PENENTUAN KADAR VITAMIN laporan biokimia

PENENTUAN KADAR VITAMIN laporan biokimia


PENENTUAN KADAR VITAMIN

PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tujuan Praktikum
Menentukan kadar vitamin C (asam askorbat) dalam sampel jeruk buah dan jeruk nipis secara titrasi iodimetri.
Waktu Praktikum
Selasa, 12 April 2016
Tempat Praktikum
Lantai III Laboratorium Kimia Dasar, Fakultas MIPA, Universitas Mataram.

LANDASAN TEORI
          Titrasi redoks merupakan titrasi yang melibatkan oksidator dan reduktor. Jika suatu reagen berperan baik sebagai oksidator atau reduktor, maka reagen tersebut dikatakan mengalami autooksidasi. Adapun titrasi redoks yang menggunakan larutan iodium sebagai pentiter disebut iodimetri, sedangkan titrasi redoks yang menggunakan iodida sebagai pentiter disebut iodimetri. Pada titrasi iodimetri digunakan cara titrasi tidak langsung. Artinya oksidator ditambahkan dengan larutan berlebih berupa larutan kalium iodida dan iodium yang dilepaskan (setara dengan jumlah oksidator) dititrasi dengan larutan baku Na2S2O3 (Khopkar, 2007: 348).
Dalam proses analitis, iod digunakan sebagai zat pengosid (iodimetri), dan ion iodida digunakan sebagai zat pereduksi (iodometri). Relatif beberapa zat merupakan pereaksi reduksi yang cukup kuat untuk dititrasi secara langsung dengan iodium. Maka jumlah penentuan iodometrik adalah sedikit. Akan tetapi banyak pereaksi oksidasi cukup kuat untuk bereaksi sempurna dengan ion iodida, dan ada banyak penggunaan proses iodometrik. Suatu kelebihan ion iodida ditambahkan kepada pereaksi oksidasi yang ditentukan dengan larutan natrium tiosulfat. Iodometri adalah suatu proses analitis tak langsung yang melibatkan iod. Ion iodida berlebih ditambahkan pada suatu zat pengoksid sehingga membebaskan iod, yang kemudian dititrasi dengan natrium tiosulfat (Underwood, 2002 : 294).
Standarisasi larutan Na2S2O3 dengan larutan KIO3 0,1 N dilakukan dengan dipipet 10 ml larutan KIO3 0,1 N, kemudian masukkan ke dalam erlenmeyer. Setelah itu, ditambahkan 5 ml larutan KI 10%, lalu ditambahkan 2 ml larutan H2SO4 dan dititrasi dengan larutan Na2S2O3 sampai berwarna kuning muda. Selanjutnya ditambahkan beberapa tetes larutan amilum 1% lalu dititrasi dengan larutan Na2S2O3 sampai warna biru hilang. Kemudian Penetapan kadar Vitamin C dalam larutan dengan larutan Iodium standar Dipipet 50 ml larutan sampel mangga, lalu dimasukkan kedalam erlenmeyer. Kemudian ditambahkan 6 ml larutan H2SO4 10%, ditambahkan beberapa tetes larutan amilum 1% dan dititrasi dengan larutan I2 standar sampai berwarna biru (Karinda,2013).
Titrasi iod harus dilakukan dengan lambat agar I2 sempurna bereaksi dengan antalgin. Jika titrasi tepat maka I2 tidak tereduksi sempurna antalgin sehingga titik akhir lebih cepat tercapai dan hasilnya tidak akurat. Deteksi titik akhir pada iodimetri ini dilakukan dengan menggunakan indikator kanji atau amilum yang akan memberikan warna biru pada saat terjadinya titik akhir titrasinya (Sudjadi, 2007 : 154).
