang (boraks) pada interaksi transisi garam logam dengan alkohol polivinil dianalisis dalam bentuk cair dan padat dengan spektroskopi conductometric dan FTIR. Konduktansi spesifik garam logam transisi yaitu, CuSO4.7H2O, NiSO4.6H2O, CuSO4.5H2O dan ZnSO4.7H2O pada temperatur yang berbeda diukur, dalam berair polivinil alkohol, di air etil asetat, dan dalam sistem pelarut campuran berair polivinil alkohol + boraks + etil asetat. Data eksperimen digunakan untuk mengevaluasi interaksi antara garam logam transisi dan sistem pelarut polimer dengan adanya agen silang (boraks) dengan metode conductometric dan analisis FTIR. Diamati bahwa nilai-nilai m   di sistem pelarut campuran yang lebih besar dari pada air polivinil alkohol dan berair etil asetat. Hal itu juga diselidiki melalui data yang conductometric bahwa hubungan transisi garam logam dengan pelarut polimer menguntungkan dengan adanya agen silang. Asosiasi silang kompleks garam logam transisi dengan polivinil alkohol dengan adanya agen silang ditemukan di urutan Co (II)> Cu (II)> Ni (II) ≈ Zn (II) yang selanjutnya dikonfirmasikan oleh Analisis FTIR kompleks melalui teknik pengambilan sampel KBr (Saeed, dkk, 2013).  


C.    ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM

1.      Alat - alat Praktikum
a.       Cawan porselin
b.      Mortar + Penggerus
c.       Penjepit
d.      Pipet tetes
e.       Tanur
f.       Timbangan analitik
g.      Kertas label
h.      Korek api
i.        Pipet volume 2 mL
j.        Rubber bulb

 
2.      Bahan-bahan Praktikum
a.       Aquades
b.      Bakso
c.       H2SO4 pekat
d.      Krupuk
e.       Martabak 
f.       Metanol
g.      Mie Basah


D.    SKEMA KERJA



E.     HASIL PENGAMATAN
-          Standar (boraks)
No
Perlakuan
Hasil pengamatan
1
Boraks ditimbang kemudian ditambahkan H2SO4 pekat dan methanol absolut
Boraks berbentuk bubuk kristal berwarna putih ditimbang sebanyak 5 gram. Kemdian ditambahkan dengan H2SO4 pekat dan methanol absolute sehingga menghasilkan uap.
2
Boraks + H2SO4 pekat + methanol absolut kemudian dibakar
Uap yang dihasilkan dari reaksi ini kemudian dibakar, dimana dihasilkan nyala api berwarna hijau. Ini digunakan sebagai standar pembanding untuk sampel makanan yang di uji.



-          Sampel Uji
No
Perlakuan
Hasil pengamatan
1
Sampel makanan digerus dengan mortar
Semua sampel yang dibawa untuk praktikum ini yakni terdiri dari: martabak, bakso, dan mie basah dan krupuk masing-masing digerus dengan mortar hingga halus
2
Sampel yang sudah halus di masukkan ke oven
Semua sampel yang masing-masing dimasukkan dalam cawan porselin dimasukkan dalam tanur dan di oven sampai membentuk arang. Pada percobaan ini sampel dipanaskan sampai dengan suhu 550oC. Setelah dipanaskan pada masing-masing sampel akan terbentuk arang berwarna hitam kecoklatan.
3
Penambahan H2SO4 pekat dan methanol absolut
Setelah ditambahkan H2SO4 pekat dan methanol pada masing-masing sampel, terbentuk uap.
4
Sampel kemudian dibakar
Uap yang dihasilkan ini kemudian dibakar, pada masing-masing sampel tidak menujukkan adanya perubahan warna yang sama dengan standar (boraks) yang ditunjukkan dengan nyala api yang berwarna orange pada sampel sedangkan nyala api boraks berwarna hijau.

Sampel
Warna nyala
Keterangan
Bakso
Orange kemerahan
Negatif mengandung boraks
Mie basah
Orange kemerahan
Negatif mengandung boraks
Krupuk
Orange kemerahan
Negatif mengandung boraks
Kulit martabak
Orange kemerahan
Negatif mengandung boraks

                                                                           Gambar .