Mekanisme oksidasi spontan terjadi karena mono anion asam askorbat merupakan sasaran menyerangan oksidasi oleh molekul oksigen menghasilkan radikal anion askorbat dan H2O diikuti pembentukan dehidro-asam askorbat dan hidrogenperoksida. Dehidro-asam askorbat (asam L-dehidroaskorbat) merupakan bentuk oksidasi dari asam L-askorbat yang masih mempunyai keaktifan sebagai vitamin C; namun asam L-dehidro-askorbat bersifat sangat labil dan dapat mengalami perubahan menjadi 2.3-L-diketogulonat (DKG). DKG yang terbentuk  tidak mempunyai keaktifan vitamin C lagi sehingga jika DKG terbentuk akan mengurangi bahkan menghilangkan vitamin C yang ada dalam produk (Rahayu,2012).
Vitamin C atau L-asam askorbat merupakan senyawa bersifat asam dengan rumus empiris C6H8O6 (berat molekul = 176,13). Vitamin C digunakan sebagai antioksidan untuk pembentukan kolagen, penyerapan zat besi, serta membantu memelihara pembuluh kapiler, tulang dan gigi. Kadar vitamin C dalam larutan dapat diukur menggunakan titrasi redoks iodimetri, dengan menggunakan larutan indikator kanji (starch) yaitu dengan menambahkan sedikit demi sedikit larutan iodin (I2) yang diketahui molaritasnya sampai mencapai titik keseimbangan yang ditandai dengan perubahan warna larutan menjadi biru pekat. Dengan diketahuinya molaritas dan volume larutan iodin yang ditambahkan selama titrasi pada larutan bervitamin C, maka kadar vitamin C dalam larutan dapat dicari nilainya (Pratama, 2011).
Vitamin C (asam askorbat) adalah vitamin yang larut dalam air yang dibutuhkan untuk kesehatan gusi dan membantu melindungi tubuh terhadap infeksi dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Kekurangan vitamin C menyebabkan penyakit yang disebut “penyakit kudis”. Meskipun buah jeruk merupakan sumber yang baik dari vitamin C, diyakini bahwa spesies yang berbeda memiliki berbagai tingkat vitamin C. Hasilnya jelas menunjukkan bahwa apel memiliki kandungan vitamin C terendah  (11,44mg/100g), sedangkan jeruk memiliki kandungan tertinggi (54,56mg/100g), diikuti oleh anggur (49,28mg/100g), lemon (44,88mg/100g), jeruk bali (27,28mg/100g), tangerine (26,40mg/100g) dan jeruk nipis (19,36 mg/ 100g). Berbagai jenis tumbuhan dapat mensintesis vitamin C (asam askorbat) dari prekursor karbohidrat termasuk glukosa dan galaktosa. Sayuran dan buah-buahan merupakan sumber yang baik dari vitamin C. Namun, vitamin C dalam sayuran dihancurkan oleh proses memasak (R, 2013).
Asam askorbat terkandung dalam beberapa buah-buahan dan sayur-sayuran yaitu lemon, pisang, nangka, sawo, delima, wortel, buncis, kubis, kembang kol dan kentang. Kandungan asam askorbat dan jumlah kandungan fenolik dari jus buah segar dan sayuran ditentukan dengan metode volumetrik. Kandungan asam askorbat tinggi dalam lemon sedangkan rendah dalam buah pisang (Kumar, 2013).
Perbedaan kandungan vitamin C antar spesies tumbuhan akuatik dapat disebabkan oleh adanya faktor genetis. Biosintesis vitamin C diregulasi oleh adanya gen-gen penyandi enzim yang berperan didalamnya. Tumbuhan-tumbuhan ini mensintesis vitamin C dalam jumlah yang tidak banyak. Asumsinya adalah hanya sedikit karbohidrat yang mampu dimanfaatkan sebagai prekursor dalam sintesis vitamin C, selebihnya dimanfaatkan untuk metabolisme lainnya. Hal ini diduga terjadi pula pada beberapa spesies yang memiliki kandungan vitamin C rendah. Tumbuhan-tumbuhan air tersebut mensintesis vitamin C dalam jumlah sedikit, tetapi sudah cukup dimanfaatkan untuk mempertahankan diri dari tekanan lingkungan (Kurniawan, 2010).

ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM
Alat-alat Praktikum
Alat pemeras jeruk
Aluminium foil
Buret 50 mL
Corong kaca 60 mm
Corong kaca 90 mm
Erlenmeyer 250 mL
Gelas kimia 100 mL
Gelas kimia 250 mL
Gelas ukur 10 mL
Kertas saring
Klem
Labu ukur 100 mL
Pipet gondok 10 mL
Pipet tetes
Pipet volume 2 mL
Pipet volume 5 mL
Pisau
Rubber bulb
Statif
Timbangan analitik

Bahan-bahan Praktikum
Aquades (H2O)(l)
Jeruk buah
Jeruk nipis
Larutan indikator amilum 2%
Larutan asam sulfat (H2SO4) 1 N
Larutan iodine (I2) 0,01 N
Larutan kalium iodida (KI) 10%
Larutan kalium triiodida (KIO3) 0,1 N
Larutan natrium tiosulfat (Na2S2O3) 0,1 N

SKEMA KERJA
Standarisasi Larutan Na2S2O3 dengan Larutan KIO3 0,1 N












  
  
Standarisasi Larutan I2 dengan Larutan Standar Na2S2O3 0,01 N






Penetapan Kadar Vitamin C dalam Larutan dengan Larutan Iodium Standar
Pembuatan Larutan Buah







Titrasi Iodimetri Cara I







  





Titrasi Iodimetri Cara II












HASIL PENGAMATAN  
Tabel Perubahan Fisik

No    Prosedur    Hasil Pengamatan     
1    Standarisasi Larutan Na2S2O3 dengan Larutan KIO3 0,1 N
10 mL larutan KIO3 0,1 N dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan ditimbang  

Larutan awal larutan KIO3 = bening
Massa erlenmeyer kosong = 106,04 gram
Massa erlenmeyer + larutan KIO3 = 116,29 gram
Massa larutan KIO3 = 116,29 gram -106,04 gram = 10,25 gram     
     Ditambahkan 5 mL larutan KI 10%    Warna awal larutan KI = bening
Warna campuran = bening     
     Ditambahkan 10 tetes larutan H2SO4 1 N    Warna awal larutan H2SO4 = bening
Warna campuran = kuning kecoklatan dan terdapat endapan hitam pada dasar erlenmeyer     
     Dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,01 N    Warna awal larutan Na2S2O3 = bening
Pada titik akhir titrasi larutan berwarna kuning muda     
     Ditambahkan beberapa tetes larutan amilum 2%    Warna awal larutan amilum = bening keruh
Warna campuran = biru tua     
     Dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,01 N    Pada titik akhir titrasi larutan berwarna bening     
2    Standarisasi Larutan I2 dengan Larutan Standar Na2S2O3 0,1 N
10 mL larutan I2 dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,1 N
  

Warna awal larutan I2 = kuning kecoklatan
Pada titik akhir titrasi larutan berwarna kuning muda     
     Ditambahkan beberapa tetes larutan amilum 2%    Warna campuran = ungu tua     
     Dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,01 N    Pada titik akhir titrasi larutan berwarna bening     
3    Penentuan Kadar Vitamin C dalam Larutan Iodium Standar
Pembuatan Larutan Buah
Jeruk buah dan jeruk nipis diperas dan ditempatkan pada wadah yang berbeda

10 mL air perasan jeruk buah dan jeruk nipis ditimbang  


Warna air jeruk buah = orange
Warna air jeruk nipis = kuning kehijauan

Untuk jeruk buah
Massa erlenmeyer kosong = 84,07 gram
Massa erlenmeyer + air jeruk buah = 93,27 gram
Massa air jeruk = 93,27 gram - 84,07 gram = 9,2 gram

Untuk jeruk nipis
Massa erlenmeyer kosong = 90,34 gram
Massa erlenmeyer + air jeruk nipis =  99,05 gram
Massa air jeruk = 99,05 gram - 90,34 gram = 8,71 gram     
     Titrasi Iodimetri Cara I
10 mL air jeruk buah dan jeruk nipis diencerkan hingga 100 mL dengan aquades dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer

Ditambahkan 6 mL larutan H2SO4 1 N


Ditambahkan beberapa tetes larutan amilum 2%


Dititrasi dengan larutan I2 standar
  
Warna awal aquades = bening
Warna air jeruk buah dan jeruk nipis setelah diencerkan menjadi lebih pudar dan keruh

Warna campuran baik pada jeruk buah dan jeruk nipis adalah kuning kecoklatan

Warna campuran baik pada jeruk buah dan jeruk nipis tidak mengalami perubahan

Pada titik akhir titrasi warna larutan baik pada jeruk buah dan jeruk nipis adalah biru tua     
     Titrasi Iodimetri Cara II
10 mL air jeruk buah dan jeruk nipis dimasukkan ke dalam erlenmeyer

Ditambahkan 6 mL larutan H2SO4 1 N


Ditambahkan beberapa tetes larutan amilum 2%


Dititrasi dengan larutan I2 standar  
Warna awal air jeruk buah = orange
Warna awal air jeruk nipis = kuning kehijauan

Warna campuran baik pada jeruk buah dan jeruk nipis adalah kuning kecoklatan

Warna campuran baik pada jeruk buah dan jeruk nipis tidak mengalami perubahan

Pada titik akhir titrasi larutan jeruk buah berwarna biru tua
    

Tabel Volume Titrasi

No    Percobaan    Volume     
1    Standarisasi Larutan Na2S2O3 dengan Larutan KIO3 0,1 N    Vtit1 = 10,5  mL
Vtit2 = 9,1 mL
Vtit-tot = Vtit1 + Vtit2
          = 10,5 mL + 9,1 mL
          = 19,6 mL     
2    Standarisasi Larutan I2 dengan Larutan Standar Na2S2O3 0,01 N    Vtit1 = 1 mL
Vtit2 = 1,8 mL
Vtit-tot = Vtit1+Vtit2
          = 1 mL+ 1,8 mL
          = 2,8 mL     
3    Penentuan Kadar Vitamin C dalam Larutan Iodium Standar
Sampel jeruk buah


Sampel jeruk nipis  

Vtit cara I = 0,6 mL
Vtit cara II = 16,4 mL

Vtit cara I = 1,1 mL
Vtit cara II = 8,6 mL    






 ANALISIS DATA
Persamaan Reaksi
Standarisasi Larutan Na2S2O3 dengan Larutan KIO3 0,1 N
Oksidator + KIO3(aq)  I2(aq) + KI(aq)
IO3-(aq) +  5I- (aq) +  6H+(aq)  3I2(aq) + 3H2O(l)
I2(aq) + 2Na2S2O3(aq)  2NaI(aq) + Na2S4O6(aq)
I2(aq) + amilum(aq)  I2-amilum(aq)

Titrasi kembali
I2-amilum(aq) + 2S2O32-(aq)  2I-(aq) + amilum(aq) + S4O6-(aq)

Standarisasi Larutan I2 dengan Larutan Na2S2O3
I2(aq) + Na2S2O3(aq)  2NaI(aq) + Na2S4O6(aq)
I2(aq) + amilum(aq)  I2-amilum(aq)

Titrasi kembali
I2-amilum(aq) + 2S2O32-(aq)  2I-(aq) + amilum(aq) + S4O6-(aq)

Reaksi Vitamin C dengan Iodium
C6H8O6(aq) + I2(aq)  C6H6O6(aq) + 2I-(aq) + 2H+(aq)

Perhitungan
Standarisasi Larutan Na2S2O3 dengan Larutan KIO3 0,1 N
N KIO3        =  ×  × valensi
            =  ×  × 1
            = 4,7897 N
(N × V) Na2S2O3    = (N × V) KIO3
N Na2S2O3         =
                =
                = 2,4437 N

Standarisasi Larutan I2 dengan Larutan Na2S2O3
(N × V) I2    = (N × V) Na2S2O3
N I2        =
            =
            = 0,6842 N