Gambar sampel setelah digerus





Gambar sampel setelah dibakar di tanur
Hasil Uji Nyala sampel makanan dibandingkan dengan hasil uji nyala Boraks (standar)


F.     ANALISIS DATA

Na2B4O7 + H2SO4 + 5 H2O → 4 H3BO3 ↑ + 2 Na+ + SO42-


H3BO3 + 3CH3OH         B(OCH3)3 ↑ + 3H2O

G.    PEMBAHASAN

           Pada praktiukm “identifikasi boraks” ini bertujuan untuk mempelajari cara mengidentfikasi Boraks pada bahan makanan. Pada umumnya bahan makanan mengandung beberapa unsur atau senyawa seperti air, karbohidrat, protein, vitamin, lemak, enzim, pigmen dan lain- lain. Kandungan jenis bahan tersebut bergantung pada sifat alamiah dari bahan makanan tersebut. Adakalanya makanan yang tersedia tidak mempunyai bentuk yang menarik meskipun kandung gizinya tinggi, dengan arti lain kualitas dari suatu produk makanan sangat ditentukan oleh tingkat kesukaan konsumen terhadap makanan tersebut. Kualitas makanan adalah keseluruhan sifat-sifat dari makanan tersebut yang berpengaruh terhadap penerimaan dari konsumen. Atribut kualitas makanan adalah pertama, yaitu sifat indrawi/organoleptik yaitu sifat-sifat yang dapat dinilai dengan panca indra seperti sifat penampakan (bentuk, ukuran, warna), atau rasa (asam, asin, manis, pahit dan flavor) tekstur yaitu sifat yang dinilai dari indra peraba. Kedua, nilai gizi yaitu karbohidrat, protein, vitamin, mineal, lemak dan serat. Ketiga, keamanan makanan yang dikonsumsi yaitu terbebas dari bahan- bahan pencemar atau racun yang bersifat mikrobiologis dan kimiawi (Afrianti, 2005).

Makanan yang dijajakan sekarang ini tidak terlepas dari zat atau bahan yang mengandung unsur berbahaya dan pengawet yang dalam jumlah banyak menyebabkan kerusakan pada jaringan tubuh. Jika suatu bahan makanan mengandung bahan yang sifatnya berbahaya bagi kesehatan, maka makanan tersebut dikategorikan sebagai bahanmakanan yang tidak layak dikonsumsi. Makanan yang tidak layak dikonsumsi misalnya, makanan yang mengandung logam berat (Pb, Cd, Hg, Ra, dsb), mengandung mikroorganisme yang berbahaya bagi tubuh, mengandung bahan pengawet (Boraks, formalin, alkohol, dsb), serta makanan yang mengandung zat pewarna berbahaya (Rhodamin B, Methanyl yellow atau Amaranth) (Effendy, 2004).

Boraks adalah senyawa berbentuk kristal putih tidak berbau dan stabil pada suhu ruangan. Boraks merupakan senyawa kimia dengan nama natrium tetraborat (NaB4O710 H2O). Jika larut dalam air akan menjadi hidroksida dan asam borat (H3BO3). Boraks atau asam boraks biasanya digunakan untuk bahan pembuat deterjen dan antiseptic. Mengkonsumsi makanan yang mengandung boraks tidak berakibat buruk secara langsung, tetapi boraks akan menumpuk sedikit demi sedikit karena diserap dalam tubuh konsumen secara kumulatif. Larangan penggunaan boraks juga diperkuat dengan adanya Permenkes RI No 235/Menkes/VI/1984 tentang bahan tambahan makanan, bahwa Natrium Tetraborate yang lebih dikenal dengan nama Boraks digolongkan dalam bahan tambahan yang dilarang digunakan dalam makanan, tetapi pada kenyatannya masih banyak bentuk penyalahgunaan dari zat tersebut (Subiyakto, 1991).