Kadar Vitamin C dalam Jeruk Buah
Cara I
% b/b    =
        =
        =  3,4917× 10-5
        = 0,0034 %
Cara II
% b/b    =
        =
        = 8,8193 × 10-3
        = 0,88193%
Kadar Vitamin C dalam Jeruk Nipis
Cara I
% b/b    =
        =
        =  6,0599× 10-5
        = 0,0060599 %
Cara II
% b/b    =
        =
        = 47,3789 × 10-4
                = 0,473789 %

PEMBAHASAN
Vitamin merupakan suatu senyawa organik yang sangat diperlukan tubuh dalam jumlah kecil tetapi esensial untuk reaksi metabolism dalam sel dan penting untuk melangsungkan pertumbuhan normal serta memelihara kesehatan. Vitamin-vitamin tersebut tidak dapat dibuat oleh tubuh manusia dalam jumlah yang cukup, oleh karena itu harus diperoleh dari bahan pangan yang dikonsumsi. Sebagai perkecualian adalah vitamin D, yang dapat dibuat dalam kulit asalkan kulit mendapat cukup sinar matahari. Vitamin dibagi kedalam dua golongan disebut golongan pertama prakoenzim dan bersifat larut dalam air, tidak disimpan didalam tubuh, tida beracun, diekskresi dalam urine, yang termasuk golongan ini adalah tiamin, riboflavin, asam nikotinat, pridoksin, asam kolat, biotin, vitamin C. Sedangkan golongan kedua yang larut dalam lemak disebut alosterin. Jenis vitamin yang larut dalam air adalah vitamin B kompleks dan vitamin C dan vitamin yang dapat larut dalam lemak adalah vitamin A,D,E dan K, serta provitamin A yaitu β-karoten.
Dalam praktikum kali ini yaitu penentuan kadar vitamin, bertujuan untuk menentukan kadar vitamin C (asam askorbat) dalam sampel jeruk buah dan jeruk nipis secara titrasi iodimetri. Dimana sumber vitamin C  yang digunakan adalah buah jeruk dan jeruk nipis.
Vitamin C atau asam askorbat merupakan vitamin yang paling sederhana, mempunyai berat molekul 176,13 dengan rumus molekul C6H8O6.  Vitamin C dalam bentuk murni merupakan kristal putih, tidak berwarna, tidak berbau dan mencair pada suhu 190-192°C. Senyawa ini bersifat reduktor kuat dan mempunyai rasa asam. Vitamin C sangat mudah larut dalam air (1g dapat larut sempurna dalam 3 ml air), sedikit larut dalam alkohol (1 g larut dalam 50 ml alkohol absolut atau 100 ml gliserin) dan tidak larut dalam benzena, eter, kloroform, minyak dan sejenisnya. Vitamin C tidak stabil dalam bentuk larutan, terutama jika terdapat udara, logam-logam seperti Cu, Fe, dan cahaya. Struktur kimianya terdiri dari rantai 6 atom C dan kedudukannya tidak stabil (C6H8O6), oleh karenanya mudah bereaksi dengan O2 di udara menjadi asam dehidroaskorbat. Vitamin ini merupakan fresh food vitamin karena sumber utamanya adalah buah-buahan dan sayuran segar.
Vitamin C adalah salah satu vitamin (nutrisi) yang sangat diperlukan oleh tubuh serta mempunyai fungsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh (sistem imunitas tubuh). Vitamin C tidak diproduksi oleh tubuh, untuk memperoleh asupan vitamin C yang cukup sebaiknya mengonsumsi beberapa jenis buah seperti buah lemon, buah jeruk, buah kiwi, buah limau, buah jambu biji dan juga buah kelengkeng. Asupan Vitamin C yang cukup terhadap tubuh dipercaya efektif untuk menjaga stamina dan kesehatan tubuh termasuk sistem imunitas, sehingga tidak mudah terserang beberapa jenis penyakit / virus yang salah satunya adalah penyakit flu.Hal ini disebabkan karena Vitamin C merupakan salah satu antioksidan yang aman dan efektif. Vitamin C merupakan jenis vitamin yang mudah larut dalam tubuh, sehingga tubuh akan lebih mudah menyerap Vitamin C dan menyalurkannya kepada seluruh anggota tubuh yang memerlukannya. Jika seseorang kekurangan vitamin C, biasanya dampak yang akan muncul adalah sariawan, gusi berdarah, nyeri otot bahkan dapat menyebabkan gangguan syaraf.
Penetapan kadar vitamin C ini dilakukan dengan metode titrasi iodimetri. Titrasi iodimetri adalah salah satu metode titrasi yang didasarkan pada reaksi oksidasi reduksi. Iodimetri merupakan titrasi terhadap zat-zat reduktor yang dilakukan secara langsung. Titrasi iodimetri adalah titrasi redoks dengan I2 (iodine) sebagai pentiternya. Titrasi iodimetri ini dapat dilakukan untuk menentukan kadar zat-zat oksidator secara langsung, seperti kadar yang terdapat dalam serbuk vitamin C. Titrasi iodimetri merupakan metode penentuan atau penetapan secara kuantitatif yang didasarkan pada jumlah I2 yang bereaksi dengan sampel atau terbentuk dari hasil reaksi antara sampel dengan ion iodide. Titrasi-titrasi redoks berdasarkan pada perpindahan electron antara titran dengan analit. Jenis titrasi ini biasanya menggunakan potensiometri untuk mendeteksi titik akhir. Istilah oksidasi mengacu pada setiap perubahan kimia dimana terjadi kenaikan bilangan oksidasi, sedangkan reduksi digunakan untuk setiap penurunan bilangan oksidasi. Berarti proses oksidasi disertai hilangnya electron sedangkan reduksi memperoleh electron. Oksidator adalah senyawa dimana atom yang terkandung mengalami penurunan bilangan oksidasi. Sebaliknya pada reduktor, atom yang terkandung mengalami kenaikan bilangan oksidasi. Oksidasi-reuksi harus selalu berlangsung bersama dan saling menkompensasi satu sama lain. Istilah oksidator reduktor mengacu kepada suatu senyawa, tidak kepada atomnya saja. Dalam metode analisis ini, sampel dioksidasikan oleh I2, sehingga I2 tereduksi menjadi ion iodida :
A (Reduktor) + I2  A (Teroksidasi) + 2 I
Praktikum ini diawali dengan standarisasi larutan Na2S2O3 dengan larutan KIO3, dimana KIO3 0,1 N ditambahkan dengan larutan KI 10% dengan H2SO4 1 N kemudian dititrasi dengan menggunakan Na2S2O3 0,1 N. Penggunaan KIO3 bertujuan untuk mengoksidasi iodida menjadi iod secara kuantitatif dalam larutan asam, sedangkan penambahan H2SO4 adalah untuk memberikan suasana asam dikarenakan titrasi hanya dapat dilakuka pada pH asam. Untuk penambahan KI 10% bertujuan untuk membentuk Ion tri-iodida (I3-). Kegunaan Na2S2O3 dalam titrasi adalah sebagai agen pereduksi, dengan persamaan reaksi sebagai berikut :
Na2S2O32- → S4O62- +   2e-
Voleme titrasi pertama yang dibutuhkan sampai larutan berwarna kuning muda adalah sebanyak 10,5 mL. Setelah dititrasi sampai berwarna kuning muda kemudian larutan ditambahkan beberapa tetes indikator amilum 2%. Penambahan amilum dilakukan saat mendekati titik akhir titrasi agar amilum tidak membungkus iod yang menyebabkan amilum sukar dititrasi untuk kembali ke senyawa semula. Penggunaan indikator ini untuk memperjelas perubahan warna larutan yang terjadi pada saat titik akhir titrasi. Titrasi harus dilakukan sesegera mungkin karena sifat I2 yang mudah menguap. Saat ditambahkan amilum larutan berubah menjadi berwarna biru tua. Larutan lalu dititrasi kembali hingga warna biru tepat hilang. Volume titrasi yang yang dibutuhkan sebanyak 9,1 mL. Fungsi dari pembakuan natrium tiosulfat oleh KIO3 adalah untuk mengetahui normalitas dari natrium tiosulfat. Dari hasil perhitungan diperoleh normalitas dari Na2S2O3 sebesar 2,4437 N.