Praktikum kali ini, akan dilakukan pengujian boraks pada berbagai jenis makanan yang biasanya ditambahkan boraks, yaitu bakso, mie basah, kerupuk, dan martabak manis. Uji yang dilakukan yaitu uji kualitatif, yaitu menggunakan uji nyala. Uji nyala adalah salah satu metode pengujian untuk mengetahui apakah dalam makanan terdapat boraks atau tidak. Disebut uji nyala karena sampel yang digunakan dibakar, kemudian warna nyala dibandingkan dengan warna nyala boraks asli. Serbuk boraks murni dibakar menghasilkan nyala api berwarna hijau. Jika sampel yang dibakar menghasilkan warna hijau maka sampel dinyatakan positif mengandung boraks. Prosedur dilakukan dengan melarutkan senyawa uji dengan metanol dalam wadah (cawan penguap) kemudian dibakar, warna api hijau menunjukkan terdapat senyawa boraks (Roth, 1988).
Langkah pertama yang dilakukan yaitu mempersiapkan boraks standar. Boraks yang berbentuk kristal putih ditambahkan asam sulfat dan etanol lalu dibakar, menghasilkan nyala hijau. Nyala hijau inilah yang akan dibandingkan dengan nyala sampel.

Untuk sampel, langkah pertama yang dilakukan yaitu preparasi sampel. Masing-masing sampel ditimbang dan haluskan menggunakan mortar, tujuan untuk menghomogenkan sampel agar mudah dalam proses pembakaran dalam tanur. Selanjutnya, sampel-sampel tersebut dibakar dalam tanur sampai terbentuk arang dengan suhu 550 oC. Fungsi dari pengarangan ini adalah untuk menghilangkan senyawa-senyawa lain selain Boraks. Selanjutnya dilakukan uji nyala dengan membakar sampel yang sudah menjadi arang. Uji nyala ini dilakukan dengan menambahkan H2SO4 pekat dan methanol. Penambahan H2SO4  ini berfungsi untuk membentuk asam borat, dimana asam borat yang terbentuk akan bereaksi dengan metanol yang ditambahkan yang akan membentuk metilborat B(OCH3)3 atau etil borat B(OC2H5)3 yang akan menunjukkan  warna hijau saat dibakar.

Hasil yang didapatkan bahwa pada semua sampel yang kami uji tidak dihasilkan warna nyala hijau seperti pada Boraks standar.  Semua sampel menghasilkan warna nyala orange kemerahan sehingga dapat dikatakan bahwa semua sampel makanan yang kami uji tidak mengandung Boraks.

H.    KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum identifikasi boraks ini maka dapat diambil kesimpulan bahwa adanya boraks dalam sampel makanan dapat diuji dengan metode uji nyala dan warna. Sampel makanan yang mengandung boraks akan memberikan warna nyala hijau sama seperti boraks standar, namun dari keempat sampel uji seluruhnya negatif mengandung boraks.




DAFTAR PUSTAKA

Astuti, Rini Nafsiati. 2009. Konsep Dasar Kimia. Malang: UIN Malang Press.
Effendy, S. 2004. Penggunaan Bahan Tambahan Makanan. Jakarta: Media Indonesia.
Junianto, Choirul. 2013. Analisis Boraks Pada Bakso Daging Sapi A Dan B Yang Dijual Di Daerah Kenjeran Surabaya Menggunakan Spektrofotometri. Surabaya: Univrsitas Surabaya.
Nagieb, Zenat A., dkk. 2011. Effect of Addition of Boric Acid and Borax on Fire-Retardant andMechanical Properties of Urea Formaldehyde Saw Dust Composites. Cairo: National Research Center.
Rangavar, Hossein, dkk. 2012. Effects of Nanosilver in Improving Fire-Retarding Properties of Borax in Solid Woods. Iran: Shahid Rajaee Teacher Training University.
Saeed, Rehana, dkk. 2013.  Ionic Interaction of Transition Metal Salts with Polyvinyl Alcohol-Borax- Ethyl Acetate Mixtures. Pakistan: University of Karachi.
Sultan, Pramutia.,Dkk.2014. Analisis Kandungan Zat Pengawet Boraks pada  Jajanan Bakso di SDN Kompleks Mangkura Kota Makassar. Makassar : Universitas Hasanuddin Makassar.
Triastuti, Endang, dkk. 2013.  Analisis Boraks Pada Tahu yang Diproduksi di Kota Manado. Manado: Unsrat.
Tubagus, Indra.,Dkk.2013. Identifikasi Dan Penetapan Kadar Boraks Dalam Bakso Jajanan Di Kota Manado.Manado : Unsrat.
Wisnu C. 2006. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara.

Previous Post
Next Post

0 komentar:

santun