Selanjutnya pada percobaan kedua yaitu standarisasi larutan I2. Larutan iodium diambil 10 mL kemudian dititrasi dengan natrium tiosulfat. Warna awal larutan I2 adalah kuning kecoklatan kemudian setelah dititrasi larutan menjadi berwarna kuning muda. Volume titrasi yang dibutuhkan sebanyak 1 mL. Kemudian ditambahkan beberapa tetes indikator amilum 2%, setelah ditambahkan amilum larutan menjadi berwarna ungu tua. Lalu dititrasi kembali hingga larutan tepat berwarna biru. Hasil warna biru tua tersebut merupakan kompleks warna amilum-I2, hal ini disebabkan karena di dalam pati terdapat unit-unit glukosa membentuk rantai heliks oleh adanya ikatan konfigurasi pada tiap unit glukosanya. Bentuk ini menyebabkan pati dapat membentuk kompleks dengan molekul iodium yang dapat masuk ke dalam spiralnya sehingga menyebabkan warna biru tua pada kompleksnya. Dari hasil pengamatan volume titrasi kedua yang diperlukan sebanyak 1,8 mL. Warna larutan yang terbentuk merupakan suatu kompleks berwarna biru tua yang akan terlihat pada konsentarasi-konsentrasi iod yang sangat rendah. Dari hasil pembakuan diperoleh normalitas I2 sebesar  0,6842 N. Reaksinya sebagai berikut :
I2 +  2Na2S2O3 → 2NaI  +  Na2S4O6
Pada percobaan ketiga yaitu penetapan kadar vitamin C, dimana jeruk buah dan jeruk nipis diperas sehingga didapatkan air dari kedua jeruk tersebut dan diletakkan ditempat yang berbeda. Kemudian dilakukan titrasi iodimetri dengan dua cara, pada acara yang pertama 10 mL air jeruk diencerkan dengan aquades hingga volume 100 mL, warna air jeruk buah dan jeruk nipis setelah diencerkan menjadi lebih pudar dan keruh. kemudian diambil 10 mL dari hasil larutan jeruk tersebut dan ditambahkan dengan asam sulfat, warna campuran baik pada jeruk buah dan jeruk nipis adalah kuning kecoklatan. Tujuan penambahan asam ini adalah untuk memberikan suasana asam dikarena larutan vitamin C yang telah diencerkan dengan aquades, kadar keasamannya akan menurun, sehingga harus ditambahkan dengan larutan asam agar vitamin C selalu berada dalam keadaan asam, sebab jika tidak dalam keadaan asam maka hasil titrasi tidak akan maksimal. Kemudian larutan-larutan vitamin C tersebut ditambahkan indikator amilum 2%, warna larutan tidak berubah. Tujuan penambahan indikator amilum ini untuk memperjelas perubahan warna larutan yang terjadi pada saat titik akhir titras. Kemudian larutan vitamin C dititrasi secara perlahan-lahan dengan larutan I2 standar. Setelah titik akhir titrasi telah tercapai maka didapatkanlah hasil larutan yang berwarna biru tua.. Dimana warna yang didapatkan ini sesuai dengan teori yaitu seharusnya pada saat titik akhir titrasi akan terbentuk kompleks iod-amilum berwarna biru tua. Pada cara 1 diperoleh volume titrasi untuk buah jeruk sebanyak 0,6 mL dan jeruk nipis sebanyak 1,1 mL dan kadar vitamin C untuk jeruk buah adalah 0,0034% dan untuk jeruk nipis 0,0060599 %. Sedangkan dengan cara 2 dilakukan perlakuan yang sama hanya saja tanpa pengenceran dengan aquades terlebih dahulu pada sampel. Diperoleh volume titrasi untuk buah jeruk sebanyak 16,4 mL dan jeruk nipis sebanyak 8,6 mL dan kadar vitamin C untuk jeruk buah adalah 0,88193% dan untuk jeruk nipis 0,47389%.
Perbedaan kadar pada vitamin C pada kedua jenis jeruk tersebut dapat dilihat dari hasil perhitungannya, dimana pada cara 1 kadar yang dihasilkan pada kedua jeruk tersebut lebih sedikit dibandingkan dengan cara kedua, hal ini disebabkan karena pada cara 1 ditambahkan aquades dimana salah satu sifat dari vitamin C adalah larut didalam air sehingga ketika dilakukan pengenceran atau penambahan aquades maka vitamin C tersebut akan larut sehingga kadarnya akan berkurang. Sedangkan pada cara 2 tanpa pengenceran artinya tidak ada penambahan aquades sehingga kadar dari vitamin C tersebut tidak berkurang.

KESIMPULAN
Berdasarkan serangkaian percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa penetapan kadar vitamin C dapat dilakukan dengan menggunakan metode titrasi redoks yaitu titrasi iodimetri dimana penetapannya berdasarkan jumlah I2 (iodium) yang bereaksi dengan sampel atau terbentuk dari hasil reaksi antara sampel dengan ion iodida (I). Titrasi iodimetri yang dilakukan ada dua cara yaitu cara pertama dengan pengenceran terlebih dahulu dan cara 2 tanpa pengenceran terlebih dahulu. Pada cara 1 diperoleh kadar vitamin C untuk jeruk buah adalah 0,0034% dan untuk jeruk nipis 0,0060599 % sedangkan dengan cara 2 diperoleh kadar vitamin C untuk jeruk buah adalah 0,88193% dan untuk jeruk nipis 0,47389%. Perbedaan kadar vitamin C tersebut disebabkan karena pada cara 1 ditambahkan dengan aquades dimana vitamin C akan larut di dalam air, sehingga kadar vitamin C lebih sedikit dibandingkan dengan kadar vitamin C pad acara 2 tanpa penambahan aquades.





DAFTAR PUSTAKA
Karinda, Monalisa, dkk. 2013. Perbandingan Hasil Penetapan Kadar Vitamin C Mangga Dodol dengan Menggunakan Metode Spektrofotometri UV-Vis dan Iodometri. Manado: Universitas Sam Ratulangi.
Khopkar, S. M. 2007. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Kumar, G. Vasanth, dkk. 2013. Determination of Vitamin C in Some Fruits and Vegetables in Davanagere City, (Karanataka) – India. India : Yuvaraja’s College, University of Mysore.
Kurniawan, Madha, dkk. 2010. Kandungan Klorofil, Karotenoid, dan Vitamin C pada Beberapa Spesies Tumbuhan Akuatik. Semarang : Universitas Diponegoro.
Pratama, Anggi, dkk. 2011. Aplikasi LabView sebagai Pengukur Kadar Vitamin C dalam Larutan Menggunakan Metode Titrasi Iodimetri. Semarang : Universitas Diponegoro.
Rahayu, Enni Suwarsi dan Putik Pribadi. 2012 .  Kadar Vitamin dan Mineral dalam Buah Segar dan Manisan Basah Karika Dieng (Carica pubescens Lenne & K. Koch). Semarang : Universitas Negeri Semarang.
R,  Ezeigbo O, dkk. 2013. Determination of Relative Levels of Vitamin C in Different Citrus Fruits Cultivated in Nigeria. Nigeria : Abia State Polytechnic.
Sudjadi, 2007. Kimia Farmasi Analis. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Underwood, A.L, and Day R.A. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta : Erlangga.




0 Response to "PENENTUAN KADAR VITAMIN laporan biokimia"

Post a Comment

santun

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel